Guru dan buku bagaikan dua sisi mata uang yang  tak dapat terpisahkan. Jika satu sisinya tidak tampil maka ia tidak mempunyai nilai. Nilai inilah yang sangat urgen. Juga,  Guru dan Buku dapat diibarat bagaikan roh dan jasad. Jasad tanpa roh  hanyalah seonggok bangkai yang tidak dapat berbuat apa-apa. Begitu juga sebaliknya roh tanpa jasad bagaikan hantu yang bergentayangan. Oleh karenanya penting bagi guru untuk selalu hadir serta  menghadirkan sebuah buku yang bermanfaat untuk menunjang pengetahuan baginya.

Guru sebagai pendidik harus selalu mengupdate ilmunya. Sehingga guru mempunyai wawasan serta pengetahuan yang sangat luas dibidang disiplin ilmu yang ia ampuh maupun ilmu yang lain, bahkan guru dimata anak didik merupakan manusia yang ‘super’ dan  sumber ilmu’ yang dapat menjawab persoalan-persoalan bagi siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi anak. Dan bukan hanya itu juga, seorang guru dituntut untuk dapat menterjemahkan apa yang diinginkan anak didiknya, manakala siswa  menuntut yang lebih dari seorang guru, ini tercermin dari sikap anak yang selalu menuntut agar gurunya dapat menjawab apa yang diinginkan oleh peserta didik.  Bagaimana mungkin guru akan bisa menjamu serta memberikan servis yang terbaik kepada anak didiknya, jika seorang guru tidak dapat menjelaskan secara detil dan terperinci materi ajar yang  disampaikan di dalam kelas. Kalaulah guru yang tidak mempunyai kemauan serta ketrampilan untuk mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik dan berkualitas maka sudah dapat dipastikan suasana pembelajaran akan menjadi kaku.

Inilah yang akan menjadi problem, jika seorang guru tidak mau intropeksi diri, bahwa dirinya harus tahu dan harus ambil tahu bahwa guru adalah pelayan murid dalam rangka mengemban amanah sebagai guru yang profesional. Guru yang propesional itu kreatif, inovatif dan selalu berkarya dalam menjalankan sebagai profesi guru sehingga dapat berimprovisasi ketika dalam proses pembelajaran, sehinga anak didik merasa nyaman, senang dalam memahammi materi pembelajaran.

Bicara prestasi anak didik tidak terlepas dari peran guru sebagai motivator yang dapat merangsang anak didik untuk selalu mengembangkan jiwa kepribadian anak kearah yang berorientasikan kepada bagaimana cara   membentuk  anak didiknya  menjadi manusia yang seutuhnya, yakni  mempunyai berpendidikan, berwatak, arif, berwawasan dan berintelegensi yang tinggi dikemudian hari.

Tentunya dari apa yang kita inginkan guru yang ideal adalah guru yang senantiasa menjadikan buku sebagai sahabatnya, sebab buku adalah merupakan sumber ajar, yang dapat menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi guru, manakala guru mendapatkan pertanyaan dari peserta didik yang agak nyelimet dan sukar maka dapat dicari dalam literatur sehingga  guru dengan mudah menyampaikan materi-materi pada anak didik.

Banyak orang berpendapat, Buku adalah jendala dunia. Buku adalah gudangnya ilmu. Oleh karenanya peranan buku sangatlah penting bagi masa depan manusia. Banyak orang yang besar dari buku. Sebab buku menjadikan sumber utama dan menjadi ‘guru’ yang dapat hadir kapan saja diperlukan. Buku adalah penggerak dan pendorong kemajuan peradaban.  

Sangatlah ironis jika  guru yang notabone sebagai pendidik, panutan serta ‘sumber’ ilmu bagi peserta didik, yang tidak mempunyai koleksi buku, atau perpustakaan mini dirumahnya. Sudah dipastikan akan mengalami kesulitan dan kedangkalan dalam menganalisis serta menterjemahkan  pengetahuan yang disampaikan atau pertanyaan dari peserta didik. 

Hal ini dapat kita pelajari serta kita ambil hikmah dari kisah seorang Bapak proklamator Republik Indonesia Muhammad Hatta dalam Buku Otobiografinya. Hidupnya dipenuhi dengan tumpukan buku. Dan bahkan ketika beliau ditangkap Belanda serta diasingkan ke Banda Neira bersama Syahrir, beliau membawa buku-bukunya sebanyak 16 peti. Saking sayangnya dengan buku, Beliau hafal letak dan posisi buku di rak perpustakaan pribadinya. Sehingga tidak ada yang berani mengotak-ngatik bukunya. Beliau sangat marah kalau menanda bukunya dengan cara melipat, apabila seseorang meminjam bukunya untuk dibaca, namun bacaannya belum selesai. Begitu tinggi penghargaannnya terhadap buku.

 Guru hendaknya mengivestasikan buku. Dengan cara menyisihkan anggaran dari tunjangan sertifikasi untuk keperluan membeli  buku.  Jangan pelit dalam  mengeluarkan uang  untuk membeli buku. Programkan dalam diri seorang guru untuk senantiasa  mengoleksi buku. Padahal pemerintah mengeluarkan tunjangan sertifikasi guru bukan hanya untuk membeli kebutuhan materi saja, melainkan untuk menunjang wawasan dan pengembangan intelektual. Selain itu juga  Pemerintah membayarkan tunjangan sertifikasi adalah untuk  mendukung bagi guru untuk meningkatkan kinerja serta kualitas mengajar. Sehingga guru dalam kegiatan proses pembelajaran di madarasah akan selalu termotivasi untuk memberikan pelayanan prima kepada peserta didik.

Akhirnya, Guru yang hebat, guru yang  cinta  terhadap buku. Ini Sebagaimana ungkapan Arab, Khoiru jaalisin fii zamaani kitabun, sebaik-baik teman di setiap waktu adalah buku ( kitab ).

Penulis Opini: 
Johansyah, S.Ag.