Oleh Sholihin H. Z.

(Penulis Buku The Power Of Ikhlas)

Perubahan dalam konsepnya selalu membawa konsekuensi, dari sikap ini kemudian memunculkan kelompok yang selalu welcome dengan perubahan, perubahan tergantung suasana hati hingga anti perubahan (zona nyaman). Derasnya informasi dan canggihnya teknologi di tengah globalisasi membuat persaingan semakin ketat. Kondisi ini dilihat dari sisi positifnya hendaknya mampu membangun daya saing. Dunia pendidikan, khususnya tenaga pendidik menjadi bagian penting untuk menyikapi hal ini.

Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan, membagi tipikal guru dari sisi waktu kepada dua pembagian besar yaitu guru dengan digital immigrants dan digital natives.

Digital immigrant diartikan sebagai generasi yang datang dan berkecimpung dalam dunia pendidikan yang kondisi saat itu belum berkembangnya teknologi komputer, internet, gadget dan sejenisnya. Sesuai dengan namanya, kelompok ini datang saat dunia sekitar sudah dikelilingi dengan kecanggihan teknologi, jika dikategorikan mereka sudah pada usia dosen senior, pejabat dan guru-guru sepuh. Menyikapi kondisi inilah, maka penguasaan teknologi kepada siapapun termasuk kelompok ini terus digalakkan supaya tidak gaptek(gagap teknologi).

Sekedar berbagi memori, yang memasuki usia pendidikan dasarnya sekitar tahun 1970-1980-an, pembelajaran matematika dengan menggunakan lidi adalah metode dan alat bantu yang digunakan umum dimana-mana, ternyata dari hal yang sedemikian mengajarkan sikap untuk menggunakan media apa saja yang dapat digunakan untuk memudahkan siswa menerima pelajaran, dan hasilnya adalah seperti yang menduduki posisi saat ini.

Sementara digital nativesadalah mereka yang lahir dan tumbuh dimana suasana lingkungan sudah serba canggih, serba digital dan dengan penguasaan teknologi yang kadang mengalahkan kelompok sebelumnya. Mereka adalah generasi internet. Serahkan saja alat komunikasi yang canggih bagaimana, mereka akan mampu menggunakannya dengan lihai, selihai tupai melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Sungguh luar biasa, dunia dekat dan berada di sekitar mereka. Tetapi tentu bahwa media dan alat adalah sebatas alat yang posisi berada di tengah-tengah, netral tergantung siapa penggunanya. Kecanduan pada gadget setidaknya berpengaruh pada hilangnya waktu berkualitas untuk beraktifitas sesuai dengan gerak dan kinestetik seusianya, selain anak akan melupakan pentingnya interaksi sosial yang seharusnya ia lakukan. Cenderung anti sosial, menyendiri dan senang diam tanpa ada reaksi apapun terhadap kejadian sekelilingnya. Disinilah peran keluarga (orang tua) untuk memgalihkan perhatian dan mengontrolnya. Orang tua harus memegang kendali pendidikan anak, termasuk penggunaan gadget dan sejenisnya ini.

Bagaimana dengan guru digital? Guru digital adalah sosok guru yang dipersepsikan sebagai seorang yang dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dekat dengan dunia digital, internet, faham aplikasi dan sebagainya. Ringkasnya adalah adalah sosok pendidik yang dalam pembelajarannya selalu berbasis teknologi (IT). Adanya guru digital bukan lagi sebagai ajang gaya dan "mejeng" tapi sudah merupakan kebutuhan, sederhananya, informasi untuk pertemuan sudah sedikit dengan surat tertulis tapi sudah dengan SMS, WA dan sebagainya.

Dalam buku Desentralisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan (Dwiningrum, 2011)disebutkan tentang hasil penelitian sekolah unggulan. Apa yang menjadi indikasi sekolah unggulan, jawaban beragam muncul diantaranya sekolah unggul jika memiliki gedung yang representatif, jika sarana dan prasarananya lengkap, jika SDM-nya adalah tenaga yangmemenuhi kualifikasi dan berkompeten. Pertanyaan mengerucut jika dihadapkan pada guru dan alat (sarana dan prasarana) manakah yang harus diberikan perhatian lebih? Sepakat, guru atau SDM-nya harus diperkuat dan dimaksimalkan potensinya.

Dari hal di atas, dapat difahami bahwa keberadaan guru menjadi faktor kunci untuk keberhasilan sebuah proses pembelajaran. Akhirnya tulisan ini mengajak pada pembaca bahwa secanggih apapun teknologi, selengkap apapun media digital akan berujung pada sejauh mana kompetensi guru menggunakan sarana yang ada, jika tidak, berarti mutu guru kembali ke beberapa dekade sebelumnya.

Adanya guru digital menjadi sebuah konsekuensi yang harus ditindak lanjuti oleh siapapun yang menggeluti profesi ini. Kita tidak tahu bagaimana generasi pasca era digital ini, entahlah,yang pasti kita saat ini sedang berada di dalamnya. Guru Digital, Sebuah Keharusan. **

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.