Perbincangangan santai seorang ibu dengan anak lelaki nya. Pukul 20:46

Nak tidak terasa ya. Sudah sebulan abang menikmati liburan semester serta syawal bersama keluarga. 2 hari lagi abang akan kembali ke pondok Pesantren. Apa perasaan abang sekarang?

Si anak menjawab, “Abang sedih karena harus berpisah dengan umi, abi dan adek-adek. Tapi abang pengen juga kembali ke pondok dengan suasana belajar di pondok”.

Si ibu terdiam sejenak sambil menghela napas panjang mengatur rasa sedih yang bergemuruh. Karena rasa seperti ini sudah beberapa kali hadir di setiap menjelang kepergian anaknya yang kesekian kalinya untuk kembali menimba ilmu agama di Pesantren.

Tapi kali ini ada rasa yang berbeda selain dari rasa sedih itu. Yaitu rasa bangga karena anak itu sekarang semakin kuat mentalnya untuk menata hati dari rasa sedih dan harapan, semakin paham kenapa harus berpisah untuk sementara waktu dengan keluarga dan berkorban demi meraih cita-cita, serta Ridho Allah agar kelak dapat berkumpul selamanya di Syurga.

Waktunya telah tiba. Hari ini sang ibu melepaskan separuh jiwanya demi menggapai cita dan asa itu. Pelukan, ciuman serta pesan bagi si anak, "Yang kuat ya bang, semoga kelak kita bisa berkumpul kembali," ujar sang ibu.

Keduanya berpisah, membawa gemuruh di hati masing-masing. Raga telah masuk ke kamar tapi jiwa masih tinggal pada pembiaraan di luar kamar tadi. Kesedihan mendalam di hati si ibu, serasa akan berpisah jauh, seolah takkan bertemu lagi. Ah ibu, mungkin terlalu berlebihan bagi sebagian orang, tapi begitulah faktanya ketika di tinggal anak pulang ke pondok.

Semakin jauh, jauh dan jauh dari pandangan mata . . .

“Nak ummi bangga pada mu. Ummi tahu ada sedih dibalik matamu yang polos itu. Tapi tidak ingin kau tunjukkan pada kami. Kau semakin dewasa. Semoga Allah selalu menjaga mu di sana, tutur si Ibu”.

Duhai para ayah dan ibu...

Yang sudah memilih pendidikan untuk anak- anaknya bersyukurlah. Yang memilih menyekolahkan anak di pondok bersyukurlah. Yang memilih menyekolahkan anak di IT atau kuttab bersyukurlah. Yang menyekolahkan anak di sekolah negeri dengan segala keterbatasannya bersyukurlah dan tak usah berkecil hati. Anak itu tumbuh baik karena bimbingan hidayah dari Allah. Dan hak Allah memberikan hidayah itu pada siapa dan dimana. Kewajiban kita orang tua untuk membimbing anak-anak untuk mencari hidayah tersebut.

Dimana pun sekolah anak kita... Satu hal ini menjadi tanggung jawab yang tidak bisa diserahkan kepada siapa pun. Maka ikhtiar dalam membimbing. Ikhtiar dalam berdoa tak akan bisa lepas walau sesaat dimana pun mereka kita titipkan. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada setiap orang tua dalam membimbing, membina dan mengasuh anak- anak nya.. aamiin

Catatan hari ini buat separuh jiwaku dan para orang tua ...

*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin