BENGKAYANG_ Senin (17/9/2018) Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (Balitbang) Semarang menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Aula Hotel Lala Golden Bengkayang Lantai 1. Pada FGD kali ini mengusung tema Pendidikan Damai Melalui Pendidikan Agama di Sekolah. Tema yang diangkat diambil dari penelitian yang dilakukan oleh tim Balitbang Semarang yang beranggotakan Nugroho Eko Atmanto, Wahab, Joko Tri Haryanto, Samidi dan Aji Sofanudin. Adapun tempat penelitiannya adalah di Sekolah-sekolah terpilih yang ada di Pontianak, Bengkayang dan Sambas. Yang hadir pada kegiatan ini adalah guru-guru agama yang sekolahnya menjadi tempat penelitian dan tokoh agama.

Kegiatan FGD ini dibuka langsung oleh Prof. Koeswinarno selaku Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang. Menurut Prof. Koeswinarno pada secara tematik, penelitian ini khususnya di Kalimantan barat mengkaji  pendidikan damai melalui pendidikan agama pada SMA di daerah pasca konflik. “Penelitian ini bermaksud untuk memotret mengenai pendidikan budaya damai yang diajarkan melalui pendidikan agama  di SMA-SMA di Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan di beberapa SMA  di Kota Pontianak, Kab. Bengkayang, dan Kab. Sambas,” ujar Koeswinarno.

Pada kesempatan ini peneliti yang diwakili oleh Nugroho Eko Atmanto memaparkan hasil penelitian yang telah diringkas dalam tampilan Ms. Power Point.  Nugroho menyampaikan pentingnya budaya damai yang disampaikan dalam pendidikan agama. Nugroho juga menyampaikan pendidikan memegang peranan yang cukup strategis dalam penanaman nilai perdamaian karena pendidikan (Sekolah ) merupakan miniatur masyarakat yang akan menyiapkan fungsi sosial  dari peserta didik.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkayang, H. Sy. Machmud, S.H pada forum ini juga berkesempatan menyampaikan materi. Adapun materi yang disampaikan adalah membudayakan pendidikan damai di Sekolah. H. Sy. Mahmud menjelaskan bahwa pendidikan damai bukan hanya tanggung jawab guru agama saja, melainkan seluruh tenaga pendidik dan juga peran serta orang tua siswa. Namun peran tenaga pendidik untuk membudayakan damai mempunyai porsi yang lebih besar. Lebih jauh H. Sy. Machmud menjelasakan pendidikan budaya damai bias dilaksanakan dengan  cara  pada beberapa atau semua mata pelajaran yang ada, dapat pula dijadikan mata pelajaran tersendiri.

Setelah narasumber menyampaikan materi dilanjutkan dengan diskusi disertai tanya jawab yang dilakukan oleh peserta FGD, dan ditanggapi dan dijawab langsung oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkayang, H. Sy. Machmud, S.H dan Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang Prof. Koeswinarno serta peneliti Balitbang Semarang. (Akhzari)

Berita: