SAMBAS-Kendala yang sering dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam adalah data, baik itu data lembaga maupun santri yang terintegrasi dalam EMIS. Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Kabupaten Sambas, Senin (4/4) di Aula Kantor Kemenag Kab. Sambas.

Selain sebagai ajang silaturrahmi, kegiatan rakor ini tujuan utamanya adalah untuk menyeragamkan data lembaga pendidika Islam,ungkap Ketua Panitia Zulkarnain, SE dalam laporan kegiatannya.

Lebih lanjut Zulkarnain yang juga Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD dan Pontren) Kantor Kemenag Kab. Sambas menyampaikan bahwa dari beberapa kali pertemuan antar Kasi PD dan Pontren Kabupaten/Kota di Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Kalimantan Barat masih ada perbedaan dalam tataran pemahaman maupun proses belajar mengajar.

Yang perlu dicermati oleh guru agama Islam disini adalah bagaimana mereka dapat mendirikan Madrasah Diniyah. Hal ini untuk menunjang pendidikan agama Islam,hemat Sipni,S.Pd.I, M.Pd dalam mewakili Kepala Kantor di acara pembukaan. Sipni dalam sambutannya juga menyampaikan keberadaan MAN IC di Sambas diharapkan dapat menjadikan Kabupaten Sambas kembali menjadi ikon Islam di Kalimantan Barat.Sampai saat ini sudah 130 siswa yang mendaftar di MAN IC Sambas,tambahnya.

Peserta kegiatan Rakor ini terdiri dari lima orang Pimpinan Pondok Pesantren dan lima orang dari Madrasah Diniyah. Adapun Materi yang dibahas dalam Rakor kali ini adalah Kondisi terkini Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah di Kab. Sambas yang disampaikan oleh Kasi PD dan Pontren Kankemenag Kab. Sambas, kemudian dilanjutkan dengan materi Penyusunan Program Madrasah Diniyah yang akan disampaikan oleh Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kab. Sambas. (rdn).