PENDAHULUAN

 

Tulisan ini bermaksud untuk melihat sebuah kepingan peradaban Islam di Sambas diantara kepingan-kepingan yang masih berserakan. Tentu saja tulisan ini jauh dari kata sempurna dalam memberikan gambaran tentang sebuah tema besar Peradaban Islam di Sambas, yang masih memerlukan upaya maksimal dari segenap kalangan terutama akademisi, budayawan maupun pemerintah untuk mengkaji, mentelaah serta menelitinya. Upaya ini sangat dirasakan perlu dan mendesak, ditengah mulai berkembangnya Sambas setelah “kembalinya” pusat pemerintahan ke kota Sambas. Apalagi lebih kurang 84 persen penduduk Sambas beragama Islam dan bersuku bangsa Melayu. Jati diri sebagai Melayu dan Islam - ini ibarat dua sisi mata uang; Islam-Melayu, Melayu-Islam – yang tak dapat dipisahkan, bukan Melayu namanya jika tidak beragama Islam.

Kesinambungan budaya amat diperlukan agar generasi Melayu Sambas selanjutnya tidak kehilangan jati dirinya sebagai Melayu yang beragama Islam. Dalam soal kesinambungan budaya Nurcholish Madjid (1999) mencontohkan dua bangsa yang sama-sama ingin mengejar ketertinggalan dari Barat dan menjadi negara modern yakni Turki dan Jepang. Pada kenyataanya Turki tidaklah seberhasil Jepang, ini dikarenakan masalah kesinambungan dan keterputusan. Turki - dibawah kekuasaan Mustafa Kemal - mencoba memutus hubungan dengan masa lalunya yang Islam, sedangkan Jepang terus mempertahankan rasa keabsahan serta keotentikan sebagai Bangsa Jepang.

Lebih lanjut Nurcholis menyatakan bahwa belajar dari Jepang dan Turki, tampaknya memang kita perlu menyadari pentingnya kesinambungan budaya. Jika di Indonesia, umat Islam ingin menyumbangkan nilai-nilai budayanya yang relevan dengan keindonesian modern, maka salah satu segi yang penting sekali disadari adalah kesinambungan budaya keislaman itu dengan peradaban masa lalunya yang besar. Inilah tantangan umat Islam dewasa ini. Mampukah kita menjadi bangsa modern, tetapi dengan mempertahankan kesinambungan budaya Islam yang mengakar pada kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia.

Perubahan merupakan sebuah keniscayaan, namun adat budaya Melayu serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya tidak boleh hilang. Ia adalah identitas dari kemelayuan, hilangnya identitas ini berarti menghilangkan Melayu itu sendiri. Ungkapan “Takkan Melayu hilang ditelan jaman“ memang mungkin benar secara keturunan, namun secara nilai atau kualitas kemelayuannya mulai mengalami krisis. Hampir dalam setiap aktifitas kehidupan masyarakat Melayu Sambas ada adat budaya yang mengiringinya. Setiap adat budaya tersebut hanya akan menjadi sebuah “rutinitas” yang kehilangan ruh makna, yang sebenarnya inilah esensi dari pelaksanaan adat budaya yang ada.Tanpa mempelajari lebih dalam bagaimana perjalanan adat budaya tersebut atau apa makna (esensi) yang terkandung didalamnya, dikhawatirkan akan mudah untuk melebelkan bahwa adat budaya itu bertentangan dengan agama. Sebab sesuatu yang sama belum tentu esensinya juga sama.

Tulisan ini tidaklah menyoroti nilai-nilai yang terkandung dalam adat resam budaya Melayu Sambas. Mengingat jati diri sebagai Melayu itulah adat budaya Melayu “tidak dapat” ditinggalkan begitu saja, “Biar mati anak, asal jangan mati adat” demikian pepatah yang begitu familiar di masyarakat, namun itu semua tidak dapat mengabaikan agama Islam yang telah menjadi ciri utama suku bangsa Melayu Sambas. Dengan kata lain adat dan agama mestilah beriringan serasi. Adatlah yang mesti menyesuaikan dengan ajaran Islam, bukan sebaliknya.

