Pengertian manajemen mutu terpadu pendidikan

Koontz dan Weihrich (1990 ) mengemukakan definisi manajemen sebagai “ The process of designing and maintaining an anvironment in which individuals,working together in group efficiently accomplish selected aims “. Managemen adalah proses pengkoordinasian dan pengintegrasian semua sumber baik manusia, fasilitas maupun sumber daya teknikal untuk mencapai tujuan khusus yang ditetapkan. Definisi lain dari para pakar manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengaktualisasian, pengawasan,baik sebagai ilmu maupun seni, untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Agung Jibran (2014) Dalil surat as sajdah 5, 

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu" 1190]

Dan mutu sebagaimana yang diutarakan oleh Prof. Dr. H. Abdul Hadis, M.Pd, dan Prof. Dr. Hj. Nurhayati B, M. Pd, dalam bukunya Manajemen Mutu Pendidikan (2010:84) menurut para ahli yaitu:

  1. Menurut Juran (1993), mutu produk ialah kecocokan  penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan pengguna produk tersebut didasarkan atas lima ciri utama yaitu (1) teknologi; yaitu kekuatan; (2) psikologis, yaitu rasa atau status; (3) waktu, yaitu kehandalan; (4) kontraktual, yaitu ada jaminan; (5) etika, yaitu sopan santun (Juran, 1993)
  2. Menurut Crosby (1979:58) mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki mutu apabila sesuai dengan standar atau kriteria mutu yang telah ditentukan, standar mutu tersebut meliputi bahan baku, proses produksi, dan produk jadi (Crosby, 1979:58)
  3. Menurut Deming (1982:176) mutu ialah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Perusahaan yang bermutu ialah perusahaan yang menguasai pangsa pasar karena hasil produksinya sesuai dengan kebutuhan konsumen, sehingga menimbulkan kepuasan bagi konsumen. Jika konsumen merasa puas, maka mereka akan setia dalam membeli produk perusahaan baik berupa barang maupun jasa. Sofan Amri (2013: 17)
  4. Menurut Feigenbaum (1986:7) mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfication). Suatu produk dianggap bermutu apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan harapan konsumen atas produk yang dihasilkan.
  5. Garvi dan Davis (1994) menyatakan mutu ialah suatu kondisi yang berhubungan dengan produk , tenaga kerja, proses dan tugas serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Ahmad Kurnia (2012).

Terpadu berasal dari kata total (bahasa inggris). Dalam Konsep Total Quality management mengartikan total sebagai pengintegrasian seluruh staf, penyalur, pelanggan dan stakeholder lainnya (total is the integration of the staff, suppliers, customers and other stakeholders).

Sedangkan pendidikan berdasarkan UU system  pendidikan nasional diartikan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari konsep di atas manajemen mutu terpadu pendidikan dapat diartinya sebagaimana pendapat para ahli, antara lain:

  1. Menurut Tjiptono dan Anastasia Diana (1995) ialah suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing melalui perbaikan terus menerus atas jasa, manusia, produk dan lingkungan. MMT sebuah konsep yang berupaya melaksanakan system manajemen mutu kelas dunia.
  2. MMTP menurut West Burhan (1997) ialah semua fungsi dari organisasi sekolah ke dalam falsafah holistis yang di bangun berdasarkan konsep mutu, kerja tim, produktifitas dan prestasi serta kepuasan pelanggan.
  3. MMTP ialah suatu system manajemen yang menyangkut mutu sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.

Tujuan Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan

Istilah mutu berasal dari dunia bisnis Industri atau perusahaan. Dipopulerkan oleh tiga orang Guru Mutu yaitu W. Edward Deming, Yosep Juran, dan Philip Crosby sekitar tahun1930 an. Mereka memandang bahwa masalah mutu terkait erat  dengan manajemen (Edward Sallis: 97) sehingga muncullah istilah Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu terpadu (MMT). Namun demikian tidak satupun diantara tiga orang guru mutu di atas merekomendasikan isu-isu mutu diterapkan dalam dunia pendidikan. Gelombang baru penerapan mutu dalam dunia pendidikan terjadi pada awal tahun 1990 an. Bermula dari perguruan tinggi di Amerika dan kemudian diikuti oleh perguruan tinggi di Inggris. Walapun pada mulanya penerapan mutu dalam dunia pendidikan mendapat penolakan dari kalangan fakar pendidikan di Inggris yang menghawatirkan bahasa manajemen Industri diterapkan dalam pendidikan, namun pada perkembangan selanjutnya terjadi kerjasama pendidikan dan bisnis yang membuat konsep-konsep Industri dapat diterima dalam dunia pendidikan, seperti istilah mutu pendidikan. Dapat dimengerti kenapa ketiga orang guru mutu tidak merekomendasikan penerapan isu-isu mutu dalam pendidikan, karena banyak implikasi istilah yang mungkin akan mendistorsi makna pendidikan, seperti istilah pelanggan, kepuasan, kebutuhan yang biasa merujuk kepada nilai material semata.

Sementara pendidikan mengandung makna pesan pesan nilai yang jauh lebih agung dan bermakna. Secara filosofis mutu merujuk kepada upaya yang terus menerus dan berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan (Sallis : 2004). Namun seperti yang dikatakan guru mutu di atas bahwa mutu terkait erat dengan manajemen. Maka mutu pendidikan adalah keberhasilan totalitas layanan pendidikan dalam menghantarkan peserta didik untuk memiliki nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupannya.

 

Prinsip-prinsip Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan

Menurut Dean sebagaimana dikutip oleh Ali Djamhuri (2001:8) prinsip umum Manajemen Mutu Terpadu meliputi:

  1. Organisai yang memfokuskan pada ketercapaian kepuasan pelanggan (Customer Focus Organization).

Organisasi dalam hal ini manajemen harus dapat mengoptimalkan seluruh potensi dan sumber daya organisasi dan sistem yang ada untuk menciptakan aktivitas terhadap tercapainya kepuasan pelanggan. Tercapainya kepuasan pelanggan meliputi seluruh stakeholders, baik yang berada didalam organisasi maupun di luar organisasi.

  1. Kepemimpinan (Leadership)

Kepemimpinan merupakan proses untuk mempengaruhi pihak lain untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karenanya pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas, sehingga keduanya dapat dituangkan dalam kebijakan yang akan diambil.

  1. Keterlibatan seluruh partisipan organisasi (People Organization)

Seluruh komponen di dalam suatu organisasi harus dilibatkan. Artinya seluruh sitivitas organisasi harus selalu berusaha untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. Perbaikan bukan hanya dari pihak kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, tetapi semua sivitas sekolah harus memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan. Dengan kata lain semua sivitas sekolah harus dilibatkan dalam upaya memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada para pelanggan.

  1. Pendekatan yang menekankan pada perbaikan proses (Process Approach)

Kurangnya dukungan sistem informasi dan alat ukur keberhasilan MMT berasumsi bahwa output akhir suatu organisasi tidak semata-mata dilihat secara parsial, tetapi suatu proses yang panjang. Proses tersebut dilakukan secara sadar oleh setiap individu. Kegiatan tersebut juga dilakukan saling terkait satu dengan lainnya sehingga menghasilkan outputorganisasi. Jelassnya tamatan atau lulusan bukan semata-mata produk tenaga akademik, atau karyawan sajak, tetapi menyangkut proses yang melibatkan tenaga akademik, karyawan, kepala sekolah, murid, orang tua, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas, yang tentu saja proporsinya berbeda satu sama lainnya.

  1. Penerapan manajemen dengan menggunakan pendekatan sistem (System Approach)

Dalam konteks organisasi, upaya menyempurnakan proses tertentu harus dikaitkan dengan proses lainnya. Oleh karena pihak-pihak yang terkait dengan proses tersebut merupakan tangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Tuntutan peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan oleh tenaga pengajar semata, tetapi harus pula melibatkan aspek ketatausahaan, kepemimpinan, fassilitas, dan penciptssn organisasi yang optimal atau mendukung.

  1. Langkah perbaikan yang dilakukan secara terus menerus (Continual Improvement atau Kaizen)

Inti perbaikan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan adalah adanya human resources empowerment baik bagi tenaga edukatif maupun administratif. Realitas menunjukkan belum seluruhnya pemimpin organisasi menyadari arti pentingnya pemberdayaan tenaga akademik dan administratif. Para pimpinan sering lebih mementingkan pengembangan fasilitas atau pegembangan fasilitas. Hal ini ditunjukkan oleh adanya anggaran pendidikan dan pelatihan untuk kedua tenaga tersebut tidak setidak-tidaknya kurang berimbang dibandingkan dengan anggaran pembangunan fisik.

  1. Penerapan pengembilan keputusan didasarkan fakta (Factual Apprecision Making)

Manajemen Mutu Terpadu-MMT berdasarkan pada kepuasan pelanggan. Oleh karenanya maka orientasi MMT harus mendasarkan pada fakta yang diinginkan oleh pelanggan. Pada sisi lain kepuasan berkaitan dengan kualitas. Implikasinya kualitas kepuasan tersebut harus dapat diukur dan dapat dilakukan monitoring setiap saat. Dengan demikian, pemimpin organisasi harus dapat menciptakan dan mengembangkan alat ukur sebagai keberhasilan suatu lembaga

  1. Hubungan dengan supplier yang saling menguntungkan (Mutually Beneficial Relationship).                                                                               

Penanggungjawab Mutu Pendidikan

Sebelum lahir Undang-undang Sistem pendidikan Nasional no 20 tahun 2003, manajemen pendidikan sangat sentralistik. Semua kegiatan pengelolaan pendidikan serba terpusat, sementara kepala Sekolah dan guru hanya sebagai pelaksana saja dari semua kebijakan pusat. Sehingga kepala sekolah kurang berfungsi secara maksimal, karena tidak memiliki keleluasaan untuk menjadi pemimpin pendidikan dan tidak dominan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dan guru hanya berfungsi sebagai pengajar dan penyampai kurikulum apa adanya dari pusat. Sejalan dengan digulirkannya Undang-undang Sistem pendidikan Nasional no 20 tahun 2003, dan bersamaan dengan lahirnya undang-undang no 32 dan 33 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, maka wewenang manajemen pendidikan menjadi bersifat desentralistik, dan perwujudannya menjadi Manajmen berbasis Sekolah (MBS). Dengan demikian maka mutu pendidikan di sekolah menjadi tanggungjawab kepala sekolah. Kepala sekolah sekarang memiliki wewenang yang luas untuk mengurus rumah tangga sekolah dengan berbasis kompetensi. Jadi kunci keberhasilan pendidikan disekolah sangat bertumpu pada kompetensi kepemimpinan kepala sekolah.

Pelaksana Mutu Pendidikan

Allah swt mengamanatkan kepada manusia dalam Al Quran surat An Najm ayat  39, artinya: “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.

Berdasarkan ayat di atas  usaha yang dilakukan akan menentukan keberhasilannya sehingga ayat tersebut menjadikan motivasi bagi siswa dalam memperoleh cita-citanya. Seseorang tidak akan memperoleh sesuatu (termasuk Ilmu) kecuali apa yang diupayakannya. (QS: 53: 39) dalam konteks mutu pendidikan, seorang siswa tidak akan dapat memperoleh ilmu, tanpa ia sendiri yang harus aktif mencarinya dengan belajar dan berlatih.

Namun demikian, gurulah sebagai pelaksana langsung yang melaksanakan mutu pendidikan di sekolah melalui fungsi guru sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran. “ Fungsi guru adalah mempromosikan fasilitas belajar siswa hingga siswa menyadari bahwa ia telah memiliki kecakapan, baik kecakapan proses, kecakapan akademik ataupun kecakapan kejuruan. Istilah mempromosikan adalah mengubah  minat siswa dari tidak atau kurang mau belajar menjadi mau belajar. Istilah lainnya adalah guru harus mampu memotivasi siswa. Dengan demikian guru disebut sebagai motivator dan fasilitator.” (Hari Suderadjat : 15 : 2005).

Jadi pada akhirnya mutu pendidikan bertumpu pada profesionalisme guru dalam koordonasi kepala sekolah yang kompeten.

Strategi Manejemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan Menuju di Era Globalisasi

Deming (1986) menyatakan bahwa implementasi konsep mutu dalam sebuah organisasi memerlukan perubahan dalam filosofi yang ada di sekitar manajemen. Deming mengusulkan empat belas butir pemikiran yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan mutu dan produktivitas suatu organisasi juga dalam bidang pendidikan. Keempat belas butir pemikiran tersebut adalah:

  1. Ciptakan Tujuan yang Mantap Demi Perbaikan Produk dan Jasa.

Sekolah memerlukan adanya tujuan akhir yang mampu mengarahkan siswa menghadapi masa depan secara mantap. Jangan membuat siswa sekedar memiliki nilai bagus tetapi juga harus mampu membuat siswa memiliki kemauan belajar seumur hidup.

  1. Adopsi Filosofi Baru.                   

Siswa berhak mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. Dengan kata lain, mereka tidak lagi sebagai siswa yang pasif dan rela diperlakukan seburuk apapun tanpa dapat berkomentar.

  1. Hentikan Ketergantungan pada Inspeksi Masal.

Dalam bidang pendidikan, evaluasi yang dilakukan jangan hanya pada saat ulangan umum ataupun ujian akhir, tetapi dilakukan setiap saat selama proses belajar mengajar berlangsung. Selain itu, dalam menetapkan standar uji, maka perlu diperhatikan teori- teori kepemimpinan yang berkembang dalam Total Quality Management dan lainnya, seperti teori sifat, teori lingkungan, teori perilaku, teori humanistik, dan teori kontigensi. Sejalan dengan masalah evaluasi, masalah rekrutmen dalam menentukan pimpinan kependidikan, beberapa prosedur “Fit and proper testbisa dilakukan dalam pengambilan keputusan :

    • Melakukan “hearingdidepan tim, yaitu menyampaikan program, visi dan misi apabila terpilih menjadi pimpinan nantinya.
    • Menjawab pertanyaan lisan dan tertulis yang telah didesain sedemikian rupa. Adapun pertanyaan yang diajukan dapat menyangkut integritas, moralitas, profesionalisme, intelektualitas, keahlian.
    • Keharusan mengumumkan harta kekayaan dari para calon Kepala Sekolah sebelum yang bersangkutan menduduki jabatan yang dipercayakan kepadanya. Kebohongan atas kekayaan ini dapat mengakibatkan pemecatan (impeachmant).
    • Harus memahami sistem manajemen yang efektif dan efisien terhadap lembaga yang akan dipimpinnya. Termasuk dalam rekruitment karyawan, kesejahteraan, peningkatan kualitas hasil dan kinerja.
    • Mengemukakan masalah pribadi, seperti apakah calon itu pernah bercerai. Masalah anak bagaimana. Mengapa sampai terjadi perceraian. Kemudian menyangkut  masalah kebebasan dari tekanan, intimidasi, teror atau ancaman.
    • Tim seleksi melakukan investigasi   dan melacak semua kebenaran informasi yang disampaikan lisan maupun tertulis. Apabila calon-calon tersebut tidak dapat memberikan jawaban secara memuaskan, atau setelah melakukan investigasi ternyata terdapat kebohongan-kebohongan, tentu saja yang bersangkutan tidak dapat terpilih sebagai pimpinan.

Akhiri Kebiasaan Melakukan Hubungan Bisnis Hanya Berdasarkan Biaya

Dalam bidang pendidikan pernyataan di atas terutama dikaitkan dengan biaya pendidikan yang ada hubungannya dengan perbandingan junlah guru dan murid pada satu ruangan/kelas. Kelas besar memang akan membuat sekolah tersebut melakukan penghematan biaya, tetapi mutu yang dihasilkan tidak terjamin dan bukan tidak mungkin terjadi peningkatan biaya di bagian lain pada sistem tersebut.

Perbaiki Sistem Produksi dan Jasa Secara Konstan dan Terus Menerus.

Dalam bidang pendidikan seorang guru harus berpikir secara strategik agar siswa dapat menjalani proses belajar mengajar secara baik, sehingga memperoleh nilai yang baik pula. Guru jangan hanya berpikir bagaimana siswa mendapatkan nilai yang baik.

Lembagakan Metode Pelatihan yang Modern di Tempat Kerja

Hal ini perlu dilakukan agar terdapat kesamaan dasar pengetahuan bagi semua anggota staf dalam suatu lembaga pendidikan. Setelah itu barulah guru dan administrator mengembangkan keahlian sesuai yang diperlukan bagi peningkatan profesionalitas.

Lembagakan Kepemimpinan

Kepemimpinan (leadership) berbeda dengan pemimpin (leader). Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok dengan maksud mencapai suatu tujuan yang dinginkan bersama. Sedangkan pemimpin adalah seseorang atau sekelompok orang seperti kepala, komandan, ketua dan sebagainya.  Secara umum, pada dasarnya terdapat delapan kunci tugas pimpinan untuk melaksanakan komitmen perbaikan kualitas terus menerus, yaitu:

  1. Menetapkan suatu dewan kualitas.
  2. Menetapkan kebijaksanaan kualitas.
  3.  Menetapkan dan menyebarluaskan sasaran kualitas.
  4. Memberikan dan menyiapkan sumber-sumber daya.
  5. Memberikan dan menyiapkan pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pemecahan masalah kualitas.
  6. Menetapkan tim perbaikan kualitas yang bertanggungjawab pada manajemen puncak untuk menyelesaikan masalah-masalah kualitas kronis.
  7. Merangsang perbaikan kualitas terus menerus.
  8. Memberikan pengakuan dan penghargaan atas prestasi dalam perbaikan kualitas terus-menerus (Vincent Gaspersz, 1997: 203-204).

Sementara itu, bagi kalangan follower/pengikut/bawahan seperti guru, karyawan dan lain-lain, perlu memperhatikan ketentuan berikut : (1) Mendukung program-program pimpinan yang baik dan benar. (2) Memiliki kebutuhan berprestasi. (3) Klarifikasi kemampuan, wewenang dan peran. (4) Memiliki organisasi kerja. (5) Kemampuan bekerja sama. (6) Kecukupan sumber daya (kuantitas). (7) Memiliki koordinasi eksternal.

Ditambahkan bahwa, untuk melaksanakan tugas dan fungsi kepemimpinan, maka kepala sekolah perlu memperhatikan dan mengontrol Variabel situasi, yaitu seperangkat keadaan atau kondisi yang harus dikelola dan diciptakan secara kondusif. Situasi ini antara lain : (1) kekuatan posisi, (2) keadaan bawahan, (3) tugas dan kemampuan menggunakan teknologi, (4) struktur organisasi, (5) keadaan lingkungan lembaga (fisik dan non-fisik), (6) ketergantungan eksternal, (7) kekuatan sosial politik, (8) rasa aman dan demokratis. Keseluruhan proses interaksi kepemimpinan antara pemimpin, yang dipimpin dan situasi, ditujukan untuk mencapai variabel hasil akhir yaitu: (1) Kepuasan pelanggan. (2) Loyalitas pelanggan. (3) Profitabilitas. dan (4) kepuasan seluruh personil lembaga dan stakeholders. 

Hilangkan Rasa Takut                .

Perlu disadari bahwa rasa takut menghambat karyawan untuk mampu mengajukan pertanyaan, melaporkan masalah, atau menyatakan ide padahal itu semua perlu dilakukan untuk menghasilkan kinerja yang maksimum. Oleh karena itu para pelaku pendidikan hendaknya jangan menerapkan sistem imbalan dan hukuman kepada siswa karena akan menghambat berkembangnya motivasi internal dari siswa masing-masing.

Pecahkan Hambatan di antara Area Staf

Hambatan antardepartemen fungsional berakibat menurunkan produktivitas. Hambatan ini dapat diatasi dengan mengembangkan kerjasama kelompok. Oleh karena itu para anggota staf harus bekerjasama dan memprioritaskan diri pada peningkatan kualitas.

Hilangkan Slogan, Nasihat, dan Target untuk Tenaga Kerja.

Perbaikan secara berkesinambungan sebagai sasaran umum harus menggantikan simbol-simbol kerja.

Hilangkan Kuota Numerik

Kuota cenderung mendorong orang untuk memfokuskan pada jumlah sering kali dengan mengorbankan mutu. Terlalu banyak menggunakan slogan dan terlalu berpatokan pada target dapat menimbulkan salah arah untuk pengembangan sistem yang baik. Tidak jarang patokan terget akan lebih terfokus pada guru dan siswa daripada sistem secara keseluruhan.

Hilangkan Hambatan Terhadap Kebanggaan Diri atas  Keberhasilan  Kerja

Kebanggaan diri atas hasil kerja yang dicapai perlu dimiliki oleh guru dan siswa. Adanya kebanggaan dalam diri membuat guru dan siswa bertanggungjawab atas tugas dan kewajiban yang disandangnya sehingga mereka dapat menjaga mutu.

Lembagakan Program Pendidikan dan Pelatihan yang Kokoh.

Hal ini berlaku bagi para pelaku pendidikan karena memiliki dampak langsung terhadap kualitas belajar siswa.

Lakukan Tindakan Nyata/Contoh Nyata

Manajer harus menjadilead manager” bukan boss manager. Seorang “lead managerakan berusaha mengkomunikasikan pandangannya selalu berusaha mengembangkan kerjasama, meluangkan waktu dan tenaga untuk sistem sehingga dengan adanya contoh nyata, pekerja menyadari cara untuk melakukan pekerjaan yang berkualitas

Tantangan Dunia Pendidikan pada Era Global

Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan jaman. Bangsa Indonesia saat ini mengalami transformasi yang sangat cepat dengan pengaruh globalisasi dalam segala bidang. Perkembangan social budaya pada bangsa Indonesia ini membangun pola piker, sikap dan tindakan yang positif, namun ternyata tidak ketinggalan pengaruh negative globalisasi ini juga sangat terasa bagi kehidupan bermasyarakat umumnya dan juga pendidikan pada khususnya.

Filosofi Manajemen Mutu Terpadu:

Pertama   : Pemenuhan kebutuhan sebaik-baiknya atau kepuasan pelanggan.

Kedua  : Menciptakan budaya kerja dan budaya akademik dalam diri karyawan maupun tenaga kependidikan dalam layanan pendidikan, misalnya motivasi, sikap, kemauan, dedikasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Namun permasalahan yang ada adalah setiap pelanggan memiliki ukuran yang berbeda. Dengan kata lain tolok ukur untuk setiap pelanggan adalah berbeda, misalnya bagi seorang guru salah satu tugasnya adalah melayani siswa yang kurang pintar justru senang. Sementara siswa puas dengan penguasaan teori secara tuntas daripada masalah-masalah teknis, sedangkan siswa lainnya lebih senang dan puas dengan pemahaman yang sifatnya teknis.

Perbedaan tolok ukur kepuasan ini memang sangat mungkin dan fakta menunjukkan adanya perbedaan tersebut, yaitu:

  1. Pelanggan berbeda kebutuhannya
  2. Kebutuhan pelanggan selalu berubah
  3. Sikap dan kemampuan pemberi pelayanan
  4. Jasa pendidikan bersifat abstrak

 

Kesimpulan

Menurut Tjiptono dan Anastasia Diana (1995) ialah suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing melalui perbaikan terus menerus atas jasa, manusia, produk dan lingkungan. MMT sebuah konsep yang berupaya melaksanakan system manajemen mutu kelas dunia.

Menurut Dean sebagaimana dikutip oleh Ali Djamhuri (2001:8) prinsip umum Manajemen Mutu Terpadu meliputi: Organisai yang memfokuskan pada ketercapaian kepuasan pelanggan (Customer Focus Organization). Kepemimpinan (Leadership). Keterlibatan seluruh partisipan organisasi (People Organization). Pendekatan yang menekankan pada perbaikan proses (Process Approach). Penerapan manajemen dengan menggunakan pendekatan sistem (System Approach). Langkah perbaikan yang dilakukan secara terus menerus (Continual Improvement atau Kaizen). Penerapan pengembilan keputusan didasarkan fakta (Factual Apprecision Making). Hubungan dengan supplier yang saling menguntungkan (Mutually Beneficial Relationship).

Karena itu, pendekatan MMT tidak hanya bersifat parsial, tetapi komperhensip dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan dengan produk yang dihasilkan. Masalah kualitass juga tidak lagi dimaknai dan dipandang sebagai masalah teknis, tetapi lebih berorientasi pada terwujudnya kepuasan konsumen atau pelanggan. MMT juga melibatkan faktor fisik dan faktor non fisik, semisal budaya organisasi, gaya kepemimpinan dan pengikut. Keterpaduan factor-faktor ini akan mengakibatkan kualitass pelayanan menjadi lebiih meningkat dan bermakna.

 

DAFTAR  PUSTAKA

T. Tani Handoko (1984), Manajemen , Yogyakarta: BPFE, Edisi Ke dua

Malayu S.P. hasibuan (2005), Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta: PT. Bumi Aksara. Cet. Ke IV

Sofan Amri (2013), Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, Cet. I

http///:guruidaman.blogspot.co.id201208manajemen-mutu-pendidikan.htmL

httpwww.scribd.comdoc219881854Vvvvvvv-Karakteristik-Dan-Prinsip-Manajemen-Mu...

httpnurlaelifitri.blogspot.co.id201309manajemen-mutu-terpadu-pendidikan-mmtp.html.htm  

http://mundir1 httpsjurnaljp3.files.wordpress.com201309mundir1.pdf

http://uun1.blogspot.co.id/2014/01/contoh-makalah-manajemen-mutu-terpadu...

Penulis Opini: 
NURUL QIBTIYAH, S. AG, M. PD