SIAP PADA BERBAGAI KEMUNGKINAN

       Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita sehingga kita memiliki qolbun saliim, hati yang bening, hati yang bersih, hati yang lapang. Karena ternyata keselamatan hidup di dunia dan di akhirat tidaklah ditentukan oleh banyaknya uang, harta atau anak, melainkan ditentukan oleh qalbun salim. Allah Swt. berfirman, “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syu’aro [26] : 88-89). Saudaraku, dalam menjalani hidup ini yang perlu kita waspadai bukanlah peristiwa atau kejadian yang akan, sedang atau telah terjadi menimpa diri kita. Yang perlu kita waspadai adalah sikap kita manakala menghadapi setiap peristiwa tersebut. Karena dalam hidup ini, peristiwa yang terjadi tidak akan selalu cocok dengan keinginan kita. Niscaya kita akan menemui berbagai peristiwa yang menyenangkan kita, dan ada pula yang tidak menyenangkan.

       Salah satu kunci agar kita bisa menghadapi persoalan hidup adalah siap menghadapi yang cocok dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan kita. Sedia payung sebelum hujan, artinya siap jikalau turun hujan dan siap jikalau tidak turun hujan. Tentu itu akan membuat orang yang membawa payung lebih tenang daripada orang yang tidak membawa payung. Sedia dongkrak dan ban serep, itu lebih tenang daripada tidak membawa keduanya. Kenapa harus siap? Karena hidup ini mustahil selalu sesuai dengan keinginan kita. Kalau setiap keinginan kita terkabul, tentulah hidup ini akan kacau balau. Mengapa harus siap menghadapi segala kemungkinan? Karena yang kita inginkan belum tentu yang terbaik menurut Allah Swt. untuk kita. Allah Swt. berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh [2] : 216). Oleh karena itu, wilayah kemampuan kita itu ada tiga. Kesatu, pandai-pandailah meluruskan niat. Kedua, sempurnakan ikhtiar sesuai dengan kemampuan pikiran dan hati kita. Ketiga, pasrahkan hasilnya kepada Alloh Swt. Itu saja. Bagi yang sedang mencari jodoh, maka luruskanlah niat lillaahita’ala. Niatkan menikah sebagai jalan untuk ibadah, agar kita semakin mendekatkan diri kepada Alloh Swt. Kemudian, lanjutkan dengan ikhtiar menjemput jodoh. Ikhtiar pun perlu dilakukan dengan baik dan benar. Karena, “jika ingin mencari permata, maka carilah di kotak permata”. Jika, Allah Swt. sudah mentakdirkan, maka jodoh pasti datang. Jika sudah demikian, maka yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah bersikap ridho.

        Apapun yang sudah terjadi adalah takdir Allah. Jika sudah takdir, maka sikap terbaik kita adalah ridho. Allah Swt. memberi kita wajah yang pas-pasan, kata orang cukuplah bisa dibawa ke pasar, tidak malu-maluin tidak seperti bintang-bintang film/artis di televisi, maka ridha saja. Tidak perlu mengharapkan punya cantik jelita, molek dan bahenol seperti orang lain. Karena Allah Swt. pasti memberi kepada kita secara proporsional. Boleh jadi kita mengoperasi plastik hidung, namun hasilnya ternyata tidak cocok, dan malah timbul efek samping yang merugikan kita. Tak perlu repot-repot ingin lebih dari kenyataan. Jika usia kita sudah menua, maka nikmatilah masa-masa tua. Jangan takut menjadi tua. Karena begitulah siklus hidup manusia. Ridho saja dengan siklus hidup dan episode tua yang kita lakoni. Mari kita petik pelajaran dari seorang tukang parkir. Dia senantiasa siap dengan kedatangan setiap kendaraan yang hendak parkir di tempatnya. Demikian pula jikalau setiap pemilik kendaraan itu mengambil kembali kendaraannya dan pergi, ia akan selalu siap. Mengapa demikian? Karena sejak awal ia sudah memiliki pandangan bahwa semua kendaraan itu hanyalah titipan yang pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya. Sedangkan ia hanya bertugas menjaga amanah yang mereka titipkan kepadanya.

      Demikianlah kita dalam hidup ini. Kiat untuk menghadapi persoalan hidup yang pertama adalah memiliki kesiapan terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi di dalam hidup kita. Jika kita memiliki kesiapan ini, maka kita akan ringan menghadapi setiap peristiwa. Bahkan peristiwa seberat dan sepahit apapun. Saudaraku, ketenangan yang hadir di dalam hati kita dalam menjalani hidup ini tiada lain adalah karena kekuasaan Allah Swt. Hanya Allah yang kuasa menghadirkan rasa tenang di dalam hati kita. Dan, rasa tenang itu datang jikalau kita bersungguh-sungguh mengingat Allah dalam setiap helaan nafas dan langkah kita. Wallohu a’lam bishowab.

RIDHO PADA APA YANG TERJADI

       Semoga Allah Swt. Yang Maha Menatap setiap tindak-tanduk kita, setiap bisikan hati kita, memberikan kita hidayah sehingga kita selalu ada di dalam jalan yang Allah ridhai. Segala pujian hanyalah milik Alloh Swt. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Allah, suri teladan, nabi Muhammad Saw. Sahabatku, kiat kedua agar kita mampu menghadapi persoalan hidup adalah ridho pada apa yang terjadi. Ridho terhadap apa yang akhirnya terjadi, atau ridho pada hasil yang akhirnya kita terima setelah usaha yang kita lakukan. Mengapa kita harus ridho? Karena jika kita tidak ridho pun, kejadian yang sudah terjadi tetap terjadi, hasil yang sudah kita terima tetap kita terima. Contoh sederhananya, kita sedang berjalan tiba-tiba sebuah bola mengenai kening kita cukup keras. Sikap terbaik menghadapi kenyataan seperti ini adalah bersikap ridho, karena toh bola sudah mengenai kening kita. Jika ada rasa sakit, maka biarkan saja sejenak rasa sakit yang sebentar itu. Tidak perlu menggerutu atau mengutuk keadaan. Lebih baik beristighfar. Rosulullah Saw. bersabda, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridho kepada Allah sebagai Robb-nya dan Islam sebagai agamanya, serta (nabi) Muhammad sebagai rosulnya.” (HR. Muslim)

       Sebagaimana isi hadits ini, bersikap ridho akan mendatangkan rasa tentram di dalam batin kita, karena sebenarnya penderitaan yang kita rasakan di saat kita menggerutu dan mengutuk kejadian itu bukanlah disebabkan peristiwanya, melainkan disebabkan sikap kita sendiri yang tidak ridho pada peristiwa tersebut. Contoh lainnya yang seringkali terjadi di tengah kita adalah mengejek atau mencibir keadaan diri sendiri. Ada orang yang mengejek dirinya sendiri hanya karena hidungnya tidak mancung, atau kulitnya gelap, atau posturnya pendek, atau terlahir dari keluarga yang tidak kaya raya.

       Orang-orang seperti ini akhirnya merasakan penderitaan. Penderitaan mereka bukan disebabkan oleh kenyataan, melainkan disebabkan oleh sikap mereka sendiri terhadap kenyataan. Maka, tidak heran jika orang seperti ini mengalami stress. Seperti seorang wanita yang sudah melewati usia 30 tahun, kemudian ia pontang-panting menghindari gejala penuaan dengan cara operasi plastik. Biaya yang mahal dikejarnya, sedangkan keriput di wajah tetap saja muncul. Dia pun stress. Sikap seperti ini adalah sikap yang tidak ridha menghadapi kenyataan, sehingga ia bersikap secara berlebihan. Ia tidak ridho menghadapi kenyataan bahwa muda dan tua adalah sunnatulloh yang akan dialami manusia. Hadapi saja, santai saja, tak perlu dirisaukan, karena semua itu pasti terjadi.

       Saudaraku, ridho bukanlah pasrah begitu saja. Ridho adalah keterampilan kita untuk realistis menerima kenyataan. Hati menerima, pikiran dan fisik berikhtiar memperbaiki diri sehingga bisa menemui kenyataan yang lebih baik lagi. Jika sakit gigi, bersikaplah ridho dengan menerima bahwa itu ujian dari Allah, sembari kaki melangkah ke dokter gigi sebagai bentuk ikhtiar mengobati dan merawat gigi karena itu adalah titipan Allah Swt. Karena boleh jadi sakit gigi adalah karena kelalaian kita merawat titipan Allah tersebut. Oleh karena itu, peristiwa apapun yang terjadi di dalam hidup kita, marilah kita hadapi dengan ridho : terima  dengan lapang dada, tanpa berkeluh kesah dan yakini bahwa segala yang terjadi ada dalam kekuasaan Allah Swt. Tidak ada kejadian apapun yang luput dari pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Sekalipun peristiwa tersebut tidak sesuai dengan harapan kita, bahkan cenderung pahit untuk diterima. Ridha adalah sikap terbaik agar ujian tersebut berbuah berkah bagi kita. Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqoroh [2] : 214)

       Bersikap ridho itu seperti apabila kita menanak nasi ternyata tanpa disadari air yang kita tuangkan terlalu banyak sehingga beras yang rencananya akan kita buat sebagai nasi malah menjadi bubur. Menyikapi kenyataan ini sikap yang baik tentu bukan menggerutu atau marah-marah, melainkan bersikaplah ridha sembari mencari daun seledri, kacang kedelai dan suwiran daging ayam. Ditambahi kecap dan krupuk. Maka, bubur pun kini menjadi bubur ayam spesial. Ridha akan membuat hidup kita lebih nyaman dan lapang. Bukankah kita ingin agar Allah Swt. ridho kepada kita? Jalannya adalah bersikap ridha pada apapun keputusan-Nya. Rasululloh Saw. bersabda, “Barangsiapa yang ridho (pada ketentuan Allah), maka Allah akan ridho kepadanya.” (HR. Tirmidzi).

EVALUASI DIRI

        Segala puji hanya milik Allah Swt. Tak ada yang Maha Mengetahui isi hati kita selain Alloh. Tak ada yang kuasa memberikan rezeki kepada kita selain Allah. Tak ada yang mampu menghidupkan dan mematikan selain Allah. Hanya kepada Alloh kita menyembah dan memohon pertolongan. Shawalat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Allah Swt., nabi Muhammad Saw. Manusia mulia yang sangat mencintai kita meski belum pernah berjumpa. Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya di hari kiamat nanti. Kiat menghadapi persoalan hidup yang selanjutnya adalah rajin mengevaluasi diri. Kita harus memiliki keterampilan mengevaluasi diri sendiri. Karena hidup di dunia ini bagaikan kita berteriak di pegunungan. Suara kita akan menggema dan sampai kembali kepada kita.

       Demikianlah hidup ini. Apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, akan kembali kepada kita. Sehalus apapun perkataan, sekecil apapun perbuatan, niscaya akan kembali kepada kita, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Alloh Swt. berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarroh (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan, barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah [99] : 7-8). Ketika suatu persoalan menimpa kita, maka langkah segera yang perlu kita lakukan adalah bersikap ridho dan tafakur atas apa yang menimpa kita itu. Pada saat inilah kita lakukan pemeriksaan ke dalam diri kita, dosa apa yang telah kita lakukan, kemaksiatan apa yang sudah kita perbuat sampai-sampai persoalan itu menimpa kita.

       Sambutlah persoalan yang datang itu dengan respon terbaik yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim. Misalnya dengan cara berdiam diri sejenak sembari merenungi yang sedang terjadi, lalu disusul dengan berdzikir menyebutkan asma Alloh Swt. Renungi apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Ketika kaki kita tersandung, janganlah melontarkan sumpah serapah atau ucapan-ucapan kotor, karena selain sia-sia malah akan mendatangkan dosa. Responlah dengan ucapan kalimat tauhid seperti, “Innalillahi wa inna ilaihi roojiun!” Ini tentu lebih utama dan berpahala. Juga niscaya akan memudahkan kita untuk lebih peka dalam mengingat kembali dosa apa yang pernah dilakukan dengan kaki kita. Boleh jadi kaki ini pernah kita langkahkan ke tempat maksiat, atau malas kita langkahkan ke masjid untuk shalat berjamaah di awal waktu.

       Saudaraku, tiada suatu kejadianpun di dunia ini kecuali ada dalam pengetahuan Allah Swt. dan niscaya selalu ada hikmah di baliknya. Jikalau kita kehilangan dompet padahal terdapat uang di dalamnya, segera kembalikan peristiwa itu kepada Allah Swt. diiringi memeriksa dosa apakah yang sudah kita lakukan. Boleh jadi itu adalah cara Allah mengingatkan kita karena sudah sekian lamanya kita melupakan sedekah. Atau karena sudah demikian sering kita membelanjakan harta untuk urusan yang mubazir dan sia-sia. Padahal rezeki yang kita miliki tiada lain adalah titipan Allah Swt. Ketika melihat anak-anak kita nakal dan sulit dinasehati, segeralah periksa diri kita. Sudahkah kita sebagai orangtua memberikan contoh keteladanan bagi mereka. Ataukah kita hanya sebatas pandai memarahi mereka saja. Umar bin Khaththab r.a pernah mengatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat), dan timbanglah (amal) diri kalian sebelum kalian ditimbang (pada hari kiamat), maka sesungguhnya hisab itu akan ringan bagi kalian jika kalian menghisabnya hari ini (di dunia).” Saudaraku, marilah kita respon setiap peristiwa dan persoalan yang terjadi dengan evaluasi diri. Sehingga setiap kejadian tersebut bisa kita sikapi dengan sikap terbaik yang Alloh sukai. Mengevaluasi diri juga akan bermanfaat untuk langkah kita ke depan agar lebih efektif, selamat dan bernilai ibadah di hadapan Allah Swt.  

 JADIKAN ALLAH SAJA SEBAGAI PENOLONG

        Alhamdulillah. Tak ada yang patut disembah selain Alloh Swt. Sungguh Allah Maha Mengetaui daun yang jatuh di tengah hutan belantara yang tak pernah terjamah tangan manusia. Hanya Alloh yang kuasa memberi petunjuk dan pertolongan. Alloh Swt. berfirman, “..Hasbunallohu wa ni’mal wakill.. (cukuplah Alloh sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar..)” (QS. Ali ‘Imron [3] : 173). Petikan ayat ini merupakan doa yang diucapkan oleh nabi Ibrohim a.s kepada Allah Swt.  manakala beliau berhadapan dengan raja Namrud, seorang raja yang sangat zholim. Ketika itu Namrud hendak menghukum nabi Ibrohim a.s dengan cara dibakar dalam api yang besar dan berkobar. Siksaan itu dijatuhkan karena Nabi Ibrohim a.s mendakwahkan tauhiid kepada umat manusia, khususnya rakyat Babilonia dan para penguasanya. Sesaat sebelum dihempaskan ke dalam kobaran api yang sangat panas, Nabi Ibrohim a.s memanjatkan doa “..Hasbunallohu wa ni’mal wakill.. (cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Alloh adalah sebaik-baik tempat bersandar..)”. Maka, seketika itu pula, atas kehendak Allah Swt., api itu menjadi terasa dingin saja bagi Nabi Ibrohim a.s. Allah Swt. berfirman, “Wahai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrohim.” (QS. Al Anbiyaa [21] : 69)

       Kisah Nabi Ibrohim a.s ini menjadi pelajaran bagi kita bahwasanya hanyalah Allah Swt. tempat kita bersandar dan memohon pertolongan. Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita untuk benar-benar yakin kepada Alloh Swt. Sehingga setiap amal perbuatan yang kita lakukan, setiap kebaikan yang kita berikan, hanyalah atas dasar mengharap ridho Allah Swt. Bukan atas dasar mengharap penghargaan dan penilaian manusia. Nabi Ibrohim a.s telah berupaya sekiat tenaga memberikan petunjuk ke jalan kebenaran kepada kaumnya. Beliau mengajak mereka untuk berpikir menggunakan akal sehat agar berhenti menyembah berhala yang tak pernah bisa berbuat apa-apa apalagi menolong mereka. Setelah upaya itu beliau lakukan, maka langkah selanjutnya adalah beliau berpasrah diri kepada Alloh Swt.

        Sahabatku, setelah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi, bersikap ridho atas apa yang terjadi, tidak mempersulit diri, dan mengevaluasi diri atas peristiwa yang kita alami, maka sikap selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah memperkuat hati untuk semakin yakin bahwa tiada yang kuasa memberikan pertolongan selain Allah Swt. Kita akan sengsara jikalau meyakini bahwa pertolongan akan kita dapatkan dari makhluk. Kesengsaraan juga akan kita rasakan jika takut terhadap makhluk. Takut mereka tidak memberi, takut mereka tidak membantu. Jikalau kita berpengharapan kepada makhluk, maka siap-siaplah untuk kecewa karena sesungguhnya makhluk tak memiliki apa-apa. Namun, jikalau kita bergantung kepada Allah Swt., niscaya Allah akan menurunkan pertolongan dari jalan yang tak pernah kita duga. Alloh Swt. berfirman, “..Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq [65] : 2-3).

