Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Allah SWT menyatakan bahwa pada awalnya manusia berada pada kondisi yang lemah, tidak punya apa-apa dan tidak berdaya, namun karena sayang-Nya kepada kita melebihi dari sayang seorang ibu kepada anaknya, rahmat-Nya mengalahkanya murka-Nya,  kasih-Nya mengalahkan benci-Nya, diberikannya tiga hal ini kepada makhluk-Nya yang  tidak sedikit  kadang malah menentang perintah-Nya.

Hadits qudsi tersebut bermakna demikian, diriwayatkan dari Abi Dzar, dia berkata,bahwa Nabi SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali siapa yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberi petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hambaKu, kalian semua adalah fakir, kecuali orang yang Aku beri kekayaan, oleh sebab itu mintalah rezeki kepadaKu, tentu Aku memberi kalian rezeki.  Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian semua adalah berdosa, kecuali orang yang Aku beri pengampunan, maka mohonlah ampun kepadaKu, tentu Aku akan mengampuni kalian”.

Secara sederhana dapat dicontohkan, kala kita berjalan menuju tujuan, kemudian ada petunjuk setidaknya petunjuk ini memberi arah dan kompas mengenai jarak tempuh, jalan mana yang bagus dan lurus, apa yang akan dilewati, tentu tujuan yang diharapkan akan semakin jelas dan nyata.  Namun manakala kita berjalan di tempat yang asing, belum pernah dikunjungi sementara petunjuk dan bimbingan tidak ada sama sekali, tidak menutup kemungkinan perjalanan yang dilakukan bukan mendekati malah menjauhkan.

Komaruddin Hidayat dalam bukunya Agama Punya Seribu Nyawa (2012:33) memberikan illustrasi menarik. Al-Quran sebagai petunjuk baru akan betul-betul berfungsi jika syarat-syarat berikut ini terpenuhi yaitu: (1) sebuah petunjuk akan berfungsi jika orang-orang disekelilingnya  mampu menangkap pesan dari petunjuk itu. Jika orang itu tidak dapat menangkap petunjuk dan pesan itu maka petunjuk itu tidak akan berfungsi sebagaimana harapan yang diinginkan. Dari sisi inilah, pengetahuan akan sesuatu sangat diperlukan, karenanya Al-Quran diturunkan dalam bahasa yang mudah difahami (bahasa manusia) seperti disebutkan dalam Q.S. Ibrahim/14:4; (2) sebuah petunjuk adalah arah yang harus diikuti, ibarat jalan raya yang diberi tanda atau petunjuk lalu lintas. Setiap orang faham dengan tanda itu, belok kanan atau belok kiri jalan terus dan sebagainya namun orang tersebut tidak mau taat dengan petunjuk itu maka ia tidak akan mengantarkan orang tersebut pada sasaran yang dituju. Sebuah sikap kesadaran akan hukum berlalu lintas menjadi pentingnya karenanya; (3) petunjuk dapat diibaratkan sebuah resep dokter, dengan berbagai ketentuan dan syarat untuk penyembuhan maka si pasien harus mengikuti arahan sang dokter, jika tidak, maka penyembuhan tidak akan berjalan dengan baik dan target penyembuhanpun jauh dari yang diharapkan. Dari hal ini, sikap disiplin mengikuti petunjuk diperlukan.

Al-Quran berisi petunjuk dan arahan hidup manusia yang disampaikan dengan bahasa yang dapat difahami dengan penggunaan berbagai ilmu alat (bahasa), arahannya jelas dan keuntungan yang didapat tidak hanya jasmani tapi juga rohani, penguatan fisik dan psikis, olahrasa dan jiwa, untuk kebahagiaan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat, namun ternyata manusia secara jelas tidak mau mengikuti petunjuknya dan bahkan menganggap petunjuk itu sudah expire dan kadaluarsa, maka yang terjadi adalah ketimpangan kehidupan, kacaunya ekosistem, dan kerusakan dimana-mana.

Selanjutnya manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak membawa apa-apa dan tidak ada yang melekat dibadannya, keadaannya fakir, kemudian Allah SWT sediakan fasilitas fisik dan psikis sebagai bagian mempertahankan hidup, dengan akalnya ia mampu bertahan, dengan fisiknya ia bisa berdiri tegak, dengan hatinya ia bisa merasakan dan dengan ilmunya ia terangkat derajatnya (QS. An-Nahl/16: 78).  Dengan keadaannya yang serba tiada, fakir, Allah SWT berikan rezeki di sekelilingnya tergantung bagaimana ia memulai dan memanfaatkannya. Dalam QS. 11: 6 disebutkan: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

Kondisi serba tidak punya ini mengingatkan kita akan asal dan bekal apa yang  harus kita siapkan, dari yang tiada kemudian Allah SWT berikan potensi dan kompetensi untuk maju dan berkembang hingga menjadi serba ada, dengan keadaan yang serba ada sudah seharusnya untuk tetap mengingat saat ketiadaan kita, disinilah pentingnya memahami makna syukur. Orang-orang bijak mengartikan syukur sebagai penyandaran segala nikmat kepada sang pemberi nikmat, yaitu Allah SWT.

Menurut Al-Syibli, cara pandang syukur ialah kita harus melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya. Jika kita hanya fokus melihat pada wujud nikmat, tidak menghubungkan, apalagi melupakan Sang Pemberi Nkmat maka di sinilah muncul masalah, sehingga nikmat itu menjadi tidak berkah.

Berikutnya adalah nikmat ampunan saat melakukan kesalahan dan dosa. Manusia yang baik adalah manusia yang bukan tidak pernah berbuat salah dan dosa tapi yang ketika salah dan doa bersegera mohon ampun dan maaf dan meneguhkan diri untuk tidak mengulangi lagi. Jika demikian halnya maka termasuk orang yang bertakwa adalah orang yang hati-hati dalam berucap dan bersikap. Satu hari Umar ra bertanya kepada seorang sahabat perihal takwa, sahabat tersebut memberikan ilustrasi apa yang akan dilakukan Umar saat berjalan di atas pecahan kaca dan duri? Oleh Umar ra dikatakan tentu saya akan berjalan dengan hati-hati, jawaban itu kemudian ditimpali oleh sahabat dengan mengatakan bahwa sikap kehati-hatian itulah yang dinamakan takwa.

Ampunan dan penerimaan maaf adalah satu kenikmatan yang luar biasa kala kita melakukan kesalahan pada orang lain, apatah lagi kepada Sang Pencipta yang secara jujur, seakan tiada hari tanpa kesalahan dan dosa baik yang disengaja atau tidak sengaja. Seorang yang bersalah namun kemudian dimaafkan, adalah kebahagiaan. Demikian juga kesalahan dan dosa yang ada pada kita, kesalahan dan dosa panca indera, kesalahan dan dosa anggota tubuh adalah kesalahan dan dosa yang menjadi pakaian manusia, namun lagi-lagi Allah SWT selalu dan selalu membuka pintu ampunan dan kasih-sayangnya untuk makhluk-Nya yang benar-benar dan menyerahkan diri secara total untuk kembali pada-Nya.

Penyerahan diri secara total (taubat nasuha) semacam inilah yang mendapatkan janji pengampunan Allah SWT. Ada ulama yang pernah mengatakan bahwa air mata taubat itulah yang akan memadamkan api neraka. Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.(QS.2:222). Semoga***

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.