Sintang – Plt. Kepala Kantor Kemenag Kab. Sintang, H. Anuar Akhmad, S. Ag, pada Rabu (13/07/2017) mengikuti acara Dialog Kerukunan Umat Beragama, di AULA MTsN Sintang

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kab. Sintang ini dihadiri oleh para tokoh lintas agama, MUI, Kemenag Kabupaten/Kota, Tokoh Pemuda Lintas Agama.

Adapun yang menjadi Narasumber pada kegiatan tersebut yaitu Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Kalimntan Barat Drs. H. Syahrul Yadi, M. Si, dari Kodim 1205/ABW Infanteri Syafendi, S. Ag, dari Polres Sintang Kompol Yudy Amri dan dari Kesbang Linmas Leni Marlina, S. Sos, M. Si

Isu konflik maupun perpecahan antar pemeluk agama akhir-akhir ini mencuat ke permukaan. Cepatnya penyebaran berita-berita hoax ikut menyulut keadaan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan potensi konflik dan perpecahan bisa terjadi, antara lain:

1. Perbedaan yang ada salah dipahami dan salah disikapi, dan tidak dilihat dan ditanggapi secara positif serta tidak dikelola dengan baik dalam konteks kemajemukan.

2. Fanatisme yang salah. Penganut agama tertentu menganggap hanya agamanyalah yang paling benar, mau menang sendiri, tidak mau menghargai, mengakui dan menerima keberadaan serta kebenaran agama dan umat beragama yang lain.

3. Umat beragama yang fanatik (secara negatif) dan yang terlibat dalam konflik ataupun yang menciptakan konflik adalah orang-orang yang pada dasarnya:

  • kurang memahami makna dan fungsi agama pada umumnya,
  • kurang memahami dan menghidupi agamanya secara lengkap, benar, mendalam,
  • kurang matang imannya dan takwanya,
  • kurang memahami dan menghargai agama lain serta umat beragama lain,
  • kurang memahami dan menghargai hakekat dan martabat manusia,
  • kurang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang universal, terutama hati nurani dan cinta kasih,
  • kurang memahami dan menghidupi wawasan kebangsaan dan kemasyarakatan yang khas Indonesia, yakni kerukunan, toleransi dan persatuan dalam kemajemukan, baik pada tingkat nasional maupun lokal.

Oleh sebab itu permasalahan yang timbul, ataupun yang dikhawatirkan akan timbul, dapat diatasi atau dicegah dengan upaya peningkatan pemahaman dan implementasi yang memadai dari kekurangan-kekurangan tersebut, terutama peningkatan kualitas iman dan takwa, hati nurani dan cinta kasih. Hal ini dapat dilaksanakan dengan:

1. Mengembangkan Dialog atau komunikasi timbal balik, yang dilandaskan pada kesadaran akan:

  • adanya kesamaan maupun perbedaan yang tak dapat diingkari dan disingkirkan, sesuai hakekat atau harkat dan martabat manusia,
  • adanya kesamaan nilai-nilai serta permasalahan dan kebutuhan yang universal, yang berkaitan dengan kemanusiaan, seperti kebenaran, keadilan, HAM, persaudaraan dan cinta kasih,
  • adanya fakta kehidupan bersama dalam kemajemukan serta hubungan dan ketergantungan satu sama lain,
  • mutlak perlunya kerukunan dan damai sejahtera, persatuan dan kerjasama dengan prinsip keadilan, saling menguntungkan, saling menghargai, saling terbuka dan saling percaya.

2. Mengevaluasi dan memperbaiki sistem dan bobot pendidikan dan pembinaan, baik yang khas keagamaan maupun yang bukan khas atau yang bersifat umum, untuk menambah pengetahuan, mematangkan iman, meningkatkan moral dan spiritual, memantapkan kepribadian.

3. Mencermati, mengevaluasi dan membaharui doktrin dan praktek-praktek keagamaan yang terlalu atau bahkan hanya formal dan ritualistik belaka agar lebih fungsional atau berdaya-guna secara tepat dan efektif bagi pemantapan kwalitas diri dan kehidupan penganutnya pada khususnya maupun masyarakat pada umumnya.

Mengembangkan hidup bersama, kegiatan bersama dan kerjasama secara proporsional yang dilandaskan pada kesadaran akan kebutuhan dan ketergantungan satu sama lain sebagai konsekuensi hidup bersama serta kesamaan martabat dan hak sebagai manusia.

Oleh sebab itu, perlu orang-orang yang menunjukkan diri sebagai manusia beriman (dan beragama) dengan taat, namun berwawasan terbuka, toleran, rukun dengan mereka yang berbeda agama. Disinilah letak salah satu peran umat beragama dalam rangka hubungan antar umat beragama, yaitu mampu beriman dengan setia dan sungguh-sungguh, sekaligus tidak menunjukkan fanatik agama dan fanatisme keagamaan.

Perbedaan merupakan anugerah Tuhan yang tidak untuk saling berbenturan dan bermusuhan, tetapi sebaliknya menjadi rahmat untuk membangun tatanan kehidupan yang maju, adil, makmur, dan bermartabat. Kini sebenarnya sikap toleran antar maupun intra umat beragama relatif lebih baik. Berbagai forum termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di berbagai lingkungan tumbuh dan berfungsi untuk membangun kerukunan.

Ketika toleransi telah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat, maka akan memiliki kekuatan yang lebih kokoh ketimbang model toleransi yang terlalu dirancang-bangun oleh para tokoh atau negara yang lebih bersifat politik atau elitis, karena sifatnya lebih alamiah dan melekat dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari masyarakat. (akil Sintang)

Berita: