Bismillah…

Pagi ini, cari ide untuk bahan tulisan di status fesbuk teman-teman. Banyak sekali yang bisa dijadikan bahan tulisan dan harus saya save di buku agenda. Namun satu yang membuat saya tertarik di antaranya adalah tulisan berikut yang saya tidak tahu siapa penulis awalnya. Ini karena kebiasaan buruk kita yang suka bilang COPAS tanpa menyertakan penulis aslinya atau pemilik akunnya. Begini sedikit isi tulisan tersebut….

Zaman dahulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Zaman sekarang, orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya.

Dahulu, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diamalkan dan diajarkan. Sekarang, ilmu diunduh, disimpan dan dikoleksi, lalu diperdebatkan.

Dahulu, butuh peras keringat dan banting tulang untuk mendapatkan ilmu. Sekarang, cukup peras kuota internet sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.

Dahulu, ilmu disimpan di dalam hati, selama hati masih normal, ilmu tetap terjaga. Sekarang, ilmu disimpan di dalam memori gadget, kalau baterai habis, ilmu tertinggal. Kalau gadget rusak, hilanglah ilmu.

Dahulu, harus duduk berjam-jam di hadapan guru penuh rasa hormat dan sopan, maka ilmu merasuk bersama keberkahan. Sekarang, cukup tekan tombol atau layar sambil tidur-tiduran, maka ilmu merasuk bersama kemalasan.

Sampai di sini, saya hentikan sejenak jemari saya untuk mengetik. Saya baca ulang karena tulisan ini begitu menohok diri sendiri. Tulisan ini menyinggung banyak orang , termasuk saya dan mungkin juga anda yang membaca tulisan ini.

Coba baca ulang lagi, mungkin kita lah pelaku dalam tulisan tersebut. Jika dulu kita sering mendengar istilah si kutu buku, orang yang sering berkutat dengan buku, identik dengan kaca mata tebal, identik dengan gelar si pintar, maka sekarang mungkin kita akan temukan istilah si kutu android. Si kutu android ini lebih banyak menghabiskan waktu di depan android/gadgetnya dibanding bersama al qur’an, buku-buku agama dan buku bermanfaat lainnya. Bahkan mungkin android lebih sering dipegang jemarinya di banding tangan istri maupun anak-anaknya.

Mungkin ia dapat banyak ilmu melalui androidnya, tapi ilmu tersebut sama sekali tidak membekas dalam hatinya sehingga membuatnya tidak berminat untuk mengamalkannya. Bahkan mungkin pernah kita temui orang yang memperbanyak koleksi artikelnya agar punya modal untuk mendebat teman-temannya.

Ini renungan untuk kita bersama. Jangan sampai kita menjadi si kutu android. Ingatlah bahwa kita akan ditanya tentang harta yang kita miliki, dari mana kita dapatkan dan ke mana kita manfaatkan, termasuklah dalam hal ini android yang kita miliki dan kuota yang kita beli.

Semoga Allah memberikan kita semua petunjuk dan hidayah-Nya. Aamiin

Penulis Opini: 
Herlin : Penyuluh Kementerian Agama Kota Singkawang