Senin, 15 Juli 2019, 10:07 fatkhur

Saat melepas para CJH yang berasal dari Kecamatan Parindu pada Jumat sore (12/07) Kepala KUA Kecamatan  Parindu HM  Hasbi menyampaikan mauidzoh hasanahnya. Salah satu makna terbesar yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji adalah tentang persatuan dan kesatuan umat. Dalam ibadah haji semua jama’ah harus berganti pakaian ikhrom.  Karena pakaian seringkali  melambangkan status, level, strata, tingkatan, jabatan, pangkat dan derajat.

M Hasbi meyampaikan bahwa pakaian menciptakan "batas" palsu, dinding penyekat yang  menyebabkan "perpecahan" di antara manusia. Selanjutnya dari perpecahan itu, dari rasa beda baju, beda status, beda golongan,  timbul konsep "aku", bukan "kami atau kita", sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku, bangsaku. Padahal Penonjolan "keakuan" adalah perilaku orang musyrik yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala., Alloh berfirman :

"Janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah agama mereka dan mereka menjadi beberapa partai. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka" (QS. Ar-Ruum 31-32)

 

Para jama’ah haji mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kapan pembungkus mayat yang terdiri dari dua helei kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, menteri atau tukang patri, bupati atau kuli, camat, pejabat atau rakyat, yang terhormat dan orang kebanyakan, yang berasal dari Timur dan yang berasal dari Barat, mereka memakai pakaian yang sama, berangkat pada waktu dan tempat yang sama dan akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama pula. Mereka beraktifitas dengan aktivitas yang sama dan menggunakan kalimat yang sama.

Labbaikallohumma labbaik, labbaikalaa syariikalaka labbaik, inalhamda, wani’mata lakawalmulk laa syarikalak…

"Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, akau penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuatan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."

 

Akhirnya M Hasbi mendoakan agar semua hadirin suatu saat nanti bisa menjadi tamu-tamu Alloh di tanah suci