Suatu hari, Umar bin Khaththab mendengar seorang berdoa,  “Ya Allah, Jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”,  Umar bertanya, “Wahai Hamba Allah, apa yang kamu maksud dengan golongan sedikit?” Orang itu menjawab, “Saya menyimak firman Allah SWT, ‘Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur’ (QS. Saba/34: 13). Mendengar jawaban tersebut, Umar berkomentar, “Ternyata ada yang lebih faqih lagi dari Umar”. Keyword dari pernyataan sahabat tersebut adalah syukur, ada apa dengan syukur sehingga manusia pilihan sekaliber Sayyidina Umar berkomentar demikian.

Mufassir memaknai syukur bukan sekedar berterimakasih atas pemberian yang telah diberikan tetapi yang lebih penting adalah ungkapan terimakasih kepada Sang Pemberi Nikmat. Jika merasa puas dan senang pada barang yang telah diberikan maka sikap ini akan berakhir sebagaimana berakhirnya masa berlakunya barang tersebut atau habisnya kegunaan barang itu. Namun jika berterimakasih kepada Sang Pemberi Nikmat maka ia tidak akan berakhir malah akan ditambah dan ditambah, sebagaimana ditemukan dalam QS. 14: 7.

Syukur juga mengandung arti “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Apa yang menjadi keinginan si pemberi dan kemudian digunakan sebagai yang dikehendaki, itulah makna syukur. Makna syukur dapat digambarkan sebagai berikut: Saya memberi saudara sehelai kain sarung, kemudian kain sarung itu saudara gunakan untuk sholat, menghadiri majlis taklim dan sebagainya. Itulah syukur. Dihari lain saya memberi saudara baju kemeja dengan harapan digunakan sebagaimana mestinya, ternyata yang saya lihat, baju kemeja yang diberi digunakan untuk ngelap  motor, membersihkan dinding dan sebagainya. Contoh kedua ini tidak masuk kategori syukur yang dimaksudkan agama. Dengan demikian, syukur adalah menggunakan pemberian siapapun sesuai dengan tempatnya sebagaimana keinginan si pemberi.

Inilah makna syukur yang juga dapat ditemukan dalam pembahasan M. Quraish Shihab tentang syukur sebagaimana dalam buku Logika Agama (2017: 199), seorang shufi ditanya, “bagaimana aku mensyukuri kedua mataku?” Sang shufi menjawab, “Jika engkau melihat kebaikan, maka sebar-luaskanlah, dan bila melihat keburukan engkau tutupi dan rahasiakanlah,“ Kemudian ditanyakan lagi, “bagaimana cara mensyukuri kedua telinga?” Dijawab oleh shufi, “jika engkau mendengar yang baik, maka camkan dan pelihara dan jika yang buruk, engkau tinggalkan dan lupakanlah.”

Jika kita merenungi hakikat penciptaan dan maksud keberadaan hidup kita, maka menjadikan hidup kita bermanfaat sebagai sebuah pengabdian kepada-Nya adalah sebuah keharusan. Nikmat sesuatu baru akan terasa kala ia tiada, nikmatnya mata kala sakit mata, nikmatnya berjalan kaki kala kaki kita terasa sakit, demikian juga dengan nikmat-nikmat lainnya.

Bertanyalah pada diri kita, mulai dari lahir hingga usia saat ini, sudah berapa banyak nikmat Allah SWT yang kita gunakan, oksigen, air, bandingkan berapa lama kita sehat dan sakit. Sanggupkah kita membayar itu semua? Pasti kita tidak mampu membayarnya, jangankan untuk membayarnya, untuk menghitungnya kita saja tidak sanggup. Orang yang paling kaya sekalipun tidak sanggup menghitung dan membayarnya. Lantas mengapa kita tidak mau bersyukur?

Banyaknya lapis keduniaan menjadikan manusia tertutup dan terhalang untuk mengenali siapa Sang Pemberi Nikmat. Lapis itu bisa berupa harta yang berlimpah, lapis itu bisa berupa pangkat dan jabatan, lapis itu bisa berupa status sosial dan prestasi, lapis itu bisa berupa kepopuleran dan ketenaran. Kala seseorang tidak bersyukur maka ia akan dekat pada kekufuran. Kufur dalam arti mengingkari pemberian Sang Pemberi Nikmat, dari sikap ini  muncul sikap kufur nikmat. Orang yang mengatakan aku berhasil karena aku pintar, aku sukses karena aku pandai meloby, aku menjadi terhormat karena aku kaya dan rajin bekerja dan itu adalah usahaku. Pola pikir semacam ini dengan meniadakan keterlibatan Tuhan di dalamnya maka kesombongan akan menjadi lapis yang berikutnya. Bukankah kesombongan adalah menolak kebenaran. Semakin sombong seseorang maka semakin jauh ia dari pengenalan terhadap kemurahan rezeki Tuhannya dan jika lapisan itu sudah semakin tebal maka semakin jauh ia dari pengenalan terhadap Sang Pemberi Nikmat sebagai obyek syukur.

Jika sudah demikian halnya, wajar kalau Allah SWT menyatakan sebagai sedikit sekali orang yang pandai bersyukur. Maka jangan heran jika kita lihat ada orang yang nikmatnya terus bertambah, mungkin karena syukurnya tiada henti. Syukur dalam arti pengakuan terhadap berbagai nikmat-Nya.*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.