Suatu hari ketika Nabi Muhammad saw duduk bersama para sahabatnya, melintas dihadapan beliau seorang yang jika dilihat adalah seorang yang badannya sehat dan segar, kulitnya bersih, menunjukkan ia orang kaya, Nabi pun bertanya kepada para sahabatnya, “bagaimana pendapat kalian tentang orang itu?” Sahabat menjawab, “Ia seorang yang kaya, karenanya jika ia meminang wanita pasti diterima, kalau menolong orang pasti berhasil, dan jika ia berbicara pasti didengar orang,” Tidak lama kemudian lewat seorang yang dari pakaiannya lusuh, badannya tidak tegap, menunjukkan ia seorang yang miskin, Nabipun menanyakan kondisi orang tersebut kepada sahabatnya, sahabatpun komentar, “orang ini jika meminang pasti ditolak, jika menolong pasti tidak akan berhasil, dan jika berbicara tidak akan ada yang mau mendengarnya”. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa orang yang lewat terakhir adalah yang lebih baik dari sebelumnya.

Kisah singkat di atas, pesan yang ingin disampaikan Nabi adalah bahwa penampilan tidak menjamin keaslian, jangan sampai tertipu dengan melihat fisik dan penampilan yang kasat mata. Namun demikian bukan berarti juga bahwa apa yang akan dilihat orang lain menjadi hal yang sepele dan tidak diperhatikan. Penampilan itu perlu tetapi isi lebih perlu, casing menjadi daya tarik tapi fasilitas yang ada di dalamnya menjadi daya tarik berikutnya, cover buku dengan judul yang bombastis sebagai nilai jual tetapi isi buku yang menyebabkan seseorang terinspirasi menjadi nilai lebih dari buku tersebut.

Lagi-lagi kisah di atas, memberikan pembelajaran jangan kita mudah menghakimi seseorang secara spontan hanya karena ia kurang meyakinkan, penampilannya biasa-biasa saja ternyata ia memiliki kompetensi yang jarang dimiliki orang kebanyakan. Pada kisah lain disebutkan ada seorang yang diundang menghadiri jamuan makan malam bersama para pejabat kerajaan, saat ia berada di depan pintu masuk yang dijaga oleh sekuriti setempat, ia dicegat dan diinterview apakah benar ia diundang dalam acara ini. Pertanyaan ini muncul karena pakaian yang dipakainya sama sekali tidak mencerminkan status dan derajat siapa yang mengundangnya. Akhirnya tamu tersebut pulang ke rumah dan kembali ke tempat undangan dengan pakaian yang sangat meyakinkan, gagah dan terkesan pakaian mahal, saat ia dihadapan sekuriti iapun dipersilakan masuk. Saat sudah dimeja makan ia segera melepas pakaian mahal yang dipakainya tadi dan meletakkan bajumahal itu di atas meja hidangan sambil berujar, “wahai baju, makanlah hidangan ini, karena yang diundang adalah kemewahanmu, yang dipersilakan masuk adalah bajumu yang mahal dan bukan kehadiranku”.

Saudaraku, memvonis dini adalah tindakan yang kurang bijak, agama kita mengajarkan tentang husnuzh zhan, tasamuh, ta’awun dan sebagainya. Bisa saja orang yang pakaiannya biasa saja lebih mulia dari mereka yang terbiasa berdasi, kemeja putih, berjas bersih dan harum. Bisa saja seorang yang pekerjaannya tukang kayu, tukang bangunan dan sejenisnya lebih dipandang dan diijabah doanya daripada mereka yang berprofesi “agak terhormat”, mungkin saja orang yang omongannya jarang didengar oleh manusia sekitar tetapi ternyata permohonan dan keluh-kesahnya lebih didengar Allah SWT. Untuk yang terakhir ini dikisahkan lewat sosok Uwaisy al Qarny sebagai tipe manusia yang ia biasa saja dihadapan makhluk bumi tetapi hajatnya didengar dan dikuatkan oleh penghuni makhluk langit.

Kebiasaan lisan yang mudah mengomentari apapun yang lewat, apapun yang terjadi dan apapun yang didengar menjadi salah satu sebab kita terbiasa memberikan penilaian tersendiri pada orang lain. Kecanggihan teknologi saat ini menjadi media bebas yang dapat menjerumuskan penggunanya pada liarnya lisan dan men-judge orang lain. Hingga pada bagian inipun al-Quran memberikan aturan janganlah segera mempercayai berita dan info yang masuk (baik didengar, dilihat di media) sebelum adanya kejelasan (tabayyun) dan jika sudah ada kejelasan harus dipilih dan dipilah lagi apa perlunya untuk disebarluaskan yang jika ternyata membawa kemudharatan dan menyebabkan kerukunan dan kedamaian menjadi terusik tentunya sangat bijak untuk tidak diekspos.

Orang yang bijak adalah yang mampu mengendalikan lisannya, orang yang bijak adalah yang tidak mudah memvonis orang lain dan orang yang bijak adalah yang mendahulukan husnuzh zhan pada orang lain. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.