Ada tiga tokoh sentral dalam sejarah awal mula disunnahkannya ibadah qurban yakni seorang bapak (Ibrahim as), seorang ibu (Siti Hajar) dan seorang anak (Ismail as). Mereka adalah sebuah keluarga  yang tangguh dalam ketabahannya yang mampu membuktikan kecintaan mereka pada Allah SWT melebihi dari kecintaannya kepada anak semata wayang yakni Ismail as maupun kecintaan Ismail as kepada nyawanya sendiri guna menjalankan perintah Allah SWT.

Keluarga Ibrahim as adalah bukti keberhasilan sebuah masyarakat kecil yakni rumah tangga dalam mendidik anak-anaknya menjadi pemimpin masa depan umat manusia sepeninggalnya.

Anak adalah harapan dan masa depan dari kedua orang tuanya, harapan ini bahkan sejak awal sudah dibimbing oleh Islam yakni dengan memberikan nama yang baik sebagai sebuah harapan dan doa. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang menjadi orang yang lebih baik dari dirinya, bahkan setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya sukses dalam meraih dunianya dan selamat menuju akhiratnya.

Usaha untuk melahirkan generasi yang berkualitas  dalam iman dan takwa yang teraktualisasi dalam amal shaleh merupakan upaya yang memerlukan pengorbanan jiwa, raga dan harta, namun Insya Allah jika hal itu dilakukan  dengan ikhlas pasti akan diganjar oleh Allah SWT dengan rahmat dan ridho-Nya.

Dalam hal keberhasilan mentarbiyah untuk  melahirkan generasi yang berkualitas, mari kita merujuk kepada Al-Quran terutama dalam hal menggambarkan kisah Ibrahim as dalam mendidik anak-anaknya yang terbukti telah berhasil menggembleng seorang ghulam (anak muda) yang bernama Ismail yang rela menggadaikan nyawanya demi mentaati perintah Allah SWT. Lebih dari itu juga, Ibrahim as adalah seorang tokoh yang kita kenal sebagai pengkader para Nabi  mengingat anak dan keturunan beliau banyak yang diangkat menjadi Nabi.

Secara garis besar ada tiga hal pokok yang dilakukan Ibrahim as dalam mentarbiyah kader pemimpin masa depan yaitu:

Pertama, mendidik dengan keteladanan

Mendidik dengan memberikan contoh, membiasakan ibadah serta perbuatan baik terhadap anak-anaknya. Sejak kecil Ismail telah diajar untuk membangun baitullah dan diajak beribadah di dalamnya dengan harapan kelak akan menjadi kebiasaan bagi anak-anaknya.

Hadits Rasulullah SAW:

 قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 

“Berkata Nabi SAW, setiap anak  lahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi”. (HR. Bukhari)

Anak ibarat kertas putih yang siap menerima warna apapun dari penulisnya, sedangkan penulisnya adalah kedua orangtuanya dan orang-orang yang terdekat dengan akan tersebut.

Dengan kata lain bahwa apa-apa yang menjadi hobi, kebiasaan dan sikap orang tua di rumah maka itu pula yang akan senantiasa dikenang, diingat oleh anak-anaknya bahkan untuk diikutinya serta diekspresikannya pada teman-teman bermainnya bahkan akan menjadi perilaku hidupnya.

Kedua, menciptakan lingkungan Islami

Lingkungan tempat anak-anak bergaul berpengaruh  besar dalam membentuk kepribadiannya. Jika lingkungan pergaulan atau lingkungan bermain anak-anak terdiri dari teman-teman dan orang dewasa yang bermoral baik maka ada harapan anak-anak  cenderung mengikuti kebaikan lingkungannya dan sebaliknya jika lingkungan bermainnya buruk maka akan-anakpun cenderung mengadopsi keburukan tersebut untuk menjadi perilakunya. Lingkungan dapat diartikan apa dan siapa saja yang mewarnainya dari apa yang ditontonnya, dibaca, didengar dan diakrabi sehari-harinya.

Adapun Nabi Ibrahim as berupaya keras membentuk lingkungan yang baik bagi keturunannya. Beliau menempatkan isterinya yang sedang mengandung anak pertamanya di lapangan yang tandus dan berpenghuni jauh dari kemaksiatan dan ini dimaksudkan agar keluarganya dapat menjalankan keimanan dengan benar sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Q.S. Ibrahim:37, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Jujur kita akui bahwa dewasa ini lingkungan tempat bergaul anak-anak kita telah tercemari oleh nilai-nilai  kekerasan, nilai-nilai kebatilan dan  bahkan nilai-nilai kemaksiatan baik itu yang mengatasnamakan hiburan, nyanyian, perlombaan, bahkan atas nama pendidikan sekalipun, terlebih lagi bila kita menyaksikan tayangan di televisi, disadari atau tidak kita umat Islam sebagai umat sedang dibimbing ke arah kemusyrikan, kita lihat sinetron-sinetron yang berbau syirik, banyaknya tayangan yang mengkultuskan para normal dan peramal-peramal dalam berbagai bentuk dan yang menjamur tayangan-tayangan yang menjadikan dan menuntun kita untuk mencari jalan pintas dalam menyelesaikan suatu persoalan.

Semua yang kita saksikan ini adalah dalam proses menjauhkan kita dari ajaran Allah, mengajak kita untuk mensyirikkan Allah SWT, ajaran dan ajakan untuk menduakan Allah SWT, dan jika kita terjerumus ke dalam perbuatan tersebut, sesungguhnya kita sudah melakukan kezaliman yang sangat besar. (Q.S. Luqman: 13)

Melihat kondisi ini, bagaimana sikap kita kaum dMuslimin? Berbagai cara dapat kita lakukan, namun yang terpenting adalah mari kita memaksimalkan pendidikan Islam bagi anak-anak kita, bagi isteri kita, keluarga kita dan terpenting keteladanan dari kita sebagai suami dan kepala rumah tangga. Yang kita lakukan bukan sekedar transfer pengetahuan belaka akan tetapi menjadikan agama sebagai kebiasaan hidup sehari-hari dalam kehidupan keluarga kita masing-masing.

Dan ini artinya tidak cukup bagi orang tua hanya menyerahkan tanggung jawab pendidikan agama anaknya kepada guru ngaji, TPA-TPA atau madrasah-madrasah melainkan akan lebih berhasil jika orang tua, sekali lagi menjadi contoh keteladanan dalam menerapkan ajaran Islam dan aspek keteladanan lainnya.

Ketiga, berdoa untuk kebaikan anak

Kedudukan doa sebagai induk ibadah atau sum-sum ibadah, ia merupakan amalan yang sangat disenangi Allah SWT terutama jika dilakukan secara kontinu pada waktu-waktu ijabah.

Doa dari kedua orang tua sangat besar pengaruhnya bagi keberhasilan anak-anak dalam menjalani kehidupan dunia maupun menuju kebahagiaan akhirat, ini dikarenakan doa bapak dan doa ibu kepada anak-anaknya  adalah makbul dan sebaliknya doa anak-anak untuk kebaikan orang tuanyapun dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam ikhtiar mewujudkan generasi terdepan bagi umat manusia itu maka Ibrahim as sangat intens mengajukan doa-doanya kepada Allah SWT yang dapat kita temukan dalam Q.S. Ash-Shaffat:100 yang berbunyi: “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”.

Semoga kita yang diamanahi titipan Allah SWT diberikan kekuatan untuk mendidik amanah Allah SWT  dengan sebaik-baiknya sehingga akan menjadi qurrota a’yun (cahaya mata) bagi kita tidak hanya di dunia tapi juga kelak di akhirat. Amien ya Mujibassailin.

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.