 

SAMBAS: MELAYU DAN ISLAM

 

Melihat sejarah dapat diibaratkan seperti kita melihat album foto yang berisi foto-foto kita masa lalu, dari foto-foto itu tergambar bagaimana misalnya sewaktu kita kecil dan momen-momen apa saja yang diabadikan. Foto-foto tersebut tidaklah memberikan gambaran utuh perjalan hidup kita, walaupun demikian gambaran sepintas tersebut dapat bercerita siapa kita maupun apa yang kita perbuat. Melalui kepingan-kepingan foto tersebut dapat dirangkai cerita dan makna.

Yusuf Qaradhawi (2005) menyatakan bahwa sejarah sebuah umat adalah materi asli untuk mendidik generasi-generasi. Terutama bagi umat yang memiliki sejarah panjang, gemilang, dan mempunyai peran serta jejak di atas dunia ini. Hal yang harus dilakukan oleh sebuah umat adalah belajar dari jejak, kegemilangan, kesalahan, dan kelemahan sejarahnya. Sungguh indah bagaimana perjalan hidup Nabi junjungan kita Muhammad SAW yang mana perjalan hidupnya takpernah habis untuk ditulis maupun diceritakan, ibarat mata air yang tak pernah kering serta menyegarkan orang mereguknya. Sementara itu ada sebagian manusia yang perjalanan hidupnya hanya habis ditulis dengan tiga baris : pertama nama, kedua tanggal lahir dan ketiga tanggal kematiannya.

Mengetahui sejarah berarti melihat siapa sebenarnya bangsa kita, bangsa Melayu Sambas. Satu hal yang takdapat dipisahkan dari orang Melayu adalah agama Islam, selain adat budayanya yang selalu dipegang. Walaupun masih terjadi perdebatan dikalangan budayawan berkenaan dengan asal-usul Melayu yang ada di Kalimantan Barat, John Bamba (2001) dari Institut Dayakologi Pontianak pernah menulis bahwa sejak Islam masuk ke Kalimantan penduduk asli dipesisir yang menerima agama Islam “menjadi” Melayu sedangkan penduduk asli yang tidak menerima Islam kemudian “menjadi” Dayak. Bamba menekankan kata “menjadi” digunakannya untuk menjelaskan bahwa kedua istilah ini muncul begitu saja.

Bamba menyatakan “menjadi” Melayu berkaitan dengan masuk agama Islam, sebab istilah Dayak sendiri merupakan istilah yang diberikan penjajah Belanda. Dayak dipakai sebagai label yang sangat inferior. Dajakers oleh orang Belanda kolonial. Sebuah label yang menunjukkan ke-tidak beradab-an (Alfons Y.D., 2009). Namun berbeda apa yang ditulis oleh Risa (2014). Risa memaparkan bahwa Sambas adalah sebuah negeri yang dikuasai oleh penguasa Melayu. Namun Melayu yang bukan identik dengan Islam, melainkan lebih dekat dengan agama Hindu, karena suku Melayu yang masuk ke Sambas pada abad ke-11 merupakan Melayu yang membawa unsur Hindu dari Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Suwardi (2008) menyatakan ciri orang Melayu dewasa ini yakni berbahasa Melayu, beragama Islam dan beradat-istiadat Melayu. Yang menjadi ciri khas pembeda disini adalah agama Islam, seorang Cina atau Dayak misalnya (yang diidentikan dengan bukan beragama Islam) dapat saja berbahasa Melayu maupun beradat-istiadat Melayu namun jika belum beragama Islam belum dianggap orang Melayu. Jika ada orang Cina atau Dayak yang masuk agama Islam namun tidak melaksanakan ajaran agama Islam contohnya saja seprti shalat, puasa, zakat, masih meminum minuman keras, maupun makan babi, orang ini biasanya disebut “hanya masuk Melayu” belum menjadi orang Islam. Ada proses identifikasi disini untuk menjadi Melayu yang sebenarnya haruslah menjalakan ajaran agama Islam. Di Sambas jika seseorang menyatakan dirinya Melayu, berarti sudah dapat dipastikan bahwa orang tersebut beragama Islam. Buat orang Melayu Sambas menyesuaikan adat istiadat, perilaku maupun berhukum dengan ajaran Islam adalah hal yang paling utama. Maharsi Resi (2010) yang melakukan kajian perbandingan tentang teks karya sastra Melayu dengan sastra Jawa menyatakan kisah dalam teks Sejarah Melayu lebih condong kepada sejarah Islamisasi Melayu, sementara Babad Tanah Jawi lebih ke Jawanisasi Islam.      

