Satu hari penulis bertemu dengan dua sahabat lama dalam dua moment yang berbeda. Sahabat yang pertama bertemu dalam sebuah pertemuan (rapat) sebuah organisasi, dan sahabat kedua bertemu dalam suasana yang biasa saja namun dari kedua pertemuan sahabat tersebut ada suasana yang berbeda. Untuk yang pertama, sebagaimana hal biasa yang ditanyakan saat lama tidak berjumpa adalah tentang kondisi saat ini, keadaan keluarga dan aktifitas sehari-hari. Perbincangan mulai mengarah kepada prestasi dan kemajuan yang diperoleh oleh sahabat yang pertama ini, dengan bangganya meskipun dengan suara yang cenderung datar ia menyebutkan bahwa hampir setiap minggu ia keliling ke seluruh Indonesia untuk memberikan pengarahan dan pelantikan pada setiap kantor cabang yang ada di berbagai provinsi, ia juga sudah memiliki mobil sejumlah anggota keluarga dan tanah-tanah kavlingan yang ada di sekitar rumah juga sudah menjadi miliknya. Perbincangan yang sepenuhnya tentang status, pangkat dan harta menjadi tema utama untuk sahabat yang pertama ini. Sedikitpun tidak ada pembicaraan tentang persiapan “rumah masa depan”. Sebagai sahabat yang lama tidak bersua, penulis sebatas memberikan respons seadanya untuk menjaga lancar dan baiknya komunikasi. Tercukupinya ekonomi bahkan bisa dikatakan lebih dan status yang hampir mencapai posisi puncak menjadi obsesi dan orientasi dari sahabat yang satu ini.

Lain halnya dengan pertemuan sahabat kedua yang pada tahun-tahun sebelumnya ia adalah seorang yang biasa-biasa dalam hal kehidupan spiritualnya. Tetapi begitu penulis satu waktu bertemu dengannya terasa 180 derajat berbeda dengan pertemuan di tahun sebelumnya, dari segi pakaian menunjukkan secara zahir perubahan yang siginifikan, senantiasa berkopiah bulat, janggut yang panjang dan melihat perubahan ini penulis berkomunikasi dan yang penulis rasakan adalah ternyata perubahannya tidak hanya secara zahir tapi sudah menyentuh pada aspek spiritual, untuk apa kita hidup, bekal apa yang kita siapkan untuk menjemput kematian. Satu pembicaraan yang dulunya tidak mendominasi setiap komunikasi.

Dua sahabat yang memiliki orientasi hidup yang berbeda sehingga dalam pola pikir dan subtansi pembicaraan juga jauh berbeda. Antara yang berorientasi dunia dan yang berorientasi akhirat. Pendidikan, pengalaman dan lingkungan adalah variabel yang mempengaruhi pola pikir dan tindak seseorang. Dari ketiga variabel ini memunculkan sosok-sosok manusia dengan berbagai tipe dan kategorisasi. Ada manusia dengan tipe orientasi akhirat namun kecenderungannya mengabaikan dunia, sedikitpun ia tidak mau peduli tentang dunia sementara jika dilihat dalam sejarah manusia unggul yang dicontohkan oleh Abu Bakar Shiddiq bahwa beliaulah bukanlah orang dengan tipe ini, sebagaimana  doa beliau yang berharap agar harta yang dimilikinya hanya sebatas genggaman tangannya tapi tidak merasuk ke hatinya. Bukankah pemberian Sang Pencipta harus dinampakkan sebagai bagian terkecil syukur pada-Nya atas nikmat yang diberikannya, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu ceritakan”, (QS. 93: 11).

Ada manusia dengan tipe orientasi dunia sehingga lupa dengan akhirat, sekitar manusia adalah kenikmatan yang dapat membuat manusia lupa akan tujuan akhirnya. Kesenangan pada wanita, anak-anak, harta benda, kendaraan,  dan kekayaan tanah adalah pernik yang melingkupi kehidupan manusia dan itulah kesenangan hidup di dunia. Jika tidak kuat dengan prinsip akan adanya hari akhirat, lemahnya keyakinan akan adanya hari pertanggungjawaban maka ia sudah terjerumus pada pola pikir hidup hanya sekali dan nikmatilah sepuas-puasnya sementara semuanya akan dipertanyakan asal dan penggunaannya oleh Sang Pemberi Nikmat. 

Tipe berikutnya adalah manusia dengan tipe orientasi abu-abu, abu-abu karena ia bersikap tergantung mana yang membawa keuntungan dan keamanan baginya. Jika dalam sebuah kondisi  ternyata keberpihakan pada urusan akhirat membuatnya aman maka ia akan memihaknya demikian juga jika sebaliknya urusan akhirat membahayakannya maka akan ia tinggalkan kondisi demikian. Keberpihakan keyakinannya tergantung pada situasi dan kondisinya. Dan sikap semacam ini tidak dikehendaki tidak hanya oleh agama tapi untuk disekitarnya ia dianggap sebagai orang yang tidak istiqamah, tidak konsisten dan tidak jelas hitam-putihnya tapi manusia abu-abu.

Manusia yang berorientasi akhirat namun menjadikan dunia sebagai alat untuk meraih keuntungan dua dimensi yakni dunia dan akhirat adalah tipe manusia terakhir yang ideal. Dunia dijadikan sebagai alat yang dapat mengantarkannya pada kenikmatan akhirat yang sesungguhnya tetapi bahwa keadaannya di dunia sebatas cukup untuk menghidupinya. Hidup saat ini adalah bekal untuk mendapatkan hasil yang bagus saat di akhirat, hidup harus bermanfaat, hidup adalah pilihan untuk berbuat yang terbaik, hidup adalah berbuat sebanyak-banyak dalam koridor Allah SWT ridha atau tidak.

Orang yang dengan hidup dengan tipe kedua –sebagaimana tema tulisan ini- memberikan kesan bahwa adanya manusia yang menjadikan dunia sebagai akhir dari segala-galanya. Ibarat perjalanan yang transit di sebuah tempat yang artinya ia belum sampai tujuan. Namun saat transit ia segera menurunkan semua barangnya, segera membangun tempat tinggalnya, beraktivitas semaunya dan tidak lama kemudian ada informasi bahwa perjalanan akan dilanjutkan dan ia terkejut bahwa ternyata tempat ia transit bukanlah tujuannya, hal inilah yang oleh Allah SWT (QS. 63: 10) disinggung dengan, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"

Begitulah, berbagai tipe manusia di atas yang kemudian Allah SWT mengutus pribadi-pribadi manusia dengan berbagai tipe tersebut sebagai gambaran kejayaan atau kehancurannya. Siapa yang merasa hebat karena jabatan, hendaklah ia mengingat Fir’aun. Siapa yang merasa hebat karena harta, hendaklah ia mengingat Qarun. Siapa yang merasa hebat dengan keturunan hendaklah ia mengingat Abu Lahab.

Kehebatan, kekuasaan dan kemuliaan hanya milik Yang Serba Maha. Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia cabut dari siapa yang Dia kehendaki. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.