Kadang kita pernah berpikir, “mengapa dia yang melakukannya”, atau “kok dia bisa”, kalimat ini mencuat kala kita merasa bahwa sebenarnya kita juga bisa melakukannya hanya karena desakan untuk menunda dan menangguhkan sehingga mereka yang melihat ini adalah sebuah peluang dan moment penting maka merekalah yang mengeksekusinya. Dari sisi ini, mereka yang telah melakukan adalah yang akan memiliki pengalaman itu, bahkan mungkin merekalah sebagai pionir dan pelaksana pertama dan kita? Adalah orang yang berikutnya atau malah mungkin tidak sama sekali. Apapun itu, yang pertama melakukan adalah orang yang telah mampu membuat orang lain menjadi pengikutnya. Jika ia sebuah kebaikan maka orang yang mengikutinya tidak akan pernah lepas dari sponsor pertamanya dan demikian juga sebaliknya.

Ternyata, hidup ini berada pada dua pilihan, aktif atau pasif, bekerja atau dikerjakan, pemimpin atau dipimpin, menyuruh atau disuruh. Pada posisi yang mana yang lebih baik, yang baik adalah jika pertanyaannya kita ajukan dengan “pada posisi yang manakah yang lebih baik?” Jika kita melihat situasi dan kondisi yang perlu keputusan cepat di tengah situasi yang darurat sementara kita pada posisi yang memungkinkan maka posisi aktif lebih baik, tapi jika kita berada pada kondisi yang kita tidak memiliki pengetahuan dengan ilmunya, tidak faham tentang cara kerjanya sementara ada orang yang memiliki skill dan kompetensi terkait hal tersebut maka menjadi makmum adalah tindakan yang cukup bijak.

Di sekitar kita bertabur kebaikan, dengan segala cara dan situasi disiapkan oleh Sang Pencipta. Orang yang cerdas adalah yang mampu melihat peluang, kesempatan dan menciptakan langkah-langkah cerdas. Hidup tidak sekedar harus pandai, tapi mesti “pandai-pandai”, dalam arti cerdas melihat peluang dan meyakini bahwa apapun yang dilakukan nanti akan memiliki konsekuensi pertanggungjawaban. Orang yang kuat dengan ilmu yang disebut ulama atau intelektual menjadikan ilmunya sebagai ladang untuk bertabur kebaikan, orang yang kuat dengan ekonominya yang disebut hartawan menjadikan hartanya sebagai alat untuk menebar kebaikan, orang yang kuat dengan jabatannya yang disebut pejabat menjadikan jabatannya sebagai media untuk mendulang kebaikan, orang yang kuat dengan statusnya yang disebut dengan kiyai, ustadz, pendeta, bikshu dan sebagainya menjadikan powernya sebagai sarana untuk kebaikan. Apapun dan siapapun dapat menabur dan menebar kebaikan hanya sejauh mana kita menyegerakan kebaikan itu menjadi sebuah kenyataan sehingga mindset  yang ada adalah bagaimana berlomba dan berebut berbuat baik.

Kita dan siapapun tentu tidak ingin keberadaan kita dikategorikan sebagai manusia haram, yakni manusia yang keberadaan kita tidak ada nilai kebaikan sedikitpun, keberadaan kita tidak dinilai plus oleh orang disekitar kita, kehadiran dianggap lebih tidak ada. Kondisi manusia seperti ini untuk disekitar manusia mungkin lebih baik di bawah tanah daripada di atas tanah. Adanya fasilitas akal, nafsu dan ghirah yang diberikan Sang Pencipta adalah modal untuk merebut dan berebut kebaikan itu sendiri. Sayang, jika fasilitas yang diberikan hanya menjadikan kita manusia pengekor bukan pelopor, seumur hidup selalu menjadi makmum dan tidak pernah menjadi imam, lantas bagaimana sebaiknya. Ubah pola pikir kita bahwa kita akan menjadi manusia wajib atau setidaknya sunnah. Manusia sunnah adalah yang kehadirannya ditunggu dan menambah semangat untuk beraktivitas, tapi manakala ia tiada aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Bermanfaat sekali jika kita oleh masyarakat dipandang sebagai manusai berkarakter wajib yang selalu menjadi motivator, inspirator yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Berebut kebaikan dengan segala yang melingkupinya adalah media menjadi manusia berkarakter wajib.

Hal yang terpenting dari semua di atas, adalah  adanya kemauan untuk memulai sesuatu.  Jangan menunda atau menangguhkan kebaikan barang sekejappun, jika tidak, kebaikan itu akan diambil oleh orang lain dan ia akan menjadi investasi kebaikan bagi pelakunya. Mengharapkan karya yang sempurna, terkesan mustahil, namun tidak mustahil bahwa ia sedang menuju ke tahap kesempurnaan.  Dan inilah yang oleh Bob Sadino dalam bukunya “Belajar Goblok dari Bob Sadino” bahwa ketika anda berada dalam ketidakberhasilan maka sebenarnya anda sedang menuju keberhasilan. Maka kegagalan dan kegagalan, menurut Bob Sadino, adalah bagaikan pintu yang harus dilewati yang pada akhirnya akan menuju rumah keberhasilan. Rebutlah Kebaikan dan Anda Akan Menjadi Pemenangnya. ** Semoga.

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.