Eksis bermakna ada. Eksistensi diartikan keberadaan sesuatu. Terlepas dari eksisnya bermanfaat atau sebaliknya. Eksisnya membawa pengaruh positif atau negatif. Harapan normalnya adalah kita ingin semua eksistensi kita dilihat, diperhatikan, diakui bahkan oleh sebagian orang ingin dipromosikan pada level top score.

Eksis di dunia berarti ia ingin diakui dan dimasyhurkan oleh siapapun, sepanjang keinginannya untuk memotivasi dan menginspirasi maka eksis dalam arti manusiawi dan sah-sah saja. Piramida eksistensi yang dikemukakan oleh Abraham Maslow menempatkan posisi aktualisasi diri pada puncak piramidanya. Ini menunjukkan bahwa pengakuan eksistensi menjadi keinginan manusia sejatinya.

Sebagai insan religius yang mengakui adanya kehidupan sesudah kematian, maka pengakuan ini tidak hanya sebatas dunia saja, tapi hingga ke alam baka, alam akhirat. Eksis di akhirat bermakna ia punya segudang perbuatan yang dinilai kebaikan saat di dunia namun ternyata berdampak akhirat. Dengan segala kebaikan yang diterima Tuhan, ia dikelompokkkan pada golongan ashhabul maymanah (kelompok kanan sebagai simbol berkumpulnya orang-orang baik).

Saudaraku, jangan sepelekan sekecil amal apapun, bisa jadi yang kecil inilah yang mungkin memantik dan memancing datangnya kebaikan dan kemudahan pada kita. Pekerjaan yang kelihatannya sepele dan duniawi sekali  tetapi punya dampak sebagai investasi akhirat. Seorang isteri yang menyiapkan secangkir kopi dipagi hari untuk suaminya, satu perbuatan yang sepele dan kecil namun jika diniatkan sebagai bentuk ketaatan pada suami maka ia bernilai ibadah, seorang bapak yang bekerja untuk menghidupi anak isterinya juga ibadah dan bukankah kerja itu sendiri adalah ibadah. Seorang pejabat yang dengan tanda tangannya dapat meminimalisir maksiat dan kemungkaran dan diniatkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia adalah ibadah. Manusia dengan karakter semacam ini, ia telah menunjukkan eksistensinya dan bernilai plus bagi orang-orang disekitarnya.

Dalam kehidupan ini, kita dipersaksikan dan dihadapkan pada empat golongan manusia. Ada manusia yang kuat keimanannya sekaligus ia orang yang tajir. Hafal Quran, ibadah wajib dan sunat betul-betul dijaga. Ia juga seorang hartawan yang dermawan. Dunia ia sukses, akhirat ia selamat. Sejarah manusia membuktikan orang-orang dengan penguasaan dua aspek ini, eksis di dunia dan sukses di akhirat.

Kadang kita menyaksikan ada manusia yang kehidupannya  biasa-biasa saja, ia bekerja sebagaimana umumnya kebanyakan. Penghasilannya cukup untuk kebutuhan keluarganya tanpa berlebihan. Namun ia adalah orang taat padanya Tuhannya, sholat  lima waktu betul-betul dijaganya, infaq dan shadaqah menjadi kebiasaannya, shilaturrahim menjadi aktivitasnya. Ia adalah orang yang bertakwa walaupun secara materi kekurangan. Inilah yang dinyatakan Allah SWT dalam QS. 2: 155-157.

Golongan ketiga, ada manusia yang diberikan banyak materi, rumah kost dimana-mana, tanah berkavling-kavling, mobil sejumlah anggota keluarga, ATM penuh tanpa batas. Tetapi ia orang yang lemah dan kurang ghirahnya dalam hal beribadah, bahkan ia tergolong senang bermaksiat. Kondisi semacam inilah yang dinamakan dengan istidraj, kondisi dimana dipenuhi hajat duniawi untuk pada akhirnya menjadi hal yang dimurkai-Nya. Hal ini direkam oleh-Nya dalam QS. 6: 44.

Kelompok terakhir adalah yang melarat di dunia dan sengsara di akhirat. Sudah miskin harta, miskin pula kehidupan keagamaannya. Rumah ngontrak, anak banyak, isteri tidak taat, hutang dimana-mana ditambah lagi dengan kehidupannya yang jauh dari tuntunan agama, tidak nampak aktivitasnya sebagai seorang yang beragama. Sengsara di dunia sengsara di akhirat. Kondisi ini dinyatakan oleh-Nya dalam QS. 20: 124-126.

Dimana posisi kita? Sebagai insan beragama, yang harus diyakini pertama kali adalah bahwa ada kehidupan lagi sesudah kehidupan saat ini dan kehidupan kedua ini sebagai proses akuntabilitas dimasa sebelumnya. Idealnya tentu pada golongan pertama, eksis di dunia dan eksis di akhirat namun setidaknya harapan kita pada kategori kedua. Bahwa kehidupan saat ini untuk mempersiapkan bekal menuju kampung keabadian yang penuh dengan kenikmatan. Semoga*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.