Banyak sekali ibu-ibu yang menyampaikan kepada saya bahwa anak-anak mereka sekarang berbeda dengan anak-anak mereka yang lahir di era 80-an. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang bertanya bagaimana cara agar anak-anak mereka peduli dengan panggilan mereka.

Lho, memang apa masalahnya ? Ternyata banyak di antara ibu-ibu rumah tangga tersebut yang merasa tersaingi bahkan merasa dinomorduakan oleh anak-anak mereka. Lalu siapa yang membuat mereka merasa menjadi yang nomor 2 ? iya, ternyata posisi pertama itu di duduki oleh hp atau androidnya anak-anak mereka.

Kok bisa ? iya, ternyata bisa. Android itu seolah tidak bisa berjauhan dari tangan anak-anak mereka, sedangkan ibu dan ayah diabaikan. Ketika android memanggil atau berbunyi, anak-anak mereka terburu-buru mencari android tapi ketika ibu dan ayah yang memanggil, mereka justru pura-pura tidak mendengar atau cuek saja dengan panggilan tersebut atau jika datang pun, ia bermalas-malasan dan dengan raut tidak senang seolah orang tua mengganggu keasyikan mereka.

Bahkan, tidak hanya orang tua yang si kutu android ini nomorduakan. Ketika suara azan sholat jum’at memanggil pun, terkadang merereka abaikan. Mereka datang ke masjid pas detik-detik khutbah jum’at akan selesai.

Separah inikah pengaruh android ? Iya, bahkan bisa lebih parah dari pada itu. Berapa banyak anak-anak yang terkontaminasi seks bebas padahal masih di usia SD maupun SMP. Zaman sekarang, untuk melihat adegan mesum itu tidak perlu keluar rumah, cukup punya kuota dan klik. Jangankan untuk melihat paha mulus, isi celana dalam saja mudah anak-anak kita temukan di android mereka. Cukup punya kuota internet dan klik.

Banyak ibu-ibu rumah tangga mengeluhkan bahwa anak-anak mereka sangat betah di dalam kamar mereka berjam-jam. Pulang sekolah, mereka masuk kamar dan tidak keluar-keluar kecuali setelah berjam-jam. Tidur ? Bukan, bukan tidur para pembaca. Anak-anak itu “bermesra” dengan android mereka. Bahkan ada di antara ibu-ibu yang heran karena anak-anak mereka ada yang tidak mau ayah dan ibu mereka meminjam atau melihat isi android mereka.

Wow ? Berlebihan kah tulisan ini ? Tidak para pembaca sekalian. Ini adalah keluhan ibu-ibu majelis taklim maupun ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah saya. Keluhan ibu yang merasa perubahan besar telah terjadi pada anak-anak mereka sejak mereka mengenal dunia android. Si kutu buku, kini telah bermutasi menjadi si kutu android, begitu kira-kira.

Ketika buku tak selezat sepotong coklat, maka berikanlah sebuah alasan untuk terus menikmatinya, meskipun engkau enggan menelannya. Duhai para orang tua, meski di android itu nyaris lengkap isinya, namun ingatlah bahwa anak-anak tetap perlu bermesra dengan buku-buku, meski pun itu hanya buku pelajaran yang ada di sekolah.

Dampingi anak-anak kita bersama androidnya. Artinya, jangan biarkan anak-anak kita bebas bermesra bersama androidnya. Sekali-sekala, lihatlah apa saja yang ada di android tersebut atau pantaulah perubahan perilakunya. Jangan sampai kita terlambat melihat perubahan tersebut. Jangan sampai anak-anak kita lebih memerlukan androidnya dibanding kedua orang tuanya.

Duhai orang tua, ingatlah bahwa anak-anak adalah tanggung jawab orang tua untuk menjaga dan mendidiknya. Dan kita sebagai orang tua akan ditanya tentang tanggung jawab tersebut. Semoga Allah menjaga keluarga kita semua dari pengaruh buruk android dan semoga Allah senantiasa memberikan petunjukNya kepada kita semua. Aamiin

Penulis Opini: 
Herlin : Penyuluh Kementerian Agama Kota Singkawang