Oleh

Sholihin H. Z.

Oplet, istilah untuk angkutan kota (angkot) di Kota Pontianak dan sekitarnya ini sangat akrab ditelinga kita. Bukan jumlahnya yang semakin berkurang, bukan tarifnya yang beragam tetapi isinya yang menjadi bahasan tulisan ini. Ada penumpang (passenger) dan supir (driver).

Ternyata dua variabel ini (penumpang dan supir) memiliki tafsiran yang mendalam dan penuh makna. Hingga sebagai sebuah bangsa, pembicaraan tentang penumpang dan supir ini sangat urgen untuk dibicarakan, tentu yang terakhir ini berkaitan dengan mental bangsa, ada bangsa yang bermental penumpang dan ada bangsa yang bermental supir.

Orang atau sekelompok orang yang bermental penumpang (passenger mentality) adalah mereka yang tidak mau ambil resiko, tidak akan penuh dimintai pertanggungjawabannya, sepanjang aman apapun dapat dilakukan oleh mereka yang bermentalkan penumpang ini. Anda tinggal duduk sambil ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas dengan segala aturannya dan tak perlu merawat kendaraan. Posisi sebagai passengertidak menuntut skill dan kompetensi tertentu, oleh karenanya posisi ini cenderung aman, meskipun demikian kondisi ini sejatinya tidak sehat untuk sebuah kemajuan, ia bukan sebagai decision maker(pengambil keputusan), mental semacam ini siap untuk diarahkan, apalagi jika diiming-imingi untuk sesuatu yang tentatif sifatnya.

Apa jadinya jika sebuah bangsa bermentalkan penumpang, tidak mau tahu dengan urusan sekelilingnya, tidak mau memaksimalkan potensi fikir dan nilai manfaat yang ada padanya, kondisi lebih parah jika penumpangnya tidak ada niat untuk mencapai tujuan yang lebih besar sebagaimana tujuan berdiri bangsa ini dan jika dengan kondisi ini membuatnya nyaman, cukuplah ia seperti itu, akhirnya yang mengendalikannya adalah mereka yang bermentalkan supir (driver mentality). Menurut Rhenald Kasali, founderRumah Perubahan, drivermenentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil resiko.

Driverlah yang mengarahkan dan memegang kendali, ialah orang yang tahu dimana berhenti, jalan mana yang boleh dilewati, mana jalan yang satu arah, tempat pemberhentian dan sebagainya. Rute-rute yang dilewati driveradalah untuk mengantarkan penumpangnya menuju tempat tujuan dengan melewati berbagai resiko. Seorang driveradalah seorang yang siap menanggung resiko, resiko bisa ban bocor, bisa keteledoran atau kelalaian yang berdampak kecelakaan, siap dengan berbagai aturan-aturan di jalanan. Tidak pernah kita temukan seorang yang tewas karena ditabrak mobil lantas penumpangnya yang bertanggungjawab. Posisi driveradalah posisi pengambil keputusan dengan sedikit mempertimbangkan pendapat dan saran dari penumpangnya, tetapi keputusan akhir tetap pada drivernya.

Jika kita mengambil makna dalam pelaksanaan sholat berjamaah, maka dipastikan ada imam dan ada makmum. Siapapun boleh menjadi makmum, laki-perempuan, anak-dewasa, sehat atau sakit dan dalam kondisi apapun tidak ada batasan menjadi makmum. Tapi manakala bicara tentang imam maka selektifitas menjadi sebuah keharusan, artinya tidak sembarangan menjadi imam, baik bacaannya, baik tutur katanya, berilmu dan sebagainya.

Gambaran di atas menunjukkan untuk tema tulisan ini, siapapun dapat menjadi passengertapi tidak semua boleh menjadi driver, dua kondisi ini jelas sangat berbeda dan memiliki konsekuensi masing-masing.

Sungguh jaya dan terhormat jika sebuah bangsa bermentalkan seperti ini (driver mentality), mampu memprakarsai, menjadi yang terdepan dalam ilmu dan teknologi, penguasaan ilmunya yang mumpuni tapi akan lain jika sebaliknya, jika mentalnya adalah mental yang easy going, mentalnya ingin cari aman, tidak mau mengambil resiko dan betah terhadap apa yang ada, akibatnya bisa saja ia mayoritas tapi seperti buih di lautan, terombang-ambing oleh gelombang, bisa saja banyak yang hartawan tapi tidak digunakan untuk pembangunan bangsa malah kekayaan yang ada membuatnya bangga dengan slogan berlimpah namun sesungguhnya ia sedang dikendalikan oleh orang lain, apa artinya kaya tapi tidak bernilai dihadapan orang lain, apa artinya banyak orang cerdas dan berilmu tapi tidak mampu mengendalikan kondisi dengan ilmunya.

Puluhan tahun yang lalu sebenarnya, driver mentality ini sudah digaungkan oleh Proklamator Bung Karno dengan Tri Saktinya, yang salah satunya adalah berdaulat di bidang politik. Diantara semangat yang terkandung dalam Tri Sakti ini adalah ini adalah Indonesia, tanah airku, kamilah yang berhak menentukan dan mengendalikan negeri ini, bukan oleh siapapun. Lebih baik makan tempe tapi betulandaripada makan roti tapi mimpi. Tidak ada kata terlambat untuk memberikan warisan yang terbaik untuk Indonesia Masa Depan. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.