Isra Miraj, sebagaimana umum diketahui adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha, Palestina, sampai ke Sidratil Muntaha, kemudian Rasulullah pulang membawa perintah Allah SWT berupa shalat lima waktu. Sholat lima waktu inilah yang kemudian menjadi tolor ukur keberimanan seorang muslim, namun sesungguhnya wujud keberimanan yang dikehendaki tidak berhenti pada formalitas belaka, dalam kaitan dengan memahami makna tersirat dari sebuah perintah adalah bahwa pesan apa yang harus dapat ditranformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebermaknaan dari ibadah formal dan ritual adalah pesan sesungguhnya. Ketika semakin dirasakan manfaatnya oleh sekitarnya, ketika keberadaannya bernilai dan memiliki arti maka ketika itulah nilai sebuah akifitas formal mendapat nilai plus dan bernilai guna.

Sementara istilah tazkiyatun nafs secara etimologi adalah penyucian jiwa. Kata ini dimaksudkan bahwa pembersihan hati adalah proses yang sangat penting dalam rangka mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Allah SWT. Mengenali diri dengan kelemahan dan kelebihannya, mengendalikan dan mengarahkannya untuk kebaikan adalah diantara konsep tazkiyatun nafs ini. Menurut Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang terkenal dengan kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa, Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa hati manusia ibarat cermin. Apa yang ada dicermin adalah pantulan dari sesuatu yang benar adanya. Tetapi, cermin juga akan memberikan gambaran yang berbeda jika bentuk cermin tidak sempurna, atau ada kotoran dan karat dipermukaan cermin, atau ada tabir yang menghalangi antara cermin dan benda dan atau cermin menyimpang dari arah benda. Namun demikian, bahwa apa yang dipantulkan dari cermin sesungguhnya merupakan pantulan dari hati manusia dan itu tazkiyatun nafs adalah bagian dari proses penyucian jiwa tersebut.

Isra Miraj sebagai sebuah peristiwa yang kontroversial namun fenomenal ini lebih-lebih dikala peristiwa itu terjadi adalah sebuah media untuk tazkiyatun nafs. Artinya, message utama dari peristiwa itu adalah bahwa Allah SWT memberikan dan menyediakan satu ibadah mahdhah yakni sholat sebagai media untuk penyucian diri. Allah SWT sangat tahu dengan keadaan makhluknya bahwa  dengan fasilitas dunia yang ada tidak sedikit membuat manusia lalai (QS At-Takatsur/102: 1); bahwa manusia adalah bersifat tergesa-gesa. (QS. Al-Isra’/17: 11); bahwa manusia senang melampaui batas (Q.S Al-Alaq/96: 6) dan bahwa manusia itu suka berkeluh-kesah. (QS. Al-Ma’arij/70 : 20).

Dengan segala kelemahan ini, Allah SWT memberikan ruang untuk penyadaran diri dan pemaknaan arti hidup dan ini juga untuk manusia itu sendiri.

Dalam memahami Isra Miraj sesungguhnya tidak hanya dibatasi sebagai sebuah perjalanan dengan lintas ruang dan waktu dan membawa membawa oleh-oleh berupa sholat. Yang harus dipahami lebih jauh adalah bahwa jauhnya perjalanan Rasulullah SAW yang kemudian kembali pada kehidupan keseharian mengisyaratkan bahwa perjalanan spiritual tidak serta merta melupakan persoalan sosial. Kembalinya Nabi Muhammad SAW dari Mi'raj di Sidratul Muntaha adalah bagian dari kepeduliannya terhadap dunia dan persoalan-persoalan sosial yang terkandung di dalamnya.

Ini menunjukkan, misi profetik (kenabian) Muhammad SAW tidak hanya urusan langit (urusan ketuhanan), tapi juga masalah-masalah bumi (keduniawian), masalah sosial yang tengah dihadapi umat manusia. Karena itu, misi profetik dari Mi'raj Nabi memiliki dua hal penting: spiritual dan sosial.

Sholat sebagai ritual formal yang menjadi grand thema dalam peristiwa fenomenal ini setidaknya mengajarkan kepada kita tentang tiga hal.

Pertama, sholat yang diawali dengan takbiratul ihram adalah sebagai simbol dari rendah hati.  Merasa rendahnya seorang yang lemah dihadapan Yang Maha Kuasa, merasa tidak berdaya dihadapan Yang Maha Perkasa dan merasa tidak punya apa-apa dihadapan yang Maha Kaya. Kepala, yang secara anatomi berada pada posisi paling atas, penghormatan ada padanya, kekuatan dan kedahsyatan fikiran ada di dalamnya tapi manakala sujud dihadapan Allah SWT, sama rendahnya dengan telapak kaki yang sehari-hari jadi pijakan kita saat berdiri, benar-benar penghambaan seorang yang dhoif dihadapan Allah SWT.

Rendah hati adalah lawan dari sombong. Orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain. Padahal setiap kita pasti memiliki nilai kelebihan yang seharusnya saling melengkapi dan mendekatkan. Tidak mungkin mengukur pakaian orang lain dengan ukuran badan sendiri.

Kisah berikut kiranya dapat memantik rasa menghargai orang lain. “Suatu hari ada seorang profesor yang ingin refreshing dengan menelusuri sungai. Ia menyewa sebuah perahu dengan tukang kayuhnya. Saat menelusuri sungai, sang profesor mulai memamerkan kecerdasan dan pengetahuannya, lalu ia mengajukan pertanyaan untuk menguji pengetahuan si tukang perahu.