Bicara sejarah peradaban di Sambas khususnya peradaban Islam, tentu tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kesultanan Sambas dan suku Melayu Sambas. Di Kesultanan Sambas, Sultan bertindak sebagai “pasak negeri” untuk menjaga agama serta adat resam budaya Melayu, sehingga ada pepatah yang menyatakan “menjaga adat, menjaga marwah”. Sambas sebenarnya termasuk kerajaan tertua dan cukup masyur di Kalimantan Barat, terlebih setelah menjadi Kesultanan yang dipimpin Sultan Muhammad Syafiuddin (1631-1668). Namun, integritas dan kejayaan Kesultanan Sambas pelahan-pelahan mulai surut sejak penjajahan Belanda, bahkan nyaris berakhir pada masa penjajahan Jepang. Pasca kemerdekaan, peran Sambas sebagai pusat pemerintahan semakin hilang dengan dipindahkannya pusat pemerintahan ke Singkawang (1957-1999) (Kompas, 2002).

Daerah yang pernah dikenal sebagai Serambi Mekah-nya Kalimantan Barat ini pernah melahirkan ulama-ulama besar sebut saja misalnya Ahmad Khatib Sambas maupun Muhammad Basuni Imran. Menurut Pabali (2003) dinamakan Serambi Mekah karena pada masa Sultan Muhammad Syafiuddin II (1688-1922) mendirikan madrasah Perguruan Islam as Sulthaniyah sehingga meningkatkan kualitas keagamaan dan keilmuan kaum muslim di Sambas, selain itu kesultanan juga mengirimkan pemuda-pemuda Sambas untuk belajar di Universitas al Azhar, Mesir. Pada masa Sultan Muhammad Syafiuddin II ini dinyatakan merupakan masa keemasan Kesultanan Sambas. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sambas, pada tahun 1868 Sultan mendirikan Madrasah al Sultaniyah. Pada awal berdirinya, kurikulum madrasah ini masih terbatas pada pelajaran agama Islam. Peserta didiknya pun berasal dari kalangan keluarga Sultan, anak para imam dan khatib (Erwin Mahrus, 2003). 

 

DUA ULAMA BESAR

 

Dua nama ulama besar Sambas, Ahmad Khatib Sambas dan Muhammad Basuni Imran  (Walau masih ada ulama-ulama Sambas lainnya yang perlu untuk diteliti) begitu dikenal namanya oleh masyarakat Sambas maupun nusantara, walau siapa sebenarnya mereka, bagaimana perjalanan hidup mereka dalam menuntut ilmu maupun apa saja karya besar mereka sehingga namanya begitu dikenal boleh dikatakan tidak diketahui atau paling tidak samar baik itu oleh kalangan terpelajar apalagi masyarakat awam. Cerita yang berkembang dari mulut ke mulut perlu untuk diteliti ulang sehingga tergambar sebuah gambaran yang benar serta jelas mengenai kehidupan mereka, kemudian dijadikan sebagai teladan serta pemicu bagi generasi muda di Sambas. Sekilas cerita kehidupan dua ulama ini akan dipaparkan dibawah ini, harapannya adalah patah tumbuh hilang berganti.

