Indonesia mempunyai banyak titik wilayah perbatasan. Sebagaian besar wilayah perbatasan di Indonesia masih merupakan daerah tertinggal dengan sarana dan prasarana serta ekonomi yang masih terbatas. Minimnya berbagai hal tersebut diatas ditunjang dengan minimnya pembinaan keagamaan di beberapa wilayah tersebut.

Terdapat beberapa Pulau dan Provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Negara Malaysia, Provinsi Papua yang berbatasan dengan Negara Papua Nugini, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Negara Timor Leste. Selain itu terdapat juga wilayah laut dan pulau di indonesia seperti Batam yang berbatasan dengan Singapura dan pulau-pulau kecil lainnya.

Melihat hal ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia merekrut beberapa pemuda dan pemudi bangsa untuk melakukan pembinaan di wilayah perbatasan melalui Program Bina Kawasan (Bina Insentif Pembinaan Agama dan Keagamaan Islam di Wilayah Perbatasan).

Ini merupakan program yang baru pertama kali diluncurkan. Dari 300an jumlah pelamar terpilih 50 pemuda-pemudi yang merupakan lulusan pondok pesantren di Indonesia. Beberapa rangkaian tes telah dilakukan diantaranya Tes Administrasi dan dua kali wawancara. Syarat lainnya mereka harus berstatus single / belum menikah.

Para pemuda dan pemudi tersebut telah disebarkan dibeberapa pulau seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Khusus Kalimantan Barat terdapat 4 orang putri dan 1 orang putra yang diberi tugas untuk melakukan pembinaan. Diantaranya, Anjar Munawaroh Lokasi tugas SMP Budi Utama Kab.Bengkayang, Arimaya Sholokhah lokasi tugas SMK Swasta Muhammadiyah Kab. Sintang, Asroriyatul Fikriyah Lokasi tugas SMA Swasta Sambas, M.Jumali Lokasi tugas SMPN 3 Boyan Tanjung Kab.Kapuas Hulu dan Nabilaltul Fitriyah Lokasi tugas SD Muhammadiyah 1 kab. Ketapang.

Kelima Pemuda-Pemudi ini kemudian melakukan silaturahmi dengan Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Drs. H. Ridwasnyah, M,Si. Dengan didampingi oleh Kepala Seksi PAI pada Pendidikan Menengah, Dra. Nurul Wahidah, mereka di terima langsung oleh Kakanwil diruang kerjanya.

Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan hal-hal yang telah mereka lakukan selama bertugas. Walau baru bertugas selama 6 bulan yaitu mulai tanggal 12 Desember 2017, mereka merasa senang atas tugas yang mereka emban. Dibanding duka, malah banyak sukanya. Waktu tugas mereka tidak lama, hanya satu tahun. Karena itu, mereka akan melakukan tugas mereka semaksimal mungkin dengan waktu yang sebentar itu.

Kakanwil merasa senang dengan kunjungan dan silaturahmi ini. Beliau mengatakan bahwa tugas tersebut merupakan pengalaman berharga manakala diberi kesempatan untuk mengabdi di masyarakat.

Lebih lanjut Ridwasnyah kemudian mengingatkan agar mereka bisa bergaul dengan baik dengan masyarakat setempat baik itu Tokoh Masyarat, Tokoh Agama dan penduduk setempat. “Perubahan itu penting, tapi jangan sampai berbenturan karena kita sebagai pendatang harus bisa memahami suasana di masyarakat setempat. Dimana bumi dipijak, disitu langi dijunjung”, ujar Ridwansyah.

Sebelum menutup pertemuan, Ridwansyah kemudian berharap agar mereka yang diberi tugas ini dapat memaksimalkan peran di masyarakat. “Bersama-sama tidak ada yang sulit. Dengan kita bersinergi dengan masyarakat maka bisa menyelesaikan masalah. Jadikan diri kita sebagai solusi,” pesan Ridwasnyah. “Mari bangun masyarakat sembari kita membangun diri dan jati diri,” tutup Ridwasnyah. (wns_inmas)

Berita: