Allah SWT mengangkat dan memuliakan orang yang berilmu. Dalam kehidupan keseharian kita, orang yang berilmu menempati tempat yang tersendiri, entah apakah ia bergelar akademik, formal atau tidak formal, apakah ia bergelar yang dihormati disebuah komunitas atau apakah ia tidak berpredikat apapun tetapi ia memiliki wibawa dan kharisma tersendiri. Dengan ilmu, seseorang diangkat dan dihormati. Tetapi hanya dengan memiliki tanpa penghayatan dan pengamalan diibaratkan seperti yang tidak berbuah. Ia hidup dan tumbuh dengan subur tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang dapat “mengenyangkan” siapapun dan apapun disekelilingnya.

Kisah berikut ini sebagaimana dalam tulisan Ibnu Basyar (2016: 12) mudah-mudahan menjadi refleksi kita dalam keseharian berikutnya.

Diceritakan ada seorang ustadz yang mengajarkan akidah kepada murid-muridnya. Ia mengajarkan kalimat tauhid, La Ilaha Illallah, dan menjelaskan maknanya. Ia juga mengajarkan tentang keteladanan Rasulullah SAW dan senantiasa berpesan untuk meyakini dan menghayati sepenuhnya syahadatain kepada murid-muridnya.

Di kediamannya, ustadz ini memelihara burung dan kucing. Lalu, seorang muridnya memnghadiahinya seekor burung kakaktua padanya. Makin hari ustadz tersebut makin senang dengan burung pemberian muridnya itu. Bahkan saat ustadz mengajarpun burung kakaktua itu selalu disampingnya dan akhirnya burung  itupun terbiasa mendengarkan kalimat tauhid  dan mampu mengucapkan La Ilaha Illallah. Siang-malam, burung itu terbiasa dengan kalimat tauhid tersebut dan murid-muridnyapun sudah mafhum dengan kebiasaan burung kakaktua tersebut.

Suatu ketika murid-murid mendapati gurunya sedang menangis. Seorang murid yang dianggap senior memberanikan diri untuk bertanya perihal apa gerangan yang menyebabkan gurunya menangis, dijawab oleh gurunya ia menangis karena kucing peliharaannya telah menerkam burung kakaktuanya dan menyebabkan burungnya mati. Muridnyapun balik bertanya, “Wahai Guru, apakah ini yang menyebabkan guru menangis? Jika demikian halnya maka akan kami gantikan lagi burung yang lain setidaknya sama dengan burung kakak tua sebelumnya”. Sang ustadz menjawab, “Wahai murid-murid, ketahuilah, bukan karena itu aku menangis, bukan karena burung kakaktua dimakan kucing yang kutangiskan tetapi yang kutangiskan adalah ketika ia diserang kucing, burung itu hanya teriak-teriak saja sampai matinya. Padahal ia sering sekali mengucapkan La Ilaha Illallah. Ia sudah terbiasa mendengarkan dan melafalkan bacaan itu tetapi yang kusayangkan ketika ia diterkan kucing ia lupa dengan kalimat itu, tidak terdengar ia mengucapkan kalimat mulia itu, yang terdengar hanya rintihan dan teriakan. Aku khawatir kita akan bernasib demikian, “ jelas ustadz. Lanjut ustadz, “Aku cemas kalau nanti kita seperti kakaktua itu, saat hidup kita sering mengulang-ulang kalimat itu tetapi ketika maut menjemput kita lantas kita lupa untuk mengingatnya apatah lagi mengucapkannya, ini dikarenakan kita tidak menghayati apa yang kita yakini, ilmu yang kita miliki namun tidak dihayati dengan sepenuhnya hanya akan menjadi kumpulan ilmu tanpa ruh.”

Para muridnya menangis setelah mendengar penjelasan penuh makna dari sang ustadz. Dan kita? Para pembaca sekalian, apakah kita telah meyakini apa yang menjadi i’tiqad kita dalam berilmu, beramal dan berakidah sehingga betul-betul muncul penghayatan yang mendalam akan makna yang yakini tersebut.

Tidak ada sesuatupun yang naik ke langit yang lebih agung dibanding keikhlasan. Keikhlasan menjadi kaca kunci semua aktivitas. Hanya Allah SWT yang mengetahui tingkat keikhlasan seseorang, meskipun rahasia Allah tetapi kita sangat dianjurkan untuk senantiasa beribadah secara ikhlas. Mungkin hanya dengan amal menyampaikan pesan kepada tetangga dari tamunya, mungkin hanya dengan menepikan pelepah daun kelapa dari tengah jalan komplek kita, atau mungkin hanya dengan mengatur sandal orang tua kita, atau hanya malah dengan senyuman dan tegur sapa saat saling bertemu, mungkin-mungkin yang lain dan mungkin itulah amal yang diterima Allah SWT. Kita tidak ingin aktivitas kita berakhir seperti berakhirnya sang kakaktua yang lupa dengan kalimat yang selalu didengar dan diucapkannya.

Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, Saudaraku. Yakin dan hayatilah apa yang telah ada pada kita, mudah-mudahan ini berdampak pada akhir hidup kita, Husnul Khatimah**

Penulis Opini: 
Sholihin H.Z.