  1. Ahmad Khatib Sambas

Nama dan ajaran Syekh Ahmad Khatib Sambas sempat menghilang dari memori masyarakat Sambas. Setelah Erwin Mahrus, Rosadi Jamani dan Edy Kusnan Hadi menulisnya menjadi sebuah buku, yang sebelum buku ini diterbitkan diadakan seminar di hotel Kapuas Palace Pontianak. Setelah itu nama Syekh Ahmad Khatib Sambas mulai disebut-sebut kembali dan ajaran Tarekat Qadariah Naqsabandiah (TQN) nya mulai ditelaah dan diajarkan. Boleh dikatakan buku karya Erwin Mahrus dkk ini sebagai pemicu bagi kebangkitan kembali ajaran TQN di Sambas yang lebih masif.

Ahmad Khatib dilahirkan di Sambas, di Kampung Dagang tahun 1217 H atau 1803 M, wafat di Mekah tahun 1875 M. Syekh Ahmad Khatib Sambas yang merupakan ulama pendiri ajaran Tarekat Qadariah Naqsabandiah (TQN), dalam bukunya Fathul Arifin dijelaskan tatacara ajaran TQN. Sang ulama hidup sekian lama dan memiliki madrasah di Mekah, Saudi Arabia. Hampir seluruh ulama di Nusantara, menelusuri genekologi intelektual mereka padanya (Erwin dkk, 2003). Tarekat Qadariah Naqsabandiah menarik sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten dan Cirebon, dan pada akhir abad ke 19 tarekat ini menjadi sangat terkenal. Tarekat Qadariah Naqsabandiah tersebar luas melalui Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam (suarapesantren.net, 2018).

  1. Muhammad Basiuni Imran

Ulama yang diangkat oleh Sultan sebagai Maharaja Imam ini dilahirkan di Sambas pada tahun 1885 M atau 1302 H. Muhammad Basiuni Imran hidup pada tiga masa pemerintahan Sultan Sambas : Sultan Muhammad Tsafiuddin II (1866-1922), Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II (1922-1926), dan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim (1931-1943) (Erwin Mahrus, 2003).

Muhammad Basiuni Imran dikenal sebagai tokoh pembaharu pendidikan Islam di Sambas dengan madrasah al Sulthaniyah yang didirikan Sultan, pada awalnya pendirian madrasah ini diperuntukan bagi keluarga Sultan, Imam dan Khatib Kesultanan, dikemudian hari madrasah al Sulthaniyah ini berubah menjadi sekolah Tarbiatoel Islam. Dari sekolah Sulthaniyah inilah diawal-awal masa perjuangan Indonesia, mampu memberikan prestasi karena murid-murid di sekolah tersebut rata-rata fasih berbahasa Arab. Banyak diantara mereka setelah lulus, meneruskan pendidikan di Yogyakarta, Jakarta dan Sumatera (Amri Amrullah, 2015). Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, Maharaja Imam Sambas ini juga berkecimpung dibidang politik,, ia menjadi anggota konstituante pada tahun 1956.

Karya-karya Muhammad Basiuni Imran dalam bentuk tulisan seperti (1). Bidayatut Tauhid fi 'Ilmit Tauhid,(2). Cahaya Suluh Pada Menyatakan Jumaat Kurang Daripada Empat Puluh, (3). Tazkir Sabilin Najah fi Tarkis Shalah, (4). Khulashatus Siratil Muhammadiyah, (5). Husnul Jawab 'an Itsbatil Ahillati bil Hisab, (6). Irsyadul Ghilman ila Adabi Tilawatil Quran, (7). Durusut Tauhid As-Saiyid Muhammad Rasyid, (8). Nurus Siraj fi Qishshatil Isra' wal Mi'raj, dan (9). Khutbah Jumaat, Hari Raya Aidilfitri, Hari Raya Aidiladha Dan Gerhana.

Muhammad Basiuni Imran pernah mengajukan pertanyaan yang luar biasa dan sarat makna, inti dari pertanyaan yang diajukan pada tahun 1929 tersebut adalah kenapa umat Islam tertinggal dan kenapa umat lain maju ? (Limadza Ta’akkhara al Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum ?). Pertanyaan Maharaja Iman Kerajaan Sambas ini diajukan kepada gurunya Rasyid Ridho, tokoh pembaharuan Islam di Mesir. Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Amirul Bayan Syaikh Syakib Arsalan, risalah yang kemudian dicetak menjadi buku, buku ini memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia Islam pada waktu itu dan renungan buat generasi muda Islam pada saat ini. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Bulan Bintang pada tahun 1954 dengan judul Mengapa Kaum Muslimin Mundur. Tahun 2004 penerbit Malaysia menerbitkannya dalam bahasa Inggris dengan judul Our Decline : Its Cause and Remedies. Sedangkan pada tahun 2013 giliran Pustaka al Kautsar yang mempublikasikannya dengan judul Kenapa Umat Islam Tertinggal.  

 

BUKAN HANYA ULAMA

 

Peradaban Islam di Sambas tentunya bukan hanya bicara tentang agama Islam, namun juga budaya, masyarakatnya, maupun pemikirannya. Ia berbicara dari segala aspek kehidupan masyarakat Islam di Sambas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Peradaban diartikan sebagai hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa. Tentu saja selain dari ulama-ulamanya, ada juga kiprah anak Sambas dalam bidang kesusastraan yang mewarnai dunia sastra di Kalimantan Barat maupun nasional.

Berbicara tentang sastrawan Sambas, tentu dua orang ini - walau masih ada nama lain yang perlu untuk dikaji - dapat dikatakan sebagai maestronya yakni Munawar Kalahan dan Yusakh Ananda. Dua sastrawan di era 1950 ini dikatakan sebagai pelopor sastra modern di Kalimantan Barat. Berbeda dengan Ahmad Khatib Sambas maupun Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran, dua nama sastrawan ini belum banyak dikenal luas di Sambas. Almarhum H. Mawardi Rivai menyatakan dalam tulisannya yang berjudul Kepengarangan Munawar Kalahan (Pontianak Post, 2001) bahwa ada tiga dimensi dari puisi-puisi karya Munawar Kalahan yakni gaya resah, gaya kerinduan kampung halaman dan gaya perjuangan tiada akhir.

Munawar Kalahan yang pernah menjadi Ketua DPRD Propinsi Kalimantan Barat ini pernah menerbitkan surat kabar SAMBAS BERGOLAK, yang kemudian dibrendel dan Munawar dipenjara karena dituduh anti NASAKOM. Adapun karya-karyanya baik cerpen maupun puisi seperti Cerpen-cerpennya : Hari Kosong (1953), Di Satu Sore (1953), Tukang Becak (1954), Kawan Ku Eddy (1954) dan Lorong Kampung Ku (1955). Puisinya Riwayat Sedih yang diterbitkan Majalah Siasat pada tahun 1950 menurut (Alm) H. Mawardi Rivai membuat Munawar Kalahan dikukuhkan sebagai perintis bagi penciptaan puisi di Kalimantan Barat.

Nama Yusakh Ananda atau Yusach Ananda yang nama aslinya Zubeir Muchtar barangkali banyak dari generasi muda di Kalimantan Barat (Kalbar) maupun di Sambas yang belum mengetahuinya, padahal ia salah seorang sastrawan angkatan 66 dan yang paling menonjol di Kalbar pada generasinya. (Alm) Odhy’s atau Muhammad Zuhdi Saad memaparkan dalam tulisannya “Kain Tilam” Yusakh Ananda (Pontianak Post, 2000) bahwa cerpen Yusakh Ananda Kampungku yang Sunyi dan Yang Masih Kuingat telah diterjemahkan kedalam bahasa Belanda dan Perancis.

Yusakh Ananda dilahirkan pada tahun 1934 dan meninggal dunia di tahun 2002, adik dari Uray Bawadi ini memiliki hobi menulis dan memelihara unggas. Cerpen-cerpennya dimuat di majalah Kisah, Sastra, Mimbar Indonesia, Horison dan Kompas. Latar belakang kepengarangan Yusakh Ananda ternyata mendapat bimbingan dari bibinya Fatimah (Ensiklopedia Sastra Indonesia).

Yusakh Ananda juga mendapat pujian dari HB Jassin dan Ajip Rosidi dalam gaya berceritanya. Selain Kain Tilam (1997) yang diterbitkan Majalah Horison, cerpen Suatu Saat Telah Liwat (1968) juga terbit di Horison, sedangkan cerpen Kampungku yang Sunyi (1953) diterbitkan Majalah Kisah, majalah sastra pertama di Indonesia. Lebih lanjut Odhy’s menyatakan bahwa Yusakh menjaga betul ketelitian manakala hendak menuturkan detail demi detail ceritanya. H.B. Jassin dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968) menyertakan beberapa cerpen Yusakh dan karya Yusakh Ananda juga dibukukan dalam kumpulan cerpen Demikianlah pada Mulanya (1980).

 

*Penulis Pegawai Kementerian Agama Kab. Sambas

 

DAFTAR PUSTAKA

Alfons Y.D., P. (2009). Adat dan Budaya dalam Bingkai Kehidupan Sosial Masyarakat Dayak. Diakses dari http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2009/07/10/adat-dan-budaya-dalam-b...

Amrullah, A. (2015). H M Basioeni Imran, Maharaja Imam Pembaru Pendidikan Sambas (1). diakses tanggal 23 April 2018 dari https://www.google.com/amp/m.republika.co.id/amp_version/nqovbg

Aritasius Sugiya. (2002, 24 September). Mencoba Bangkit dari Keterpurukan. Kompas. h.8.

Bamba, J. (2001, Juni 21). Melayu Dayak atau Dayak Melayu ?. Pontianak Post. h.15.

Ensiklopedia Sastra Indonesia. Yusakh Ananda (1934-2002). Diakses tanggal 30 April 2018 dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Yusakh_Ananda

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kamus versi online/daring). Diakses tanggal 28 April 2018 di https://www.kbbi.web.id/adab

Madjid, N. (1999). Cendikiawan & Religiusitas Masyarakat, Kolom-kolom di Tabloid Tekad. Jakarta : Paramadina bekerjasama dengan Tabloid Tekad.

Mahrus, E. (2003). Membangun Pendidikan; Gagasan Pendidikan Maharaja Imam Sambas Basiuni Imran 1885-1976. Pontianak: Yasasan Luhur Nusantara Kalimantan Barat.

Mahrus, E., Jamani, R., & Hadi, E. K. (2013). Syekh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875) Ulama Besar & Pendiri Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah. Cetakan ke 2. Pontianak : Untan Press.

Odhy’s. (2000, September 16). “Kain Tilam” Yusakh Ananda. Pontianak Post.

Pabali. (2003). Sejarah Kesultanan Sambas Kalimantan Barat (Kajian Naskah Asal Raja-raja dan Salsilah Raja Sambas). Pontianak : STAIN Pontianak Press.

Qaradhawi, Y. (2005). Distorsi Sejarah Islam. (Riswanto, A. M, Trans.). Jakarta : Pustaka al Kautsar.

Resi, M. (2010). Islam Melayu vs Jawa Islam : Menelusuri Jejak Karya Sastra Sejarah Nusantara. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Risa. (2014). Islam di Kerajaan Sambas antara Abad XV-XVII : Studi Awal tentang Islamisasi di Sambas. Jurnal Khatulistiwa-Journal of Islamic Studies, 4, 105-116.

Rivai, H. M. (2001, 4 Maret). Kepengarangan Munawar Kalahan. Pontianak Post

Suara Pesantren. (2018). Syekh Ahmad Khatib Sambas. Diakses tanggal 20 April 2018 dari  https://suarapesantren.net/2017/04/04/syekh-ahmad-khatib-sambas/

Suwardi MS. (2008). Dari Melayu ke Indonesia Peran Kebudayaan Melayu dalam Memperkokoh Identitas dan Jati Diri Bangsa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Penulis Opini: 
Riduan