Guru Besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, dalam sebuah seminar dan pelatihan “Marketing in Disruption”, iseng-iseng bertanya pada ibu-ibu peserta, “Pernah selfie dan tayangkan fotonya di Facebook dan Instagram?” “Sering” jawab mereka. Lalu apa yang dirasakan kalau satu jam tidak ada yang mengacungkan jempol, “like,” atau “share”? Tiba-tiba ibu-ibu tadi gelisah, tapi cuma sebentar, lalu tertawa riang. Menertawakan diri sendiri. Seorang pria menjawab, “Saya yang disuruh kirim ‘like’ ke istri. Setelah diberi ‘like,’ dia nyenyak tidurnya. Kalau tidak, gelisah.”

Cerita yang mirip juga pernah penulis alami saat usia sekolah dasar, yang sejak usia sekolah dasar penulis sudah terbiasa berkorespondensi dengan sahabat pena se Indonesia, bahkan berkirim surat ke Kedutaan Besar yang ada di Indonesia hanya sekedar untuk mendapatkan informasi dan kiriman foto-foto tentang negaranya, dari banyaknya surat balasan ada yang membalas hanya dengan foto-foto, hanya dengan tulisan sebagai balasan surat dan ada yang secara “agak serius” merespon surat dengan mengirimkan foto dan tulisan yang khusus ditujukan kepada penulis. Saat balasan surat dikirim dengan melampirkan tulisan yang dikhususkan kepada penulis terasa ada yang berbeda dibanding dengan balasan berupa foto-foto. Dan balasan surat itu berulang kali penulis baca, hemat penulis, ini artinya surat dibaca dan ia merespon siapa pengirimnya. Untuk yang terakhir, terasa ada kepuasan saat nama penulis disebut dan ini berarti pengakuan terhadap eksistensi seseorang menjadi hal yang dibutuhkan.

Dari dua kisah di atas, penulis teringat dengan Teori Kebutuhan Abraham Maslow yang menghirarkikan kebutuhan manusia pada lima tingkatan yakni 1) kebutuhan fisiologis (untuk mempertahankan hidup dengan makan dan minum); 2) kebutuhan rasa aman (aman secara fisik, secara ekonomi); 3) kebutuhan bersosialisasi (diterima dalam sebuah komunitas, menjalin persahabatan); 4) kebutuhan akan harga diri (ingin diapresiasi dan dianggap ada oleh siapapun); dan 5) kebutuhan aktualisasi diri (merefleksikan dirinya sebagaimana keinginannya).

Betapa pengakuan akan eksistensi dan butuh apresiasi menempati posisi yang urgen dalam hidup manusia, hanya dengan “like” dan simbol jempol, kita merasa begitu dihargai, meskipun kebanyakan kita miskin informasi tentang hal itu.

Muhammad Ainun Najib (Cak Nun) membagi manusia kepada tiga jenis yaitu manusia wajib, manusia sunnah dan manusia haram (Prayogi R. Saputra, 2012:120).  Manusia wajib adalah manusia yang keberadaannya harus ada di tengah-tengah masyarakat. Keberadaannya sungguh berarti, kepergiannya mengganjilkan dan kedatangannya menggenapkan. Ia mampu memberikan motivasi bahkan inspirasi bagi lingkungannya. Tipe semacam ini dapat kita temukan di masyarakat. Dan ia memiliki nilai plus dan pengaruh bagi sekelilingnya. 

Sementara itu ada juga manusia dengan klasifikasi manusia sunnah. Tipe manusia ini adalah manusia yang lebih baik ada di masyarakat namun jika tidak ada juga tidak apa-apa. Dalam konteks ini, keberadaannya akan menambah ghirah dan semangat untuk terus beraktifitas, namun jika tidak ada, sekelilingnya masih mampu untuk berbuat dan beraktifitas. Sedangkan manusia haram adalah manusia yang berkarakter negatif, keberadaannya di tengah-tengah masyarakat justru akan membuat masalah. Ia adalah bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi (problem solver). Keberadaannya? Justru lebih baik jika ia tidak ada (Wujuduhu ka adamihi). Dan tipe inipun ada di tengah-tengah masyarakat kita.

Apakah dampak pengklasifikasian ini hanya sebatas ini? Ternyata tidak, sederhananya begini, apa yang anda rasakan jika orang tua anda meninggal dan orang-orang di kemudian hari menyayangkan dan sangat berduka cita atas kepergian orang tua anda, yang disebut adalah berbagai kebaikannya, berbagai amal salehnya dan keberadaannya sebagai manusia wajib. Tetapi apa yang terjadi manakala seseorang yang telah meninggal dunia namun yang disebutnya tentangnya adalah keburukan dan ketidakbermaknaan hidupnya.

Termasuk kategori yang manakah kita? Yang pasti siapa yang menabur angin akan menuai badai dan mereka yang bersungguh-sungguh akan mendapat.

Namun sesungguhnya jika ingin dikaji lebih jauh, dalam Islam khususnya yang mendalami  wilayah tazkiyatun nafs (penyucian diri), pengakuan dari makhluk tidaklah membuat ia bersuka hati sebagaimana ia juga tidak berduka kala di caci. Pujian dan hinaan berada pada satu garis lurus yang tidak naik pada salah satunya. Bagi kita, masyarakat awam tentu mencapai maqam ini perlu proses latihan (riyadhah) yang kontinu, tetapi bahwa ada orang-orang yang telah mencapai maqam ini maka baginya apakah diapresiasi atau tidak, baginya sama saja, toh, bukan pengakuan makhluk yang diharapkannya tapi Tuhan ridha atau tidak.** (11 Ramadhan 1439 H/2018)

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.