Suatu hari Imam Ghazali yang bergelar Hujjatul Islam bertanya kepada murid-muridnya, “Wahai murid-muridku, apakah yang paling dekat dengan kalian?”, oleh muridnya dikatakan bahwa yang paling dekat adalah orang tua kami, saudara-saudara kami, orang-orang yang kami cintai dan mereka mencintai kami, Imam Ghazali membenarkan jawaban para muridnya namun memberikan penegasan bahwa sesungguhnya yang paling dekat dengan kalian dan kita semua adalah kematian.

Kematian atau maut adalah sebagian dari rahasia Allah SWT, karenanya tidak ada satu makhlukpun yang tahu kapan ia akan meninggalkan dunia ini, yang harus diyakini adalah bahwa ia akan menemui makhluknya. Kematian sesungguhnya adalah ujian untuk melihat kualitas manusia, yang dimaksud adalah ujian bagi yang hidup. Bahkan dalam QS. 67: 2 disebutkan bahwa kematian dan kehidupan adalah soal ujian yang diberikan Allah SWT untuk melihat siapa yang ahsanu ‘amalan (paling baik amalnya). Hal ini dipertgas lagi dalam QS. 62:8 dinyatakan, “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Firman Allah SWT tentang hal yang serupa juga dapat ditemukan dalam QS. 31: 34.

Namun kepada manusia pilihan-Nya Ia berikan isyarat dan tanda-tanda, kepastian sepenuhnya milik Allah SWT. Misterinya kematian ini yang tidak tahu kapan tiba datangnya dan ini hendaknya  mengajak kita pada pemahaman bahwa ia sesungguhnya amat dekat dengan kehidupan kita. Bukan jaminan seorang yang sudah kelihatan sepuh, tua dan berjalan tertatih-tatih akan segera menemui ajalnya dan demikian juga tidak ada garansi jika yang segar bugar, muda dan energik akan jauh dari kematian. Betapa banyak orang yang dalam kondisi di atas atau malah sebaliknya kematian masih jauh dan dekat dengan mereka.

Secara bijak dapat dikemukakan bahwa bukanlah absensi kematian kita yang kita tunggu, bukan di wilayah mana kita menemui ajal tetapi bekal apa yang harus kita siapkan kala ia  menghampiri kita. Ternyata absensi kematian yang ada di sisi Allah SWT bukanlah sebagaimana absensi dunia seperti halnya di sekolah, berdasarkan nomor dan abjad, tetapi berdasarkan maunya Allah SWT, bisa dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari tengah, kelompok laki-perempuan, zig-zag dan sebagainya. Satu harapan kita adalah wafatnya mudah-mudahan dalam keadaan husnul khatimah.

Inilah yang menjadi dialog antara Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, saat melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan.” Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, “Saudara sekalian. Ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah SWT.” Dalam konteks tulisan ini, dua di antara sepuluh hal dimaksud adalah kita meyakini dan mengaku bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya dan kita  sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kita akan mengalami hal yang serupa.

Ketahuilah, kematian itu sesungguhnya dekat, kata Sayyidina ‘Ali KW, setiap hembusan nafas dan hentakan langkah kaki kita hakikatnya adalah hembusan dan hentakan menuju kematian. Jika demikian halnya umur yang bertambah yang secara logika menambah keberadaan kita di dunia adalah sesungguhnya semakin mengurangi jatah hidup kita di dunia, jika ditentukan umur kita diwafatkan Allah SWT pada 60 tahun, saat ini usia kita 45 tahun, secara matematis jatah hidup kita tinggal 15 tahun, tahun depan tinggal 14 tahun, tahun depannya lagi sisa 13 tahun. Tetapi, kematian adalah misteri. Karenanya sebagai perenungan, umur yang terus berkurang adalah peringatan kematian kita namun ironisnya pada hari ketika umur berkurang, banyak yang tidak sedih karenanya tapi apabila uang berkurang, sebagian bersedih. Uang hilang masih bisa dicari, umur hilang kemana hendak diganti. ***

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.