Anak adalah penerus orang tua, anak adalah harapan orang tua, anak adalah representasi orang tua, anak adalah generasi masa depan. Ringkasnya, anak adalah orang dewasa yang akan memimpin dan mengelola negeri ini untuk 10 tahun, 20 tahun yang akan datang.

Berangkat dari kesepahaman ini, bahwa anak adalah aset yang harus dipelihara, dipupuk, dibina dan disiapkan untuk masa depannya. Benar dan baiknya cara mendidik saat ini akan menghasilkan pribadi-pribadi yang berkarakter positif, yang semangat untuk maju dan inovatif, yang tahu dengan keadaan bangsanya, yang bangga menjadi Indonesia dan sederet nilai positif lainnya. Namun demikian juga sebaliknya jika tidak serius menanganinya, sembarangan menentukan kurikulum dan silabinya, anak dididik dengan didikan yang miskin karakter, dibina dengan lingkungan yang tidak edukatif, jika demikian halnya maka dapat diyakinkan akan muncul generasi yang easy going, miskin karakter, dan tidak menghargai orang lain.

Dalam kaitannya dengan ini, dikenal  adanya tiga tipe anak yang berhubungan dengan interaksi baik pada orang tua maupun masyarakat yang lebih luas.

Pertama, anak sebagai musuh. Pada posisi ini, keadaan anak jauh dari harapan dan keinginan orang tua bahkan masyarakatnya. Ia menjadi lawan bagi orang tuanya, apa yang menjadi keinginan baik orang tuanya selalu bertentangan dengan si anak. Jika anak telah menjadi musuh orang tuanya, maka dapat dipastikan sebagian kebahagiaan keluarga telang hilang. Termasuk kategori ini adalah apabila ada anak yang menjerumuskan orang tuanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Untuk anak yang demikian, kita mohon dijauhkan namun tiada putus mendoakan.

Kedua, anak sebagai ujian. Hidup hakikatnya adalah melewati berbagai cobaan dan ujian, istilah ini tidak hanya diartikan secara negatif atau yang tidak menyenangkan manusia. Kelebihan harta dan banyak anak yang sehat-sehat, pangkat dan jabatan prestisius sesungguhnya adalah cobaan dan ujian. Cobaan ini diberikan untuk melihat sejauh mana kualitas seseorang apakah menjadi sadar dan syukur atau ingkar dan kufur. Salah satu cobaan yang diberikan adalah adanya anak. Anak yang nakal, susah di atur, agak menyusahkan orang tua adalah salah satu posisi anak sebagai cobaan. Cobaan atau ujian untuk selanjutnya dapat menaikkan derajat orang tua jika ia bersabar namun dapat menurunkan martabat orang tua jika ia tidak bisa mengendalikannya. Sebagai ujian, memahami karakter dan sikap anak menjadi hal yang penting terlebih saat mereka mulai mengenal dunia yang lebih luas lagi.

Ketiga, anak sebagai cahaya mata. Ini adalah harapan orang tua dan masyarakat. Tidak hanya saat kecil, hingga dewasa sekalipun ia sebagai anak yang paham dengan kondisi orang tua, ada anak yang tahu menempatkan posisi orang tua dihadapannya. Anak dengan tipe ini pasti menjadi dambaan orang tua dan keluarga.

Bagaimana kita selayaknya menempatkan diri sebagai orang tua? Orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi setiap anak, sebelum ia mengenal pendidikan formal dan di luar rumah, maka orang tua adalah educator yang mengenalkan pertama kali tentang segala sesuatunya, makan dengan tangan kanan, membiasakan cium tangan saat salam, mengajarkan bertegur sapa dan sebagainya. Selanjutnya memberikan keteladanan pada sang anak saat ia mulai mengikuti apa yang dilakukan anggota keluarganya. Masuk rumah dengan mengucapkan salam, membiasakan rendah suara saat berbicara dengan orang yang dituakan, mengenalkan ajaran agama dan lainnya adalah ajaran dan ajakan kebaikan yang penting untuk disampaikan kepada anak.

Dalam kajian ilmu sosial, adalah istilah homo mimesis. Homo Mimesis bermakna  bahwa di antara karakter manusia adalah ia senang meniru segala sesuatu meskipun dengan memodifikasi sebelumnya dan ini sebagai bagian dari proses mengembangkan diri manusia. Orang tua, guru, teman, apa yang ditontonnya dan didengarnya adalah menjadi media keteladanan yang dalam satu waktu dan kondisi akan ia tiru dan wujudkan serta tidak menutup kemungkinan sebagai bagian dari sikap kesehariannya.

Selain itu sebagai orang yang beragama, maka mendoakan anak adalah sebuah keharusan sebagaimana keinginan orang tua dan keluarga. Doa adalah harapan, doa adalah sebuah keinginan dan doa adalah sebuah permohonan. Sebagai sebuah keinginan tentu yang didoakan adalah untuk kebaikan. Demikian juga kala orang tua mendoakan anaknya, ini dalam rangkaian untuk kebaikan si anak, hanya kapan dikabulkan itu menjadi rahasia Sang Sumber Doa.

Anak adalah titipan Ilahi, yang sewaktu-waktu titipan akan diambil dan yang dititipkan akan ditanya sejauh mana ia memberdayakan barang titipan tersebut.*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.