Mempawah. Selasa (3/4/2018), Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mempawah H. Kamaludin menyerahkan sertifikat arah Kiblat kepada Ta'mir Surau Al-ijtihad komplek perumahan Primadaya Kecamatan Anjongan dan Ta'mir Surau Nurul Jannah Desa Penibung Kecamatan Mempawah Hilir. Dalam acara penyerahan sertifikat tersebut mendampingi Kankemenag turut hadir Plt. Penyelenggara Syariah Kementerian Agama Kabupaten Mempawah Mulyadi, S.Pd.I., Ketua surau Al-Ijtihad Muhammad Soleh, Ketua Surau Nurul Jannah Sudarmo. Pelaksannaan pengukuran arah Kiblat kedua tersebut di lakukan beberapa waktu yg lalu oleh tim pengukuran arah Kiblat Sumadi, S.H.I.

Pada kesempatan itu, H. Kamaludin menyampaikan Posisi Masjid pada umumnya akan dijadikan pedoman oleh para Jamaah untuk Shalat di rumahnya masing-masing jika melakukan Shalat Sunah atau bagi Keluarga yang tidak memungkinkan Shalat Berjamaah di Masjid. Apabila yang dipedomani adalah Masjid yang arah Kiblatnya keliru, maka dapat dipastikan arah Kiblat yang di rumah-rumah masyarakat pun ikut keliru. Penentuan arah Kiblat dengan menggunakan kecanggihan alat-alat modern, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Dalam Islam, penggunaan alat modern (kompas) untuk tujuan tersebut diperbolehkan karena memberikan hasil kesimpulan yang sama nilainya dengan Ijtihad, yakni sama-sama menghasilkan kesimpulan yang bersifat Zhanni.

Hal ini menyinggung penggunaan kompas (Bait Al-ibrah) yang dinilai canggih dan modern sebagai sarana penunjuk arah Kiblat. "Bahwa alat-alat semacam GPS, Theodolit dan Google Earth boleh dan sah dijadikan sebagai sarana bantu mencari arah Kiblat," ujarnya, berawal dari latar belakang inilah Kementerian Agama Kabupaten Mempawah melalui Penyelenggara Syariah merasa perlu untuk melakukan pengukuran atau kalibrasi arah Kiblat. Hal ini pun semata-mata sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap aspek peribadatan umat islam memahami dan menyadari bahwa cakrawala Fiqih Islam teramat luas. Diakuinya, banyak Ijtihad-ijtihad Fiqhiyah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, termasuk yang berhubungan dengan Kiblat. 

"Oleh sebab itu, status data-data yang dihasilkan dari metode dan peralatan yang kami jadikan instrumen pengukuran modern mesti dipahami sebagai bentuk upaya Ijtihadiyah yang bersifat Zhanni, yang tentunya sejajar deng an ijtihad-ijtihad ulama terdahulu dalam menentukan arah Kiblat," ujarnya.(Sirad/Mpw)

Berita: