Norman Vincent Peale dalam bukunya You Can if You Think Can (2015: 132) pernah menuliskan tentang potensi manusia yang luar biasa. Permisalan yang dikemukakannya adalah antara seekor ayam dan elang. Ada seseorang yang meletakkan sebutir telur elang di sarang ayam betina yang sedang mengerami telur-telurnya. Bersamaan dengan menetasnya telur ayam maka menetas juga telur elang  sehingga keluarlah seekor elang kecil bersama anak-anak ayam. Elang kecil dibesarkan di antara ayam-ayam dan tidak pernah tahu bahwa dirinya bukanlah seekor ayam. Selama beberapa saat dia merasa puas dan menjalani kehidupan ayam yang normal.

Semakin hari semakin bertambah besar elang ini, dalam proses tumbuh kembangnya ini anak elang ini mulai mengalami kegalauan. Kegalauan berawal dari bentuk fisik yang agak berbeda, sesekali elang berpikir, “aku pasti lebih dari sekadar seekor ayam”. Tapi pikiran itu hanya melintas tanpa ada makna bagi elang.

Suatu hari seekor elang besar melintas terbang di atas pekarangan peternakan ayam dimana elang tinggal. Elang kecil merasakan adanya kekuatan baru yang aneh di sayapnya. Dia tersadar akan detak jantung yang bedar didadanya. Elang kecil berujar, “Aku ingin seperti itu. Pekarangan ayam bukan untukku. Aku ingin mendaki langit dan bertengger di tebing gunung”. Elang kecil itu belum pernah terbang, tetapi dirinya menyimpan kekuatan dan naluri. Dia membentangkan sayapnya dan melayang ke pncak bukit yang rendah. Merasa gembira, dia terbang ke puncak bukit yang lebih tinggi dan akhirnya terbang ke angkasa menuju gunung yang tinggi. Dia telah menemukan dirinya yang hebat.

Cerita ini memberikan pesan setidaknya dua hal bahwa setiap makhluk (baca: manusia) menyimpan potensi untuk tumbuh kembang maksimal melebihi apa yang disadari saat ini. Membuka diri untuk menerima hal positif adalah pintu pertama menuju ke sesuatu yang luar biasa. Anak yang dulunya kelihatannya biasa-biasa saja, satu saat kita temukan dalam kondisi yang sudah luar biasa. Bahasa motivasi dan sikap yang menginspirasi  bisa jadi menjadi semacam tolak peluru yang membuat kita terbang jauh dan melebihi garis finish yang diharapkan.

Sebuah kata bijak mengajarkan kepada kita, jika anak dibesarkan dengan dorongan maka ia belajar percaya diri, dan jika anak dibesarkan dengan pujian maka ia belajar menghargai. Karenanya kita dilarang untuk memvonis anak sebagai anak yang bodoh, dalam dunia pendidikan tidak ada istilah anak bodoh yang ada adalah anak yang lambat dalam menerima pelajaran. Mengapa? Bisa jadi ia lemah untuk satu kompetensi tetapi ia memiliki potensi lain yang justru mencitrakan ia anak yang potensial dan berbakat. Howard Gardener menyebutkan ada delapan macam kecerdasan yang dimiliki setiap anak, kecerdasan linguistik; logik matematik; kecerdasan musik dan sebagainya. Dari berbagai kecerdasan ini menunjukkan bahwa anak-anak kita bisa menjadi anak yang luar biasa dan dahsyat.

Segala potensi ini kadang ditutupi oleh kekurang percayaan diri kita. Beginilah kondisiku, aku hanya manusia biasa, aku orang tidak mampu. Omongan ini adalah fakta, bahwa kita sering mematok diri kita hanya setinggi pengharapan diri kita saja. Waktu yang disediakan dalam sehari semalam ada 24 jam, namun mengapa dari 24 jam ini ada orang semacam Bung Karno dan Bung Hatta, ada manusia bernama BJ.Habiebie, ada orang sukses sementara ada juga orang yang gagal dan langsung patah semangat. Dari sekian banyak pendorongnya salah satunya adalah karena keinginan mereka untuk berbuat lebih dan lepas dari kondisi kemapanan yang ada.

Sukses adalah milik semua orang, sukses bukan hanya milik orang tertentu. Tapi milik orang yang ingin sukses. Dan kesuksesan itu bisa diperoleh karena adanya DUIT. DUIT adalah akronim dari Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakkal. Awali aktivitas dengan “doa”, doa sebagai bentuk keyakinan bahwa kita sehat, kita ada dan bisa beraktivitas karena Ia masih berkenan memberikan itu semua untuk kita, doa mengajarkan jika gagal tidak putus asa dan jika berhasil tidak sombong dan merasa semua karena aku. Dengan adanya “usaha” mendidik kita untuk berpola pikir bahwa apapun yang menjadi keinginan kita dan untuk mewujudkan harus dengan kerja dan beraktivitas. Tidak bisa sekedar berpangku tangan mengharapkan hujan emas dari langit. Sementara “Ikhtiar” mengajarkan kita untuk cerdas memilih dan menandai diri kita untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan skill dan kompetensi yang dimiliki. Ini mengisyaratkan bahwa sesuatu yang dikerjakan dikarenakan keahlian maka akan menghasilkan sesuatu yang maksimal namun jika dikerjakan oleh yang bukan ahlinya maka tunggu kehancurannya. Dan terakhir “tawakkal”, sikap ini bermakna penyerahan diri setelah melalui doa dan proses usaha. Apapun yang menjadi keinginan kita kadang tidak sepenuhnya terwujud sebagaimana yang diinginkan tetapi yakinlah bahwa apa yang ada adalah yang terbaik. Bukankah Dia Maha Rahman Maha Rahim?

Tugask ita adalah menjadi role model bagi anak-anak kita, menyediakan lahan untuk mereka agar menjadi manusia biasa yang luar biasa, menjadi diri untuk bertindak sebagai inspirator dan spirit bagi anak-anak kita dan yakinlah bahwa diantara pesan-pesan yang disampaikan kepada mereka bahwa ada message yang menjadi perhatian  mereka dan itu mengubah pola pikir mereka untuk sebuah kesuksesan. Semoga*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.