      Saudaraku, kehidupan di dunia memang selalu terdapat suka dan duka, sedih dan gembira. Begitu seterusnya silih berganti. Apa yang menjadi masalah bukanlah perputaran siklus tersebut, melainkan cara kita menghadapi atau mensikapinya. Jika kita bisa menyikapinya dengan cara terbaik, maka persoalan yang sedang kita hadapi akan menjadi ladang amal sholeh yang bisa mengangkat derajat kemuliaan dan menjadi jalan kebahagiaan. Cukuplah Allah Swt. sebagai penolong dan pelindung kita.

 JANGAN MEMPERSULIT DIRI

      Semoga Alloh Swt. mengkaruniakan kepada kita kebeningan hati yang senantiasa haus untuk berdzikir mengingat-Nya. Hanya orang yang bening hatinya yang peka menangkap setiap nasehat kebaikan. Hanya orang yang bening hatinya yang akan terjaga setiap sikap dan tutur katanya. Karena sesungguhnya kebaikan seseorang bergantung pada keadaan hatinya. Sesungguhnya kehidupan dunia adalah siklus persoalan. Ketika kita selesai menghadapi satu persoalan, maka kita akan berjumpa dengan persoalan baru. Bahkan tidak jarang kita bertemu dengan banyak persoalan pada waktu yang bersamaan.

        Saudaraku, disadari atau tidak, kita kerap mendramatisir sebuah persoalan. Sehingga persoalan yang sebenarnya sederhana jadi nampak luar biasa besar. Persoalan yang sebenarnya tidak begitu pahit, namun seolah menjadi akhir hidup disebabkan dramatisasi diri kita sendiri. Belum saja kita mendiagnosa sebuah persoalan, kita sudah lebih dahulu mengasihani diri sehingga persoalan tersebut nampak rumit. Sebagai contoh, ada seseorang yang sakit pinggang dan belum sempat memeriksakannya ke dokter. Kemudian, dia ceritakan hal itu pada temannya. Dia menduga-duga bahwa dia sedang terkena gangguan ginjal. Maka, makin besarlah kekhawatirannya pada biaya pengobatan yang mahal, cuci darah, dan gangguan kesehatan yang berkepanjangan. Ia stress dan tersiksa oleh pikirannya sendiri. Padahal ia sama sekali tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada pinggangnya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk terlatih selalu mengendalikan diri setiap kali menemui sebuah persoalan. Janganlah larut dalam jebakan-jebakan sikap yang justru mempersulit diri sendiri. Latihlah diri kita agar bisa merespon setiap persoalan dengan tenang, pikiran jernih, dan hati yang lapang. Karena sebenarnya setiap persoalan yang menimpa manusia itu sudah terukur oleh Alloh Swt. Tak ada persoalan yang ukurannya di luar kemampuan kita untuk memikulnya. Hal ini sesuai dengan janji Allah Swt. di dalam Al Quran, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya..” (QS. Al Baqoroh [2] : 286).

       Allah Swt. Maha Mengetahui siapa sebenarnya diri kita. Dan, Maha Suci Allah dari segala perbuatah dholim terhadap makhluk-Nya. Setiap persoalan yang menimpa kita sesungguhnya sudah terukur untuk bisa kita hadapi. Adapun yang membuat kita merasa berat saat menghadapinya tiada lain adalah disebabkan kurangnya ilmu dan kurangnya iman dalam diri kita. Sehingga langkah-langkah kita dalam menghadapinya tidak sesuai dengan petunjuk Alloh Swt. Tidak ada yang aneh dalam kehidupan dunia ini. Polanya masih sama saja. Seperti pergantian siang dan malam, terus-menerus begitu silih berganti. Kadang dipuji, kadang dicaci. Ada gembira, ada sedih. Datang senang, lalu datang susah. Disukai, dibenci. Sehat, sakit. Lapang dan sempit. Terus menerus silih berganti. Tidak ada yang aneh, kecuali yang aneh adalah jikalau kita masih saja tidak memahami hakikat hidup di dunia ini.

       Marilah kita terus melatih diri untuk siap sedia bersikap tenang di setiap keadaan. Terutama ketika persoalan hidup datang melanda. Jangan kita mempersulit diri dengan mendramatisir persoalan, melupakan nikmat yang terus Alloh Swt. berikan, dan mengandai-andakan yang tidak ada. Semoga kita tergolong sebagai hamba Allah Swt. yang tangguh menghadapi persoalan hidup. Sehingga setiap persoalan yang datang bisa menjadi ladang amal shaleh bagi kita. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Penulis Opini: 
Dinna Rahmi (Penyuluh Fungsional Kementerian Agama Kota Singkawang)