Sambil menunjukkan batu yang diambilnya dari tepi sungai, si profesor bertanya kepada tukang perahu. “Pak, anda pernah belajar geologi?”, tukang perahu menatap profesor dengan bingung dan menjawab, ‘ eh ... tidak Pak”, dalam hati tukang perahu berujar, akupun tidak tahu apa itu geologi.“Kalau begitu”, kata profesor. “Karena ketidaktahuanmu, hidupmu tidak bermakna dan hilang 25%”. Sungguh tidak nyaman perasaan hati si tukang perahu, namun ia terus mendayung perahunya.

Perahu terus melaju, si profesor kemudian memungut selembar daun yang mengambang di permukaan sungai dan bertanya kepada si tukang perahu, “Pak, pernah Bapak belajar botani?” Dijawab tukang perahu, “apa tuh Pak? Saya ndak pernah belajar itu”. Kemudian dibalas oleh profesor dengan menyatakan bahwa karena ketidaktahuan tukang perahu tentang botani, sesungguhnya nya tidak bernilai dan kehilangan 50%. Perahu terus melaju dan arus sungai semakin kuat dan perahu mulai berguncang keras. Tiba-tiba si profesor melihat barisan gunung dan menunjuk ke sana dengan bertanya, “Pak, Bapak tahu apa itu geografi?”, Lagi-lagi tukang perahu menjawab dengan jawaban yang serupa. “Jika demikian”, kata profesor, “hidup Bapak tidak berarti dan kehilangan 75% dalam hidup Bapak”.

Dalam perjalanan selanjutnya, air sungai semakin deras dan si tukang perahu kehilangan kendalinya, akhirnya perahu itu menghantam batu yang mengakibatkan perahunya bocor dan akan tenggelam. Dalam suasana seperti itu, giliran tukang perahu balik bertanya, “Pak, Bapak bisa ndak berenang?, dengan ketakutan profesor menjawab bahwa ia tidak bisa berenang. “Kalau begitu, hidup Bapak tidak ada nilainya Pak, dan Bapak kehilangan 100%”, demikian ujar si tukang perahu sambil meloncat ke luar perahu dan dengan sekuat tenaga bergerak cepat menyelamatkan diri ke tepian sungai”.

Pembelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita di atas? Setidaknya ada tiga hal yang harus kita renungkan. Pertama, bahwa kesombongan karena  ilmu yang dimiliki bukan berarti harus meremehkan orang lain yang seakan-akan ilmu yang dimiliki telah paripurna. Sebagaimana kesombongan Iblis kepada Adam karena merasa lebih baik dari unsur penciptaan maupun senioritas keberadaan (kholaqtani minnari wa kholaqtahu min thin). Kedua, berbicaralah sesuai takaran pengetahuan atau kematangan orang yang diajak bicara sehingga komunikasi yang terjalin bisa lebih panjang, akrab dan menyenangkan. Inilah yang disebutkan dengan berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan ukuran kemampuannya. Hal ini dimaksudkan supaya massage atau pesan dapat diterima dan difahami. Ketiga, mengukur orang dengan kondisi yang ada pada kita bukanlah sesuatu yang bijak, justru yang muncul adalah semakin jauhnya jarak meskipun dalam tempat yang berdekatan.

Kedua, sholat mengajarkan untuk santun kepada sesama. Hal ini ditunjukkan dengan menebarkan salam usai sholat ke kanan dan ke kiri. Demikian juga siapapun yang usai sholat tetap disyariatkan mengucapkan salam dan bukan menjawab salam meskipun dalam jamaah yang ramai. Tidak diajarkan seorang yang berada di sebelah kanan mengucapkan salam usai sholat kemudian dijawab oleh jamaah yang sebelah kiri. Ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus aktif mengajarkan dan menebarkan kedamaian. Ucapan salam adalah ucapan penghuni surga. Artinya, apa yang dikeluarkan adalah nilai kebaikan dan mendoakan keselamatan untuk siapapun. Siapapun harus menebar manfaat, semakin bermanfaat seseorang maka akan semakin tinggi nilainya dihadapan manusia dan insya Allah di hadapan Allah SWT.

Terakhir, sholat mengajarkan manusia muslim untuk bersikap thuma’ninah. Thuma’ninah adalah sikap yang tenang, tertib dan antri. Seorang yang mampu memahami arti sholat dengan sebenarnya akan lebih bersikap tenang dalam berfikir dan tenang dalam bersikap. Thuma’ninah adalah satu syarat diantara syarat lainnya untuk khusyu dalam sholat selain tafahhum (memahami sholat) dan menghayatinya. Seorang yang memahami esensi sholat dengan benar akan kelihatan dalam pola fikir dan sikapnya yang tenang dan teratur. Waktu sholat yang sudah diatur sedemikian rupa memberikan efek penyadaran diri  (self awarness) bahwa kerja adalah ibadah dan ibadah ditunjukkan dengan kerja.

Gerakan sholat yang teratur saat ruku, tenang saat i’tidal, tidak tergesa-gesa saat sujud dan duduk di antara dua sujud sarat dengan pesan-pesan moral yang hendaknya setiap kita dapat memaknainya secara cerdas. Bukankah harapan kita adalah jika kita dapat melaksanakan segala sesuatu dengan tertib, tidak menyalahi sistem yang ada yang itu hanya akan merusak tatanan sosial yang berlaku. Seorang muslim harus jelas arah hidupnya, darimana ia berasal, untuk apa ia hidup dan apa yang harus disiapkan untuk sebuah kehidupan yang hakiki.

Setidaknya tiga nilai inilah yang merupakan bagian dari tazkiyatun nafs sehingga kita tidak hanya berhenti pada legalitas formal belaka yang kering dari pesan-pesan sosial dan spiritualnya. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.