*Oleh: Herlin

 

Hari ini, entah kenapa tiba-tiba ingin baca dan kepo dengan status teman-teman facebook, terutama FB teman-teman sekolah dulu. Masya Allah,,,pencapaian mereka keren-keren dan luar biasa menurut saya. Kadang tidak menyangka, dia yang dulu “nyeleneh” modelnya, seperti tidak niat sekolah, sering jadi gossip kawan-kawan maupun guru-guru karena kucelnya, suka berulah, sering masuk ruang BK dan mendapat hadiah cuci WC, ternyata bisa berprestasi dan sekarang sudah menjadi dosen yang itu saya pandang sebagai “sesuatu” yang “wah” di banding saya yang ibu rumah tangga tulen.

Ada lagi status teman yang bercerita tentang pencapaiannya di bidang bisnis, bolak-balik naik pesawat ke luar negeri, sudah selesai S2. Masya Allah, SUKSES…itu terkadang membuat saya cemburu sambil duduk merenung sendiri sambil ngemut es lilin di pojokan kulkas….(di kalimat ini, saya harus tertawa).

Dan banyak cerita prestasi lain yang kadang membuat saya ternganga sejenak (jangan kelamaan buka mulutnya, nanti kemasukan lalat)...

Kaget ? Iya. Senang ? Iya. Iri ? Iya juga. Ya Iya lah. Meski saya ibu rumah tangga tulen, ingin juga punya kantor, pakai dasi dan baju rapi, tas bergengsi, sepatu ber-hak tinggi, keluar dari mobil dengan kaca mata hitam, tidak dasteran dari pagi sampai malam (di kalimat ini, saya ingin tertawa untuk diri sendiri)…

Siapa yang tidak ingin naik pesawat ke luar negeri, tidak hanya jalan-jalan bawa troller anak ke tugu batas 100 meter dari rumah. Iya, iri. Ada rasa iri ingin seperti mereka, teman-teman sekolah saya yang sudah sukses di luar sana.

Semoga rasa iri ini adalah rasa iri yang positif. Sejenak saya merenung. Pasti mereka sangat disiplin memanfaatkan waktu mereka. Mungkin mereka berusaha keras dengan segala usaha dan doa, tidak menyia-nyiakan waktu. Yang paling saya suka adalah ternyata kebanyakan mereka yang sudah rata-rata berjilbab bahkan ada yang bergelar “Hajjah”.

Mungkin ada yang berkata,”itu masalah dunia”. Tapi boleh dong ya ditiru semangatnya mereka menuntut ilmu dan memanfaatkan waktu. Saya juga kadang berpikir, alangkah banyaknya waktu yang telah saya sia-siakan selama ini. Dunia tidak dapat, ilmu agama juga kececeran, akhirat wallahu a’lam (huhuhu…rasanya pengen nangis aja).

Ada yang salah ? Iya, mungkin ada yang salah. Kita sama-sama manusia, sama-sama di beri waktu 24 jam sehari. Sama-sama punya rasa ngantuk, capek dan malas. Bedanya ? Yang sukses, bisa mengelola semua itu dengan baik. Sedangkan saya, iya bisa mengelola juga tapi loadingnya lama pakai banget. Lebih rajin mengerjakan yang tidak penting, sering pakai jurus “bentar lagi, lupa atau besok saja”. Begitu terusssss….

Positifnya setelah kepoin akun-akun mereka, saya jadi semangat untuk memperbaiki manajemen waktu yang rutin saya jalani selama ini. Dan ini perlu bukti, bukan sekedar janji. Baik, mari kita buktikan kepada dunia (dengan mata berbinar-binar) bahwa islam sudah sempurna mengajarkan apapun hingga sekecil-kecilnya, Rasulullah telah memberi teladan sedemikian indahnya, tinggal kita sebagai pengikutnya mau atau tidak mengaplikasikannya.

Yuk, kita simak surah Al Ashr ayat 1-3: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Selain itu, Rasulullah bersabda, ”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi umur panjang dan jelek amalannya (HR Ahmad).

Dan ingatlah bahwa umur dan waktu yang Allah berikan akan ditanya kita pergunakan untuk apa. Tunggu apa lagi, mari bersegera memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk melakukan kebaikan-kebaikan, menggapai cita-cita dan meraih surga idaman.

_(Tulisan ini didedikasikan untuk diri sendiri yang sering lalai dalam masalah waktu)

*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Singkawang