Ada empat hal yang pasti dilakukan dan dialami manusia, keempat hal itu adalah manusia pasti pernah berbuat baik, pasti pernah berbuat salah, pasti mendapatkan nikmat dan pasti pernah mendapat musibah. Keempat hal ini jika dilihat secara lahiriah mendatangkan kebahagiaan dan kebanggaan pelakunya, syukur dan sabar menjadi sayap yang efektif untuk menyikapinya, demikian istilah yang dikemukakan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam kajian tasawufnya. Syukur sebagai respon wajib terhadap berbagai kenikmatan yang diperoleh dan sikap sabar yang menunjukkan cerdasnya spiritual seseorang atas musibah yang diterima.

Apakah semua kebaikan akan diterima Allah SWT? Diterima atau tidaknya amal manusia adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas kita adalah menaburkan kebaikan dimanapun kita berada. Ia yang memiliki otoritas penuh untuk menolak atau menerima, sehingga malaikat pun tidak bisa mendeteksi apakah amal manusia diterima atau tidak. Karenanya kebaikan betul-betul akan murni bernilai kebaikan jika ikhlas menjadi kuncinya. Ikhlas tersembunyi dan tidak nampak, tidak bisa diukur sebagaimana QS. al-Ikhlas yang kata itu tidak ditemukan dalam rentetan ayatnya yang empat tersebut. Tetapi bahwa ikhlas manakala menjadi dasar untuk setiap perbuatan maka ia mampu mengundang turunnya pertolongan Allah SWT, datangnya rahmat Allah SWT dan memancing tibanya bantuan-bantuan lain yang terkadang tidak kita sangka kehadirannya (min haitsu la yahtasib).

Kisah sederhana berikut ini kiranya mampu memantik dan menstimulus kita sekaligus meyakini bahwa amal yang ikhlas akan berbalas lebih dari Sang Penguasa Alam ini dan Penggenggam jiwa kita, Allah SWT. Komaruddin Hidayat dalam bukunya Penjara-penjara Kehidupan (2016: 227) juga mengisahkan tentang ikhlas ini.

Di suatu desa terdapat seorang ustadz yang cukup disegani, ia terkenal dengan orang yang rajin bershadaqah. Didorong oleh rasa hormat kepada ustadz tersebut, seorang warga desa mendatangi ustadz untuk memberikan buah tangan atau hasil palawija berupa singkong, pepaya dan sayur-sayuran. Kepada ustadz ia berucap, “Ustadz, ini saya bawakan hasil kebun saya, mudah-mudahan Ustadz sudi menerimanya”, Ustadz itupun terharu dengan kepolosannya sehingga menggerakkan hatinya untuk membalas kebaikan itu dengan kebaikan pula sambil mendoakan semoga hasil panen warga tersebut semakin berlimpah.

Kepada warga desa yang telah menghadiahinya hasil panen, sebagai ucapan terimakasih Ustadz membalas kebaikannya dengan memberikan seekor kambing yang gemuk, dengan harapan mudah-mudahan dapat beranak-pinak dan sehat-sehat. Betapa gembiranya warga tersebut karena dihadiahi seekor kambing, hal yang di luar dugaannya. Berita kebaikan ustadz ini tersebar hingga sampai pada salah satu warga lainnya sambil berpikir, kalau saja tetangganya bershadaqah singkong kepada Ustadz diberi balasan seekor kambing, bagaimana kalau sekiranya ada orang yang bershadaqah kambing, kemungkinan sapi yang akan diberi Ustadz.

Keesokan harinya datanglah warga tersebut ke rumah Ustadz sambil membawa seekor kambing, “Semoga ustadz akan membalasnya dengan memberi hadiah seekor sapi pada saya,” bisiknya dalam hati. Saat menerima kambing itu, Ustadz pun berujar, “Terimakasih atas kebaikan hatimu. Sekadar sebagai tanda terimakasih, ini saya hadiahkan sekeranjang singkong dan pepaya, pasti anak dan isterimu akan senang”. Betapa kecewanya warga tersebut, apa yang diharapkannya tidak sesuai apa yang terjadi dan ia harus membawa pulang sekeranjang singkong dan pepaya.

Kisah di atas, mengajarkan kepada kita bahwa keikhlasan merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan hidup. Dengan ikhlas tidak ada caci maki, dengan ikhlas tidak ada tidak ridho terhadap apapun yang diterima, dengan ikhlas tidak akan muncul sikap haus pujian dan bentakan hinaan. Dengan ikhlas, akan mendatangkan berbagai kenikmatan lainnya dan demikian juga sebaliknya, jangan sekali-kali mengadakan perhitungan antara amal kita dengan luasnya rezeki dari Allah SWT.

Jika demikian, dimana urgensinya amal yang kita lakukan, karena kita tidak tahu amal apa yang kita lakukan dengan ikhlas, kita tidak tahu amal apa yang diterima Allah SWT karenanya, lakukanlah kebaikan meskipun itu kecil dan terkesan sangat sepele, singkatnya lakukan kebaikan sekecil apapun karena kita tidak tahu amal apa dan yang mana yang diijabah Allah SWT.

Mungkin kebaikan karena kita menyampaikan salam dari seseorang kepada orang lain, mungkin karena kebaikan menunjukkan arah jalan pada orang yang bertanya, mungkin hanya menyiapkan sandal untuk orang tua kita yang akan berangkat, mungkin karena menyingkirkan halangan di jalanan entah pelepah kelapa, entah paku dan sebagainya dan masih banyak kebaikan-kebaikan lainnya. Karena kita tidak tahu amal apa yang dipandang baik dan ikhlas karena-Nya. Wallahul Muwafiq.**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z., M. Pd. I