Teringat dengan curhat seorang teman tentang permasalahan yang sedang terjadi dalam rumah tangganya. Teringat dengan uraian air matanya saat ia bercerita tentang buruknya perlakuan suaminya terhadap dirinya dan anak-anaknya. Padahal menurutku, dia seorang wanita tangguh, cerdas dan logis. Kalimatnya keluar seperti rentetan peluru. Tapi begitulah wanita...

Seseorang wanita yang kuat secara retorik dan verbal, mereka akan bertahan dengan argumen di kala berada dalam situasi konflik. Ketika emosinya mencapai 39 derajat celcius, dia akan semakin tajam memilih diksi, memainkan rasa bersalah lawan bicara yang memang sudah tersudut. Semakin lama akan semakin tajam yang akhirnya merobek pertengkaran.

Yah, seperti itulah wanita. Walau di akhir kekuatan verbalnya dia akan menumpahkan air mata jua. Bukan karena lemah, justru air mata itu akan turut membantu meluruhkan racun emosi yang sangat berbahaya bagi jiwanya. Sebuah sunatullah yang tak bisa digambarkan secara ilmiah.

Dan bagimu lelaki, sebenarnya tak ada dimensi bagimu untuk berjibaku dalam pertengkaran, karena kalian tak butuh itu. Padamkan emosi dengan istighfar, ingatlah jeritannya di saat melahirkan anak-anakmu, lelahnya merawat mereka, melayanimu, menjaga dirinya di kala kau tak ada...

Bila kau turut terbakar, maka kalian akan sama-sama hangus. Berlaku baiklah kepada tulang rusuk yang bengkok, jangan turut mematahkannya. Bukankah kau hanya meminjamnya dari orang tuanya? Maka jagalah pinjaman itu dengan baik. Bila lisannya menjadi tajam, perbaikilah adabmu kepadanya.

Di lain waktu, ada juga wanita yang datang untuk berkonsultasi yang selalu tidak jauh dari masalah rumah tangga. Belum pun dia duduk, sudah berlinang dan sesenggukan seraya berjalan menuju meja kerja saya. Dan seperti biasa, cerita dan air mata bersatu, bercampur aduk dalam rentetan tumpahan kata.

Dia memperlihatkan lehernya yang di cekik oleh suaminya dengan beberapa luka, pipi yang lebam membiru dan paha kembang akibat tendangan suaminya. Terlepas dari masalah apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, kenapa wanita selalu punya cerita yang serupa.

Duhai para lelaki bergelar suami, pergaulilah istrimu secara ma’ruf. Sesungguhnya dia adalah tempatmu berkebun, dia adalah ibu dari anak-anakmu, dia adalah amanah yang hendaknya kau jaga, bukan justru kau sakiti.

Renungkanlah, dulu istrimu adalah seorang gadis yang leluasa beraktifitas, melakukan banyak hal dengan kemampuannya. Tapi setelah ia menjadi seorang istri, ia memiliki kewajiban yang tidak sedikit dengan banyaknya batasan-batasan yang kau buat. Kau mengaturnya dengan banyak aturan. Bahkan setelah menjadi seorang ibu, ia memiki tanggung jawab yang tidak ringan, bahkan menyita hampir semua waktu yang ia punya untuk dirimu dan anak-anakmu.

Ingatlah juga bahwa dikala susah, dia setia mendampingimu. Ketika sulit, dia tegar di sampingmu. Saat sedih, dia menjadi pelipur laramu. Dalam lesu, dia menjadi penyemangat jiwamu.

Istrimu tentu punya kesalahan atau kekurangan. Namun tidak sepantasnya kau memukul wajahnya, menjambak rambut dan menendangnya serta mencacinya dengan perkataan-perkataan kotor dan tercela. Engkau harusnya membimbingnya karena kau adalah imamnya. jika dia melakukan kesalahan, engkau juga harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanya. Jika ada kekurangan pada dirinya, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena dia adalah manusia biasa, bukan malaikat.

Ayolah, bangun dan bangkit bersama membawa bahtera rumah tangga hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah SWT. Segala puji hanya untuk Allah, SWT yang telah memberikan istri sebagai jodohmu.

*Penulis adalah penyuluh agama islam Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin