Sejarah kehidupan manusia menyiratkan pembelajaran yang penting bagi manusia berikutnya. Tapi hanya manusia yang cerdas dan dapat menangkap sinyal-sinyal i’tibar yang dapat memaknainya sehingga lebih hati-hati dan selamat perjalanan hidupnya. Bahagia dunia dan bahagia akhirat, sebagaimana doa yang sudah lazim dibaca dan didengar.

Ibrahim dan Namrudz, Musa dan Fir’aun bahkan Nabi Muhammad saw dan Abu Jahal adalah diantara dua sosok yang menjadi simbolisasi versus antara kebenaran dan kebatilan. Perseteruan ini akan terus berlanjut hingga hari kiamat, karenanya posisi kitapun akan selalu berada pada dua kondisi ini, jika tidak berada pada posisi memihak kebenaran maka kita berada pada posisi lawannya, demikian juga sebaliknya. Bahkan al-Quran menyebutnya dengan sebaik-baik makhluk dan seburuk-buruk makhluk (QS. 98: 6-7).

Khusus tentang kezaliman yang dilakukan Fir’aun dan pendukungnya yang menindas masyarakat Mesir ketika itu secara rinci disebutkan dalam al-Quran, ini menunjukkan bahwa Fir’aun sebagai simbol orang yang memegang kekuasaan, simbol orang yang selalu diperturutkan kehendaknya, simbol manusia yang diberi kondisi fisik yang selalu sehat dan bugar ternyata bisa mengantarkan seseorang, siapapun, pada pemutlakan dirinya sebagai orang yang lebih. Disebutkan, “... Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya...” (QS. 21: 35). Pada sisi ini, dapat difahami bahwa ujian tidak harus dalam bentuk kefakiran, kemiskinan, ketiadaan tetapi bahwa hidup sukses, nama tenar, kehidupan mewah, keluarga yang sehat dan pintar, status dan jabatan terhormat adalah ujian. Hanya saja, banyak kita yang tidak menyadari bahwa kelebihan yang diberikan-Nya adalah juga ujian, amanah atau khianat, tabligh atau kitman dan sebagainya.

Demikian juga kecenderungan yang ada pada manusia adalah kala ia sukses dan pada puncak ketenarannya ia seakan lupa dengan siap Sang Pemberi Kenikmatan, namun ketika sedang dirundu duka nestapa, di PHK, banyak persoalan kehidupan ia merasa dekat dengan Tuhannya dan datang kepada-Nya dengan meangkap dan memohon. Hal inilah yang disindir Allah dalam QS. 10: 12, “Dan apabila manusia ditimpa ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas ...”

Lagi-lagi Islam mengajarkan untuk senantiasa mengingat Allah dalam semua keadaan dan situasi. Dalam hadits yang diriwayatkan Hakim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang mengingat Allah dalam keadaan tenang dan lapang, maka saat ia dalam kondisi sempit dan susah, Allah akan mengingatnya juga. Sungguh dahsyat, jika dalam kondisi kita terjepit, perlu bantuan ternyata yang menolong kita adalah Sang Penguasa Alam ini, Pemegang Jiwa dan Raga makhluknya.

Fir’aun adalah sosok manusia yang diberikan kenikmatan dunia, tapi ketika akhir hayatnya ia juga mengakui keberadaan tuhannya Musa, Allah SWT. Orang yang sombong adalah yang menolak kebenaran, ditolak dan dipinggirkannya kebenaran yang datang bisa saja karena tingginya status  dan jabatan sehingga ia terhalangi, ditolaknya kebenaran bisa saja karena ia merasa orang yang paling berilmu sehingga ia terhalangi, ditolaknya kebenaran bisa saja karena ia orang yang paling kaya dan beranggapan semua manusia bisa takluk dan tunduk di bawah kekayaannya. Ketika semakin jauh dan lupa kepada Sang Pemberi Nikmat maka akan tiba satu masa ia juga akan dilupakan oleh Zat yang dilupakannya itu. Allah SWT menggambarkan orang-orang yang berkarakter semacam ini dengan dialog sebagai berikut: Allah SWT menyatakan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Nya maka kepadanya diberikan penghidupan yang serba sempit, dan kelak akan dikumpulkan dalam keadaan buta. Manusia yang dikumpulkan dalam keadaan buta kemudian bertanya tentang apa sebab mereka buta sementara ketika di dunia mereka melihat dengan jelas. Kemudian Allah memaklumkan, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, maka begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan,” (QS. 20: 126).

Dilupakan oleh orang yang kita cintai, dilupakan oleh orang yang senantiasa memberi rezekinya untuk kita, dilupakan oleh orang yang sebenarnya sayang dengan kita dan jika kita tahu semua itu, sungguh hal yang sangat disayangkan dan rugi. Sang Pemberi Kenikmatan, Allah SWT, sangat sayang pada hamba-Nya, Ia tidak pernah lupa mengurus kita, bahkan hanya sekedar dan sekejap  untuk tidur dan mengantukpun Ia tidak pernah. Justru kita yang sering melupakan-Nya, melupakan keberadaan-Nya, melupakan kasih sayangnya dan lupa dengan nikmatnya bahwa hingga detik ini kita masih bernafas.

“Ya Allah, tolonglah kami agar selalu berzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu dan memperbagus ibadah pada-MU”. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.