Segala puji hanya milik Allah semata yang senantiasa kita puja, mintai pertolongan dan ampunan. Demikian pula tempat berlindung kepada Allah swt dari mara bahaya hawa nafsu dan semua amal tercela. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah , niscaya tiada satu makhlukpun yang mampu menyesatkan dan barangsiapa disesatkan Allah swt, niscata tiada satu makhlukpun yang mampu memberi petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak mempunyai sekutu satupun dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus Rasulullah saw yang pantas kita teladani. Ya Allah, tiada kata yang selalu terucap baik yang tersirat maupun yang tersurat untuk kedua orang tuaku yang telah melaksanakan amanahNya dalam mendidikku. Engkau maha Rahman dan maha Rahim, sayangilah mereka berdua dan tempatkan mereka di sisiMu beserta dengan orang-orang yang Engkau beri nikmat. Amiin

“Manusia itu termasuk makhluk sosial yang tak pernah luput dari kehidupan makhluk yang lain, yaitu manusia lain. Dengan jelas secara fisik, manusia ada yang sehat dan ada juga yang cacat, ada yang buta, tuli, lumpuh dan kekurangan-kekurangan lainnya yang bersifat jasmaniah. Tetapi dapatkah kita menyebutkan bahwa kekurangan-kekurangan jasmaniah tersebut juga menunjukkan adanya kekurangan dalam segi rojani dan kepribadiannya. Sokrates, misalnya seorang filosof Yunani kenamaan, yang kadang disejajarkan dengan nabi, adalah orang yang amat buruk rupa. Tetapi keburuhan ini tidak dianggap cacat”.[1]

Dari pengungkapan dalam jurnal pendidikan di atas perlu kita pahami bahwa manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani, yang mana antara dua unsur tersebut saling mempengauhi satu sama lain. Dewasa ini, telah muncul gejala yang kurang baik yang menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa, diantaranya adalah kenakalan remaja, tauran, korupsi oleh para pejabat negara. Secara fisik seseorang cakap, intelegensi tinggi, namun itu semua tidak bisa menjamin menjadi orang yang baik, karena baik dan tidak bukan dilihat dari fisik tersebut, tapi rohani atau jiwa yang menentukan baik dan tidaknya pribadi seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :

Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sepotong daging. Jika daging itu saleh, maka seluruh anggota jasad akan menjadi saleh dan jika rusak, maka seluruh anggota jasad juga akan rusak. Ingatlah daging tersebut adalah hati “. HR. Muslim.[2]

Hati akan mati , jika dikotori dengan timbunan dosa dan kemaksiatan. Bahkan, bisa jadi ia akan mati berkali-kali jika dibiarkan tetap dalam keadaannya. Virus-virus hati akan menyerang dengan ganas, jika tanpa kita dirikan tembok penghalangnya. Jalan satu-satunya untuk selamat hanyalah melalui Islam yaitu agama Allah swt yang kekal sepanjang zaman  yang berdasarkan  Al Quran dan Al Hadits yang dijaga Allah swt kesucian dan keotentikannya.

Problema kemasyarakatan dewasa ini sangatlah komplek yang mencakup berbagai kehidupan, mulai dari masyarakat kecil sampai yang paling tinggi keilmuannya, ternyata muncul dan ditemukan orang orang yang berbuat dholim akan dirinya sendiri ataupun pada orang lain, termasuk masyarakat kecil sampai pada pemimpin. Itulah yang terjadi di Indonesia ini bukan mereka orang yang tidak tahu hukum, tapi kadang mereka adalah termasuk orang yang agamis atau ilmuwan. Jika kita kembali kepada semua kejadian tersebut ternyata etika dan moral seseorang yang mampu meredam prilaku-prilaku tersebut, sehingga Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq dan Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah.

 

PENDAHULUAN

Berbagai persoalan dalam negeri tidak henti-henti terutama yang berkaitan dengan karakter bangsa Indonesia, dari mulai masyarakat kecil sampai masyarakat atas banyak terjadi saling sikut, saling tendang, saling olok. Prilaku yang demikian itu sering terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, contoh: pada waktu PILEG dan PILKADA serta PILPRES.

Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.
Sementara itu, masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media masa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negatif seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat. Kelemahan pada unsur keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak menginjeksikan beragam pengaruh negatif pada anak didik. Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negatif kepada pribadi anak didik. Etika dan norma dalam masyarakat sudah mulai terkikis dari sedikit demi sedikit.

 

PENGERTIAN ETIKA, MORAL  DAN PENDIDIKAN

  1. Pengertian etika

Etika /étika/ n 1 ilmu tentang apa yg baik dan apa yg buruk dan tentang hak serta kewajiban moral; 2 kumpulan asas atau nilai yg berkenaan dng akhlak; 3 asas perilaku yg menjadi pedoman.[3] Etika adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang persoalan baik dan buruk berdasarkan akal pikiran manusia(Daud Ali, 2008). Pengertian etika  lazimnya disebut etika moral adalah gambaran rasional mengenai hakekat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa perbuatan dan keputusan tersebut secara normal diperintahkan atau dilarang. Etika juga merupakan kebiasaan moral dan sifat perwatakan yang berisi nilai-nilai yang terbentuk dalam tingkah laku dan adat istiadat. Oleh karena itu penelitian etika selalu menempatkan tekanan khusus terhadap definisi konsep-konsep etika, justifikasi atau penilaian terhadap keputusan moral, sekaligus membedakan antara perbuatan dan keputusan yang baik dan buruk.[4]

Jika kita kaji tentang etika ini sesuai dengan pendapat mu’tazilah yang beranggapan bahwa ukuran baik dan buruk adalah ditentukan oleh akal manusia. Manusia memiliki kualitas akal yang menyebabkannya mampu bahkan menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.[5]

Etika merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat istiadat. Sebagai cabang dari filsafat, maka etika berangkat dari kesimpulan bolgis dan rasio guna untuk menetapkan ukuran yang sama dan disepakati mengenai sesuatu perbuatan, apakah perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah dan pantas atau tidak pantas untuk dikerjakan.[6]

Etika” biasanya dimengerti sebagai refleksi filosofis tentang moral. Jadi etika lebih merupakan wacana normatif, tetapi tidak selalu harus imperatif, karena bisa juga hipotetis, yang membicarakan pertentangan antara yang baik dan yang buruk, yang dianggap sebagai nilai relatif. “Etika” ingin menjawab pertanyaan “Bagaimana hidup yang baik?” Jadi etika lebih dipandang sebagai seni hidup yang mengarah kepada kebahagian dan memuncak pada kebijaksanaan.[7]

  1. Pengertian moral

Moral n 1 (ajaran tentang) baik buruk yg diterima umum mengenai penbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila; 2 kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, bersedia berkorban, menderita, menghadapi bahaya, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan;[8]

Kata moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Kata mos jika akan dijadikan kata keterangan atau kata sifat lalu mendapat perubahan dan belakakangannya, sehingga membiasakan menjadi “morris” kepada kebiasaan moral dan lain-lain dan moral adalah nama sifat dari kebiasaan moral dan moral adalah kata nama sifat dari kebiasaan itu, yang semula berbunyi moralis. Kata sifat tidak akan berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari selalu dihubungkan dengan barang lain. Begitu juga dengan moralis dalam dunia ilmu lalu dihubungkan dengan scientia dan berbunyi scientis moralis, atau philisophia moralis. Karena biasanya orang-orang telah mengetahui bahwa pemakaian selalu berhubungan dengan kata-kata yang mempunyai arti ilmu. Maka untuk mudahnya disingkat jadi moral.[9]

Moral adalah suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.[10] “Moral” merupakan wacana normatif dan imperatif dalam kerangka yang baik dan yang buruk, yaitu keseluruhan dari kewajiban-kewajiban kita. Jadi kata “moral” mengacu pada baik-buruknya manusia terkait dengan tindakannya, sikapnya dan cara mengung-kapkannya.

  1. Pengertian pendidikan

Pendidikan n hal (perbuatan, cara, dsb) mendidik.[11] Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan adalah suatu usaha disengaja yang diperuntukan dalam upaya untuk mengantarkan peserta didik menuju pada tingkat kematangan atau kedewasaan, baik moral maupun intelektual. Pendidikan menurut Al-Ghazali yaitu “Proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, di mana proses pengajaran itu menjadi tanggungjawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah swt sehingga menjadi manusia sempurna”.[12]

Dari pendapat Al Ghazali tersebut di atas, setiap insan bernyawa akan mengalami proses memanusiakan manusia baik disadari maupun tidak disadari, hanya kwalitas memanusiakan manusia ini tentunya berbeda – beda sesuai dengan lingkungannya (formal, informal, nonformal). Namun Neil Postman dalam bukungya “Matinya Pendidikan” mengatakan bahwa manusia akan berhasil menata masa depannya tanpa harus menerima pendidikan.[13] Pendapat Neil sangat bertentantangan dengan konsep pendidikanMemanusiakan Manusia”, manusia  adalah manusia tapi terkadang manusia bisa menjadi lebih rendah dari seekor binatang tanpa pendidikan. Tengok saja anak-anak yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan akan bertindak dan berbuat di luar tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia.[14]

Dan Haidar Baqir di harian Kompas pada tanggal 28 Februari 2003, dengan judul  “Gagalnya Pendidikan Agama” mengungkapkan  kegetirannya tentang pendidikan agama di sekolah – sekolah di Indonesia yang secara general telah dianggap gagal.[15] Jika dilihat dari etika dan moral bangsa yang semakin hari semakin memperlihatkan kebobrokan, memang gagal, namun juga tidak sedikit bangsa Indonesia ini yang memiliki etika dan moral yang tinggi, kenyataannya ketika ada bangsa yang salah masih ada yang mengingatkan dan ini menunjukkan pendidikan agama di Indonesia tidak gagal namun keberhasilannya tidak maksimal karena seorang guru di lembaga formal, informal dan nonformal hanyalah menyampaikan dan memoles dengan etika dan moral, sehingga  anak didik atau sasaran mampu memiliki karekter yang diharapkan.  Karena pendidikan, suatu usaha untuk membentuk etika keilmuaan. Etika dan moral merupakan nilai yang terkandung dalam pendidikan.

 

URGENSI ETIKA DAN MORAL DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan menjadi sarana utama untuk pengembangan SDM, yang sejalan dengan tujuan utama dalam pembangunan nasional yang menekankan kuat pada pengembangan sumber daya manusia (PSDM).[16] Pendidikan dianggap berhasil jika memiliki produk yang unggul, di sini produk yang unggul mencakup pada kognitif, afektif dan psikomotor. Etika dan moral merupakan produk dari kemampuan afektif yang akan sangat mempengaruhi pada prilaku seseorang.

Menurut Soegarda Poerbakawatja, etika adalah filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuannya, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya bentuk perbuatan. Dan Martin (1993), mendefinisikan etika sebagai “the discipline which can act as the performen index or reference for our control sustem”. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standard yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosial.[17]

Dalam filsafat, cukup banyak filsuf yang menaruh perhatian pada etika sebagai ilmu yang membahas moralitas. Masalah etika bahkan sudah dibicarakan semenjak zaman Yunani Kuno antara lain Plato (427-348 S.M.). Dan salah satu filsuf etika yang begitu berpengaruh bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan selanjutnya adalah Immanuel Kant (1724-1804) yang menghasilkan tiga buku yang membahas tentang etika, yaitu Grundlegung Zur Metaphisik der Sitten (The Foundations of the Methaphisics of Moral/pendasaran Metafisika Kesusilaan)-1785, Kritik der praktischen Vernunft (Critique of Practical Reason/kritik akal budi Praktis)-1788, dan Die Metaphysik der Sitten (Metaphysics of morals/Metafisika Kesusilaan)-1797.[18]

Di dalam bukunya Kant, membagi etika dengan dua hal, yaitu 1). Kant membedakan dengan tajam antara bentuk dengan materi atau isi tiap tindakan manusia. 2). Manusia yang bertindak menurut bentuk tindakan berarti ia bertindak menurut pertimbangan atau patokan tertentu. Dengan konsep “Kehendak baik adalah kehendak yang didorong oleh kewajibannya”. Ini berarti manusia terdorong melakukan perbuatan atau tindakan baik karena kepatuhannya pada kewajiban yang dipandang oleh Kant sebagai dasar tindakan moral dan dikenal sebagai hukum moral Kant.

Aristoteles mengartikan etika dibagi menjadi dua, yaitu Terminius Technicus yang artinya etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. dan yang kedua yaitu, Manner dan Custom yang artinya membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia. Aristoteles mengembangkan ajaran filsafat tentang etika dengan tujuan mencapai eudaimonia, kebahagiaan sebagai “barang yang tertinggi” dalam kehidupan.

Menurut Aristoteles (433-355 SM), tujuan akhir manusia adalah mencapai kesenangan badaniah belaka. Manusia tidak akan mencapai kebahagiaan kalau ia pasif dan hanya mau menikmati segala-galanya, melainkan kita harus aktif merealisasikan bakat-bakat dan potensi kita. Sedangkan Epikuros (341- 210 SM) menekankan kesenangan badan dan jiwa sebagai tujuan kehidupan manusia.[19] Kebahagiaan adalah sebuah kesadaran akan rasa puas dan gembira yang berdasarkan pada keadaan tertentu. Manusia dapat merasa bahagia tanpa adanya pengalaman nikmat tertentu, melainkan justru sebaliknya yaitu harus melalui proses pengorbanan dan perjuangan, misalnya mahasiswa harus belajar semaksimal mungkin untuk mendapatkan prestasi yang membahagiakan. Nilai dan pengalaman–pengalaman yang paling mendalam dan dapat membahagiakan seperti mampu mencintai orang lain, bisa membantu orang lain serta bisa berguna bagi banyak orang walau harus memerlukan pengorbanan dan perjuangan, namun hal tersebut dapat memberikan rasa kepuasan dan kebahagiaan bagi seseorang. Kebahagiaan tersebut sifatnya tidak sementara, melainkan bersifat lebih lama dan lebih bernilai bagi hidup manusia.

Sedangkan moral adalah tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika. Moral juga diartikan sebagai ajaran baik dan buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya (Purwadarminto, 1956 : 957).[20]

Moral merupakan prilaku baik dan buruk yang diukur dengan kualitas diri sendiri atau individu. Prilaku baik dan buruk yang tidak memberikan efek kepada orang lain, dengan kata lain moral adalah prilaku yang dilakukan individu dan akan berakibat untuk individu itu sendiri.

Batasan maupun standar dalam kehidupan manusia untuk mencapai pola hidup yang baik dan perbuatan yang baik dalam pergaulan manusia itu disebut etika. Jadi baik atau kebaikan itu memerlukan standard atau batasan yang diatur dalam pergaulan manusia dalam kelompok social. Etika yang sebagai ilmu pengetahuannya yang diterapkan oleh moral tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dari etika dan  moral inilah yang akan membentuk manusia yang seutuhnya, sehingga tumbuh kebaikan yang akan mencapai kebahagiaan baik untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

Pendekatan Paul Ricoeur terhadap penggunaan istilah “moral” dan “etika” memberi nuansa baru. Dia mengaitkan kedua istilah tersebut pada dua tradisi pemikiran filsafat yang berbeda. istilah “moral” dikaitkan dengan tradisi pemikiran filosofis Emmanuel Kant (segi pandang deontologis). Moral mengacu pada kewajiban, norma, prinsip bentindak, suatu imperatif (“kategoris” = aturan atau norma yang berasal dari akal budi yang mengacu padi dirinya sendiri sebagai keharusan). Sedangkan “etika” dikaitkan dengan tradisi pemikiran filosofis Aristoteles yang lebih bersifat “teleologis” (dikaitkan dengan finalitas atau tujuan). Maka Paul Ricoeur mendefinisikan “etika” sebagai tujuan hidup yang baik bersama dan untuk orang lain di dalam institusi yang adil.[21]

Para pendidik punya tanggungjawab yang besar dalam upaya mempersiapkan anak bangsa sebagai pelaksana pembangunan nasional yang kokoh untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan UUD 1945 yang tercantum dalam UU RI Nomor 20  2003 menegaskan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam pengembangan sumber daya manusia (PSDM) untuk mencapai tujuan pembangunan nasional merupakan PR  bagi pendidik dalam menyampaikan pesan etika dan moral sebagai pondasi anak bangsa dalam menjalankan roda keilmuannya, maka etika dan moral dalam dunia pendidikan terbangun dalam pengembangan potensi diri bangsa dalam memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan anak bangsa.

Etika dan moral merupakan barometer baik dan buruk prilaku seseorang dan yang menentukan pribadi seseorang dalam pergaulan. Jika seseorang berkata: “pembantu rumah tangga itu amat jujur”, maka “jujur” merupakan kualitas moral, artinya kualitas manusia sebagai manusia. Bisa saja pembantu rumah tangga itu bodoh. “Jujur” merupakan penilaian moral, sedangkan bodoh merupakan penilaian kemampuan atau ketrampilan berpikir.

Meskipun kenyataan dalam kehidupan ini banyak orang Islam yang tekun ibadah, haji berkali-kali masih juga korupsi, yang intinya mendholimi orang lain, walaupun dengan dalih apapun. Etika dan moral dalam Islam yang disebut dengan akhlak  jelas sekali akan terlihat berhasil dan tidaknya seorang pendidik dalam mentrasnfer ilmu-ilmunya secara komplit yaitu transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality).

Dan banyak ayat-ayat Allah swt yang menjelaskan tentang kebaikan, namun di sini lebih tegas bahwa Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw untuk menyempurnakan akhlak.

Contoh: percakapan seseorang “Suatu ketika saya pergi bersama seorang teman untuk mendaftarkan adik perempuannya ke sebuah akademi perawat di Iskandaria. Di sana kami menyerah-kan semua berkas kepada seorang karyawati bagian pendaftaran. Kami mendapat pelayanan yang baik. Setelah memeriksa berkas-berkas itu ia lalu menunjukkan syarat-syarat yang harus dilengkapi, dengan penuh sopan santun. Ketika pulang, teman saya ini bertanya tentang keahlian karyawati yang telah melayani dengan baik tadi. Lalu saya katakan kepadanya, "Menurut saya keahlian-nya terletak pada akhlaknya yang lembut!" Inilah keahlian hakiki yang dapat menyelesaikan segala tantangan, dan ini lebih utama dari pada ijazah dan keahlian.[22]

 

KESIMPULAN

Etika lebih dipandang sebagai seni hidup yang mengarah kepada kebahagian dan memuncak pada kebijaksanaan. Sedangkan “moral” mengacu pada baik-buruknya manusia terkait dengan tindakannya, sikapnya dan cara mengung-kapkannya.

Jadi dalam proses pendidikan seorang pendidik terutama pendidik  PAI tidak hanya menstransfer ilmu pengetahuan saja namun disertai dengan memoles karakter yang dimiliki anak didik dengan etika dan moral, sehingga menjadi penerus bangsa yang berkepribadian. Etika dan moral yang saat itu udah mulai punah oleh pengaruh tehnologi, seorang pendidik harus mampu memanfaatkan tehnologi untuk menerapkan etika dan moral dalam proses pendidikan.

Pendidikan agama Islam yang berkaitan  pembentukan karakter dengan etika dan moral mempunyai peran yang luar biasa, jika seorang pendidik mampu mengaplikasikan etika dan moral tersebut pada proses pendidikan yang baku tapi luwes, sehingga anak didik tidak pernah merasa terbebani dengan aturan-aturan yang selama ini banyak anak yang menganggap aturan-aturan(etika dan moral) tersebut hanya untuk orang-orang tua atau tidak gaul.

