Apa yang kita ingat tentang Bapak ? Temanku berucap saat kami berada satu mobil di perjalanan. “Dia orang yang benar-benar cuek. Bahkan terkesan tempramental. Jika aku melakukan kesalahan, Bapak akan segera memarahiku. Ya, dia akan bicara kalau mau marah saja,” temanku menahan nafas, “Tapi. Sampai saat ini aku akan selalu ingat, apa yang Bapak lakukan setelah ia memarahiku... Dia akan menghampiri, memanggil namaku, lalu memberiku uang sembari berkata singkat, ‘Buat beli jajan.’ Setelah itu dia pergi. Kelak aku tahu, itulah cara Bapak meminta maaf padaku.”

Kalau aku beda lagi. Setiap habis dimarahi oleh Bapak, yang ku ingat adalah saat bangun tidur nanti, pasti ku dapati Bapak berada di sisi. Tidur dengan memeluk tubuhku dari belakang.

“Bapak sepertinya menyesal setelah memarahimu semalam”.Itulah penjelasan Ibu saat aku bertanya mengapa Bapak tidur di kamarku semalam. Kaum bernama ‘Bapak’ ini memang unik. Mungkin, banyak dari mereka memiliki keterbatasan verbal, hingga sulit mengatakan, “Bapak minta maaf” untuk mengungkapkan rasa penyesalan setelah memarahi anak-anaknya.

Pada beberapa kesempatan di rumah, Bapak sering nampak berusaha membaur dengan kami. Selama piala dunia kemarin, aku dan adik-adik sering begadang untuk menonton pertandingan bola. Di tengah malam, Bapak biasanya akan bangun sebentar, sekedar untuk bertanya, “Berapa skor pertandingannya? Siapa yang menang?”

Lantas, ia akan bercerita sebentar sebelum akhirnya kembali lagi ke kamar, melanjutkan tidur malam, “Pemain bola sekarang tidak sehebat Maradona. Kalau sudah pegang bola, bakal sulit dihentikan lawan. Dulu, gandengannya di Argentina, ya sama Mario Kempes. Wuih, mereka klop banget. Kalau Maradona yang dikepung pemain lawan, bola langsung dikasih ke Mario Kempes. Udah, kalau bola digiring Kempes, pasti gol itu.”

Cerita itu, adalah cerita yang selalu diulang-ulang pada kami bila Bapak nonton bola bareng, karena memang Bapak tak hobi menonton bola. Jadi pemain bola yang Bapak tahu cuma Maradona dan Mario Kempes, pemain Argentina di era 1986. Aku belum lahir. Apalagi adik-adikku. Tapi Bapak selalu berkisah tentang Maradona dan Kempes sampai tahun 2018 ini. Yang kuyakin, itulah cara Bapak agar terasa dekat dengan anak-anaknya.

Ini tentang Bapak kita...

Duhai, saat melihat makanan kesukaan terhampar di meja makan, apakah kita sempat membayangkan untuk mendapatkan makanan itu, berapa banyak keringat yang menetes di sela pori-pori kulitnya? Betapa letih tubuhnya kala harus beradu tenaga di luar sana. Betapa penat pikirannya menghadapi tugas-tugas kantor yang tak habis-habis. Namun, sesampai di rumah, tak ditampakkannya sedikit pun segala lelah itu pada kita. Asal melihat kita senang, baginya lelah itu seolah tiada.

Dalam diamnya, ternyata seorang Bapak selalu memperhatikan anak-anaknya. Ia yang terjaga di tengah malam, terkantuk-kantuk menggendong di kala kita sakit. Ia yang mungkin harus berhutang ke kerabat, saat kita akan mulai masuk sekolah, membayar uang pangkal, membeli seragam dan sepatu baru. Lalu di pagi hari pertama sekolah, ia pula yang pertama menyambut kita dengan senyuman manis. Tanpa kita ketahui, senyum itu kembali lenyap setelah kita berangkat, berganti wajah yang menahan penat karena harus mengais rezeki di tengah teriknya matahari.

Bapak, bagi kita mungkin tak sesempurna Ibu. Tak juga selancar Ibu dalam mengucapkan rasa sayang pada anak-anaknya. Tapi percayalah, di dada Bapak, terdapat sejuta cinta untuk kita.

*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Fungsional Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin