Diantara makhluk ciptaan Allah SWT yang paling lengkap dan mendekati kesempurnaan adalah manusia. Unik namun dualisme. Dualisme dalam arti memiliki dua sifat yang kadang menyenangkan namun juga menyakitkan, sifat yang kadang bermuka manis juga bermuka masam. Hal ini disinggung oleh Allah SWT sebagaimana ditemukan dalam QS. Asy-Syams/91: 8 bahwa manusia diberikan potensi kebaikan dan potensi keburukan.

Kesempurnaan manusia lainnya selain secara jasmani atau fisik adalah ia dibekali dengan fasilitas rohani sehingga manusia bisa merasa dan dengannya diharapkan tumbuh simpati dan empati dengan kondisi dimana ia berada.

Saat berada dalam satu lingkungan yang heterogen, serba majemuk maka disinilah diperlukan sebuah komitmen untuk tegak di atas permukaan yang mungkin miring, untuk jelas ditengah kekaburan dan lurus ketika berjalan di jalan yang penuh dengan liku-liku.

Seseorang yang memegang teguh komitmen, seorang yang berintegritas atau orang dengan kepribadian sebaliknya adalah mereka yang jelas memilih jalan kehidupannya, tentu dengan berbagai konsekuensinya. Bung Karno adalah sosok manusia yang memegang teguh komitmennya dan siap untuk dipenjarakan, demikian juga Buya Hamka adalah seorang ulama yang juga tegas dengan komitmennya, demikian juga sebaliknya orang-orang yang mengedepankan kebatilan dan kemungkaran dan rela mendapat predikat itu adalah orang-orang yang juga memegang komitmennya. Meminjam istilah Quran dengan adanya pengelompokkan ayat yang muhkamat dan ayat yang mutasyabihat. Penjelasan pada ayat muhkamat sudah jelas, sementara mutasyabihat masih perlu interpretasi dan itu hanya boleh diinterpretasikan oleh mereka yang menguasai ilmunya dengan cabang-cabangnya.

Manakala polarisasi ini dibawa kepada style manusia, maka diketahui ada manusia dengan karakter yang jelas hitam putihnya.  Perlu pemahaman dan interpretasi adalah manusia yang tidak pada posisi ini, hitam tidak jelas hitamnya, putihnya juga tidak terlalu nampak putihnya. Tepatnya, manusia ini masuk dalam kategori manusia abu-abu. Manusia dengan karakter ini tergantung kepada angin bertiup, dengan alas apa ia berpijak dan dengan siapa ia bertegur sapa.

Menghadapi manusia dengan karakter hitam atau putih akan lebih mudah menyikapinya. Lain halnya dengan manusia abu-abu, ketidakkonsistenannya memuat kita kadang sulit untuk menebak dan menyikapinya. Dualisme menjadi kepribadiannya (split of personality). Sejarah manusia menunjukkan bahwa cerai berainya kekuatan sebuah pasukan, atau lumpuhnya kepercayaan karena adanya manusia yang bermental abu-abu. Salah satu ayat dalam QS. al-Munafiqun diturunkan mengenai ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang pemimpin kaum munafik di kota Madinah. Ia senantiasa mengeluarkan kata-kata fitnah terhadap Nabi Muhammad SAW. tatkala berada di tengah-tengah pengikutnya. Namun kemudian menampakkan keislamannya tatkala di hadapan Nabi SAW, dan bersumpah dengan sumpah palsu untuk menutupi kemunafikan yang ada di dalam dirinya. Namun kemudian Allah SWT. membuka kedoknya dan memperolok-oloknya beserta semua pengikutnya.

Dalam bahasa agama, karakter ini masuk dalam kategori manusia munafik. Munafik adalah sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam QS. al-Baqarah/2: 14-15, “Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.’ Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dalam kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang”, dan secara tegas Allah SWT juga menyebutkan, “dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (QS.al-Munafiqun/63: 1).

Peribahasa menyebutkan hidung dicium, pipi digigit. Peribahasa ini mengajarkan kepada kita tentang orang-orang yang bermental ganda dan “bermain mata”, kasih sayang dan kesetiaan yang diberikan bersifat semu, bukan karena dilandasi persahabatan yang tulus dan kasih yang sejati tetapi karena ada kepentingan lain. Jika dirasa dengan berteman, kepentingannya terpenuhi maka didekati namun bilamana sebaliknya, kita tidak dibutuhkannya.

Kita berlindung kepada Allah SWT dari sifat dengan karakter abu-abu sebagaimana diuraikan di atas. **

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.