Demikian penulis akhiri tulisan ini semoga bermanfaat untuk kita semua untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki dengan “hablum minallah dan hablum minannas” Alhamdulillahirrabbil’alamiin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al Mundziri, Ringkasan Shohih Muslim terjemah,bab.al Musaqah 

Al Mawardi, etika, moral dan akhlak-jurnallenteralPPMIMuslimBereu.pdf

Abidin Ibnu Rusn,(2009)” Pemikiran Al Ghazali tentang pendidikan” Yogyakarta :Pustaka Pelajar , cet. II

Bambang Setyono(2011)Etika, moral dan bunuh diri lingkungan dalam persepektif ekologi, cet. I

Ninik Masrurah dan Umiarso (2011), Modernisasi Pendidikan Islam, Yogjakarta : Ar Ruzz Media, Cet. I

Zubaidi (2012), filsafat pendidikan islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,  Cet. I

Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahus(2011), Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, Cet.

Susilawati, Suryani dan Dhanu Koesbyanto(2010), Urgensi Pendidikan Moral suatu upaya membangun Komitmen, Yogyakarta: Surya Perkasa, Cet. Kedua

Syekh Abbas Hasan As-Siisi, At Thoriq ilal Qulub, bab. Akhlak lebih mulia dari keahlian

Artikel Jurnal Pendidikan

http://www.artikelbagus.com/2012/03/artikel-jurnalpendidikan.html#ixzz3FQshPuuV

http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/sumbang-makalah.html

http://www.kemenag.go.id/file/dokumen/UU2003

 

[1] Artikel Jurnal Pendidikan

[2] Al Mundziri, Ringkasan Shohih Muslim terjemah,bab.al Musaqah, no. 1599

[3] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2008,Kamus Bahasa Indonesia, Hal. 399

[4] Artikel Jurnal Pendidikan 

[5] Al Mawardi, etika, moral dan akhlak-jurnallenteralPPMIMuslimBereu.pdf, hal. 78

[6] http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/sumbang-makalah.html

[7] Susilawati, Suryani dan Dhanu Koesbyanto(2010), Urgensi Pendidikan Moral suatu upaya membangun Komitmen, hal. 16

[8] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2008,Kamus Bahasa Indonesia Hal. 971

[9] Prabang Setyono(2011), Etika, Moral dan bunuh diri lingkungan dalam perspektif ekologi, hal. 66

[10] Al Mawardi, etika, moral dan akhlak-jurnallenteralPPMIMuslimBereu.pdf, hal. 78

[11] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2008,Kamus Bahasa Indonesia, hal. 352

[12] Abidin Ibnu Rusn,(2009)” Pemikiran Al Ghazali tentang pendidikan” Pustaka Pelajar , cet. II. Hal. 56

[13] Ninik Masrurah dan Umiarso (2011), Modernisasi Pendidikan Islam, Yogjakarta : Ar Ruzz Media, Cet. I, Hal. 1

[14] http://www.artikelbagus.com/2012/03/artikel-jurnal-pendidikan.html#ixzz3FQshPuuV

[15] Ninik Masrurah dan Umiarso, hal. 16

[16] Zubaidi, filsafat pendidikan islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2012, Cet. I , hal. 281

[17] Bambang Setyono(2011)Etika, moral dan bunuh diri lingkungan dalam persepektif ekologi, cet. I , hal. 47

[18] Bambang Setyono(2011),  hal. 68

[19] Susilawati, Suryani dan Dhanu Koesbyanto(2010), Urgensi Pendidikan Moral suatu upaya membangun Komitmen, hal. 90

[20] Bambang Setyono(2011),  hal 66

[21] Susilawati, Suryani dan Dhanu Koesbyanto(2010), Urgensi Pendidikan Moral suatu upaya membangun Komitmen Urgensi Pendidikan Moral, hal. 17

[22] Syekh Abbas Hasan As-Siisi, At Thoriq ilal Qulub, bab. Akhlak lebih mulia dari keahlian.

Penulis Opini: 
NURUL QIBTIYAH, S. AG