Oleh Sholihin H. Z.

Bertemunya seorang laki-laki dan perempuan yang diikat oleh tali perkawinan pasti mendambakan lahirnya generasi penerus. Berbagai harapan dan asa menjadi keinginan suami-isteri untuk mendapatkan keturunan. Lahirnya seorang anak merupakan perwujudan dari cinta kasih keduanya, ia merupakan perekat dan sekaligus pengikat kedua orang tuanya. Kala lahir seorang anak, harapan tidak berhenti sampai disini, namapun diberikan sebagai harapan sehingga berbagai nama yang diberikan hakikatnya adalah keinginan dari orang tua tersebut.

Bagi keluarga muda, kehadiran seorang anak memperkokoh keberadaan seorang ayah dan ibu. Kehadirannya membuat suasana riuh namun gembira, aktifitasnya menjadi perhatian, bahkan saat tidurpun kelihatan uniknya. Namun dengan seiring bertambahnya usia anak-anak kita, makan akan semakin luas orang-orang yang dikenalnya, semakin jauh perjalanannya dan kemudian mereka memasuki dunianya sendiri. Tetapi yakinlah bahwa keluarga (orang tua) yang peduli dengan anak-anaknya maka kepedulian itu akan kembali padanya, meskipun anak-anak sudah dengan aktifitas kesehariannya, bahwa nilai-nilai kepedulian yang diajarkan kepada mereka dulunya berpengaruh terhadap cara pandangnya pada keluarga, ini karena mereka dulu berarti dan memiliki nilai.

Virginia Satir –seorang therapist di Amerika Serikat- (dikutip Wirzal Taufiq, 2016: 250) bahwa ada empat kebutuhan dasar emosional manusia yaitu ingin disejajarkan, ingin ditatap (perhatikan), ingin didengarkan dan disentuh (dipeluk). Yang pertama adalah disejajarkan, tidak ada satupun orang yang ingin direndahkan dan diremehkan oleh orang lain. Bahkan orang yang meremehkan orang lain masuk dalam kategori sombong sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW.

Memandang sejajar pada orang lain sesungguhnya adalah salah satu etika kebaikan yang perlu diajarkan pada anak-anak sejak usia dini. Bukankah orang-orang berilmu dulunya manakala diminta pendapat tentang satu hal mereka mengatakan padaku bisa terdapat kebenaran tapi juga dapat mengandung kesalahan dan pendapat orang bisa saja ada kesalahan yang sebenarnya ada nilai kebenaran di dalamnya. Ketika anak-anak kita merasa sejajar dengan lainnya, secara tidak langsung kita telah mengajarkan kesamaan sebagai manusia yang saling melengkapi dan itu akan memunculkan persepsi dan imej positif bahwa berartinya seseorang karena adanya orang lain. Dalam konteks kehidupan rumah tangga (keluarga) maka ini sama juga mengajarkan bahwa anak berarti karena suasana edukatif dari keluarga yang peduli.

Kebutuhan dasar lainnya bagi seorang manusia adalah keinginan untuk ditatap. Ditatap dalam arti untuk dihargai, diakui, apatah lagi memang ia benar-benar seorang yang memang pantas mendapatkan pengakuan itu. Dalam konsep Maslow Hierarchy, keinginan untuk mewujudkan aktualisasi diri, dengan pengenalan dan pengakuannya ditempatkan pada urutan paling utama dan tertinggi. Ini menunjukkan bahwa self actualization atau kebutuhan aktualisasi diri menjadi faktor penting untuk menunjukkan ke-ada-annya.

Muhammad Ainun Najib atau yang dikenal dengan Cak Nun (Emha) membagi jenis manusia kepada tiga jenis yaitu manusia wajib, manusia sunnah dan manusia haram (Prayogi R. Saputra, 2012:120).  Manusia wajib adalah manusia yang keberadaannya harus ada di tengah-tengah masyarakat. Keberadaannya sungguh berarti, kepergiannya mengganjilkan dan kedatangannya menggenapkan. Sementara itu ada juga manusia dengan klasifikasi manusia sunnah. Tipe manusia ini adalah manusia yang lebih baik ada di masyarakat namun jika tidak ada juga tidak apa-apa. Dalam konteks ini, keberadaannya akan menambah ghirah dan semangat untuk terus beraktifitas, namun jika tidak ada, sekelilingnya masih mampu untuk berbuat dan beraktifitas. Sedangkan manusia haram adalah manusia yang berkarakter negatif, keberadaannya di tengah-tengah masyarakat justru menjadi sumber masalah. Ketiadaannya adalah sebuah anugerah.

Menganggap setiap orang perlu untuk dihargai, mulai dari institusi paling kecil yakni keluarga adalah sebuah sikap yang mengajarkan bahwa setiap orang adalah penting dan berarti. Bukankah ketika anak dibiasakan dengan diberikan penghargaan hakikatnya kita mengajarkan padanya untuk percaya diri dengan potensi yang dimilikinya.

Berikutnya adalah kebutuhan untuk didengarkan. Berdasarkan filosofi panca indera manusia, kita dilengkapi dua telinga dan satu mulut. Bermakna kemauan untuk mendengarkan hendaknya lebih daripada kemauan untuk bicara. Meskipun sebenarnya kedua instrumen ini harus dapat ditempatkan sebagaimana semestinya. Ungkapan mulutmu adalah harimaumu menunjukkan dahsyatnya indera yang satu ini. Secara psikologis, orang yang telah menyampaikan apa yang menjadi keluhannya –terlepas kepada siapapun- maka sudah sedikit persoalan yang dialaminya dapat dikeluarkan meskipun dalam suasana yang pilu dan menyedihkan. Disinilah sebenarnya menunjukkan kekuatan doa (Power of Prayer). Keluhan dan aduan yang disampaikan lewat doa adalah sebuah media untuk mengurangi hentakan nafas keluhan dari seorang yang memang perlu untuk didengarkan keluhannya.

Keluarga yang peduli dengan keluhan sang anak, yang peduli dengan segala ronta dan ajakan simpatinya adalah keluarga yang secara langsung membuat anak berarti dan merasa penting di tengah keluarganya.

Terakhir adalah kebutuhan untuk disentuh atau dipeluk. Hasrat ini sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak, jujur oleh siapapun memerlukan sentuhan sebagai bentuk penguatan akan keberadaannya. Seorang yang sedang terbaring di rumah sakit kemudian mendapatkan telepon dari saudaranya dan menanyakan keadaannya akan kurang memberikan “rasa” dibanding keluarganya yang datang langsung menjenguk, ikut menyaksikan dan seakan merasakan penderitaan yang dialaminya. Sehingga disebutkan bahwa kehadiran sejenak lebih berarti dari banyak surat-surat yang disampaikan.

Anak-anak adalah manusia yang didik untuk lebih dewasa, berbagai penguatan perlu untuk diberikan kepada mereka, adanya dorongan, reward dan sentuhan fisiologis menjadi penting. Keluarga yang sadar melakukan dan memberikan sentuhan-sentuhan ini akan membawa efek positif bagi tumbuh-kembang anak dan ini menunjukkan bahwa anak berarti karena adanya keluarga yang peduli. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.