Pendidikan nasional, sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia, berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Makna manusia yang berkualitas, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter.

Salah satu sub-sistem Pendidikan Nasional adalah lembaga pendidikan madrasah, hal mana secara jelas tercantum dalam Bab VI pasal 17 dan 18 (UU Sisdiknas) bahwa jenis dan jenjang pendidikan madrasah adalah Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan.

Meski dalam sistem Pendidikan Nasional madrasah disebut sebagai sekolah umum yang berciri khas Islam, namun hingga kini masih mencari bentuk idealnya. Hal ini disebabkan oleh problem identifikasi madrasah yang dominan bernuansa pada dua hal ; pertama. problem interplay (tarik ulur) kebijakan madrasah dalam integrasi sistem pendidikan nasional. Dan kedua; rendahnya tingkat apresiasi dan partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan madrasah.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kedua muara persoalan di atas diakibatkan oleh kurangnya informasi yang menyuarakan madrasah atau lembaga pendidikan Islam secara umum. Tidak mengherankan kalau selama ini madrasah masih cenderung menjadi semacam “barang asing” yang karenanya, tidak bisa akrab dan dekat dengan masyarakat. Jelas situasi ini menghambat upaya identifikasi madrasah dan lembaga pendidikan Islam secara umum.

Padahal kiprah, peran dan fungsi madrasah dalam ikhtiar mencerdaskan bangsa adalah suatu hal yang tak lagi membutuhkan semacam perdebatan. Pasalnya, madrasah telah lama matang dalam wacana pendidikan masyarakat di Indonesia. Dengan demikian akumulasi pengalaman madrasah dalam proses pendidikan terukur dari usia madrasah yang telah tua. Dari sini diakui atau tidak, madrasah adalah potensi aktif yang terus bergerak di bawah permukaan informasi tentangnya seperti yang tergambar di atas. Madrasah tetap terjaga dinamikanya karena memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mempertahankan keberadaannya sendiri.

Tetapi dengan arus globalisasi yang maha dahsyat sekarang ini, yang imbasnya pada dunia pendidikan, maka mau tidak mau sosok madrasah harus ditampilkan dengan agak berbeda (dengan tetap tidak melenceng dari khittah historis dan idealismenya). Bila tidak demikian, maka madrasah hanya akan menjadi cerita sejarah atau monument yang hanya bercerita tentang kejayaan masa lalu tetapi tidak terasa denyut nadinya pada masa sekarang. Lantas, madrasah yang bagimana, yang mesti direkonstruksi pada masa kini?

Tinjauan Yuridis

Secara yuridis konstitusional, keberadaan madrasah adalah sebagai amanah pelaksaaan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 tentang Agama dan pasal 31 tentang Pendidikan dan Kebudayaan. Mengapa demikian? Karena pengamalan agama akan terlaksana dengan baik melalui jalur pendidikan, sedang pendidikan agama adalah bagian yang terintegral dengan pendidikan nasional.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, madrasah adalah bagian dari sistem Pendidikan Nasional (Bab VI pasal 13 sampai dengan 18), diperkuat lagi dengan pendidikan keagamaan pada pasal 30.

Madrasah merupakan satuaan pendidikan formal yang terdiri dari 3 jenjang tingkatan, yaitu Ibtidaiyah (sederajat dengan SD, kelas 1-6), Tsanawiyah (sederajat dengan SMP, kelas 7-9) dan Aliyah (sederajat dengan SMA, kelas 10-12). Disamping itu adapula Madrasah Aliyah Kejuruan atau MAK (yang menekankan pada disiplin keahlian tertentu).

Sebagai bagian yang utuh dari sistem pendidikan nasional, maka output Ibtidaiyah dapat melanjutkan ke jenjang SMP, output Tsanawiyah dapat melanjutkan ke SMA, output Aliyah dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi baik umum maupun agama. Ini bentuk pengakuan formal bahwa eksistensi madrasah secara de facto dan de jure telah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Problematika dan Ikhtiar Solutif

Problema terbesar yang dihadapi madrasah dewasa ini adalah respon dan stigma masyarakat yang masih memandang madrasah sebagai sebuah pendidikan kelas dua, setelah sekolah-sekolah umum. Ironisnya stigma itu terjadi justeru di kalangan komunitas muslim sendiri, padahal harus disadari bahwa madrasah adalah asset pendidikan terbesar milik umat Islam (setelah Pondok Pesantren, tentunya).

Menyesuaikan dengan perubahan kurikulum dan semua dinamika dunia pendidikan, maka madrasahpun mesti ikut mereformasidiri. Sayangnya karena berada pada lain atap dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka anggaran pendidikan madrasah tidak sebesar yang dimiliki oleh sekolah-sekolah di bawah Kementerian yang dinakhodai oleh Anies Baswedan tersebut. Ini berimbas pada pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan, baik laboratorium, kepustakaan, kesenian maupun perlengkapan olahraga. Termasuk kualifikasi SDM-nya.

Demikian pula output yang dihasilkan oleh madrasah, masih sedikit sekali yang “pantas” disejajarkan dengan output dari sekolah umum, khususnya dalam bidang ilmu terapan. Madrasah dilabelkan pada pendidikan agama an-sich. Dalam lingkup internal ternyata madrasahpun mempunyai dilemma, sebab terbentuknya lulusan yang mumpuni dalam ilmu agama sudah menjadi garapan pondok pesantren. Bagaimana dengan madrasah? Lulusannya dicetak menjadi ustadz tidak bisa, menjadi lulusan yang berkemampuan dalam teknologipun tidak. Lalu hendak dibawa kemana lulusan madrasah kelak ?

Dengan deskripsi kondisi di atas, menimbulkan pertanyaan : “Lalu madrasah yang bagaimana yang harus kita tampilkan sehingga masyarakat merasa bangga dengannya?” Pertanyaan yang mengandung pekerjaan rumah yang tidak ringan, ditujukan kepada siapapun, stakeholders dan mereka yang merasa peduli terhadap madrasah.

Memang usaha-usaha pemerintah sejauh ini sudah maksimal, seperti kita tahu pernah berdiri Madrasah Aliyah Program Khusus Keagamaan (atau MAPK-yang kemudian berubah menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan atau MAK, pada gilirannya berubah kembali menjadi Madrasah Aliyah Kejuruan, sesuai dengan amanah UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003), Adapula di Madrasah-Madrasah Aliyah swasta didirikan Madrasah Model, Madrasah Unggulan dan lain sebagainya. Spiritnya harus kita apresiasi, semua dalam konteks menjawab tantangan ke depan, agar madrasah mampu berkompetisi di era global.

Sejatinya, apapun itu namanya entah madrasah model, unggulan atau madrasah favorit, yang paling penting adalah merubah pola manajemen dari klasik kepada yang berbasis teknologi. Nama tidak harus diformalkan, tetapi usaha internal harus tetap ditempuh.

Ikhtiar yang bisa dilakukan antara lain, mendesain madrasah yang memiliki karakteristik dan kemampuan :

1. Kurikulum : Kurikulum madrasah merupakan perpaduan antara ilmu-ilmu aqliyah (ilmu pengetahuan umum) dan ilmu-ilmu naqliyah (ilmu agama). Oleh karenanya kurikulum dan implementasi pembelajarannya harus berbasis kepada teknologi informasi.

2. Program dan Kegiatan : Pada dasarnya struktur program dan kegiatan yang diselenggarakan antara sekolah dengan madrasah pada umumnya adalah sama, hanya pada beberapa segi terdapat perbedaan tingkat urgensi program. Pada pokoknya ada tiga hal utama yang menjadi program andalan ;

Pertama,  menjadi pusat sumber belajar bersama. Usahanya adalah program peningkatan profesionalisme guru (diklat-diklat, sertifikasi guru, dll),

Kedua, sebagai pusat pelatihan (training centre) bagi madrasah lain di sekitarnya. Sarana yang harus dilengkapi misalnya laboratorium fisika, kimia, biologi, bahasa dan komputer (termasuk internet).

Ketiga, menjadikan madrasah sebagai pusat pemberdayaan dan pencerahan bagi madrasah yang lain. Diharapkan madrasah menjadi sumber inspirasi dan memacu semangat madrasah di sekelilingnya.

3. Sumberdaya Manusia, dalam usaha meeningkatkan kualitas madrasah, maka guru memiliki peranan yang sangat penting dan strategis. Diperlukan guru-guru yang berkompetensi pada bidangnya, baik kompetensi pedagogik, sosial dan lain sebagainya. Dengan kompetensi masing-masing, guru dalam menyampaikan pembelajaan tidak kaku, tidak terpaku pada tuntutan buku paket. Diperlukan strategi pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menyenangkan. Guru juga tidak boleh buta teknologi, guru harus menguasai teknologi informasi sehingga dalam proses pembelajaran dapat menggunakan laptop, LCD dan sebagainya. Guru madrasah juga mesti berpendidikan serendah-rendahnya S.2 dan/atau mengampu mata pelajaran sesuai dengan kualifikasinya.

4. Manajemen, unsur yang paling penting adalah Kepala Madrasah. Ia adalah seorang manajer yang dituntut kemampuannya dalam pengelolaan madrasah. Kepala Madrasah harus mampu membuat perencanaan sebelum melaksanakan program kegiatan, baik untuk jangka panjang, menengah maupun yang sifatnya mendesak. Kepala Madrasah dituntut mampu mengakomodir semua potensi bawahannya (tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, bahkan menjadikan mereka sebagai mitra kerja yang sinergis dan harmonis, bukan bawahan semata-mata). Dengan manajemen madrasah yang baik, pada akhirnya diharapkan akan dapat merubah gambaran atau image masyarakat yang negativ tentang madrasah.

5. Fasilitas, tidak dapat dipungkiri bahwa suasana kondisif belajar mampu menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam belajar. Oleh karenanya fasilitas pembelajaran di madrasah harus dipenuhi. Contoh kecil, ruang kepala, ruang guru, kondisi kelas, ruang praktek, laboratorium, musholla, lapangan olahraga, ruang seni dan sekretariat kegiatan siswa.

6. Lingkungan, kesulitan guru dalam melaksanakan tugasnya  berkaitan dengan kekurangan sumber belajar sesungguhnya dapat diperoleh dari dalam lingkungan madrasah dan lingkungan masyarakat sekitar madrasah. Lingkungan di sini tidak hanya lingkungan secara fisik, tetapi juga lingkungan sosial. Guru harus mampu melaksanakan pembelajaran di luar kelas asalkan sesuai dengan tujuan pembelajarannya, misalnya di perpustakaan umum, di tanah lapang, di tepian sungai dan sebagainya.

7. Supervisi dan Akreditasi, kegiatan pengawasan (supervisi) yang utama adalah melakukan pembinaan pada madrasah (kepala, guru dan staf pegawai) agar kualitas dan kinerja mereka bermutu. Supervisi itu dibagi dua, yaitu administrasi dan akademik. Supervisi administrasi meliputi aspek administrasi, sedang supervisi akademik meliputi orang, dokumen, tempat dan lokasi. Pengembangan madrasah sebagai pilihan pertama publik, harus berdasarkan atas data yang lengkap, akurat, valid dan dapat dipertanggungjawabkan, oleh karena itulah diperlukan supervisi yang terencana dan matang. Yang pada gilirannya mendapatkan nilai akreditasi yang membanggakan.

8. Pembiayaan, untuk operasionalisasi madrasah harus ditunjang oleh dana atau pembiayaan. Sumberdana yang diperoleh selama ini masih belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. Jika berharap hanya dari pemerintah tentu saja tidak akan cukup. Oleh karenanya perlu pengembangan potensi dana selagi dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya dana partisipasi dari wali murid yang besarannya disesuaikan dengan kondisi ekonomi mereka. Juga dari pemerintah daerah, atau madrasah secara mandiri membuka badan usaha seperti koperasi sekolah dan sebagainya.

9. Organisasi, yang tidak kalah pentingnya adalah merestrukturisasi organisasi madrasah. Agar jelas siapa mengerjakan apa, atau apa dikerjakan oleh siapa. Job description perlu dikuatkan kembali. Organisasi yang jelas, sehat dan terprogram pada gilirannya akan menumbuhkan budaya dan iklim kerja yang kondusif dan menyenangkan.

Inilah sekedar sejumput pemikiran dari Penulis, sebagai seorang praktisi pendidikan Madrasah yang telah hampir seperempat abad mengabdikan diri untuk kemajuan dan eksistensi madrasah. Upaya apapun harus dilakukan secara step by step, maksimal dan kerjasama yang sinergis dengan semua pihak. Insya Allah mimpi-mimpi besar kita menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan alternatif, yang menjadi kebanggan umat dan bangsa akan segera terwujud.  

Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah”

*** (Penulis adalah Guru MAN 2 Ketapang, alumni Pascasarjana IAIN Pontianak).

Penulis Opini: 
M. Nashir Syam, M.Pd.I