Manusia jagung adalah mereka yang tidak terlalu ingin dikenal dan dipuji, jika ada pujian ia syukuri meskipun sebenarnya ia sangat layak untuk dikenal dan disebut-sebut, ia bukan tipe manusia gila hormat.

Manusia jagung adalah manusia yang dalam pengetahuannya, namun rendah hati sikapnya, ia berbuat karena menjadi kebiasaannya bukan karena siapapun.

Manusia jagung adalah manusia yang hanya orang-orang tertentu yang tahu betapa ilmunya luas dan padat, karenanya tidak semua orang tahu bahwa ia memiliki derajat keilmuan yang tinggi.

Manusia jagung adalah manusia yang dalam moment tertentu ia sangat diperlukan, kedatangannya diharapkan dan kepergiannya dipertanyakan.

Bandingkan dengan manusia jambu monyet, pelajaran apa yang dapat pembaca ambil dan dijadikan sebagai pemaknaan kehidupan.

Manusia jambu monyet, hanya satu tapi dipublikasikan kemana-mana meskipun orang sudah tahu.

Manusia jambu monyet, masyarakat sudah tahu dengan keilmuannya, hanya satu, tetapi tiada henti ia memamerkannya.

Manusia jambu monyet adalah karakter orang yang memandang orang lain tidak mempunyai nilai plus dan akibatnya ilmu yang satu-satunya dimilikinya menjadi satu-satunya pula yang dibanggakannya.

Sadarkah kita, bahwa disekeliling kita ada yang memerankan sosok sebagai manusia jagung dan manusia jambu monyet. Manusia jagung adalah gambaran mereka yang sebenarnya dalam ilmunya, luas pengetahuannya tetapi tidak dinampakkan sebagai bentuk keriyaan, ia terbungkus oleh sikap tawadhu’nya, dilapisi oleh sikap rendah hatinya dan sungguh beda dengan manusia jambu monyet yang dangkal ilmunya, namun kemana-mana seakan-akan menjadi orang yang paling fashih dan paling shohih.

Kita tidak tahu, Saudaraku, bisa saja diamnya seseorang karena sesungguhnya ia orang yang dekat dengan Penciptanya, bisa saja ia wali Allah, bisa saja ia orang sangat dalam ilmunya, menangguk ilmunya seakan menyedot air laut yang tidak pernah habis, bisa saja ia tidak dikenal oleh kita penghuni bumi tetapi sesungguhnya ia “laris manis” oleh penghuni langit. Ia dikagumi makhluk langit seperti halnya kemuliaan Uwais al-Qarni. Doanya membumbung ke langit, permohonannya dikabulkan Allah SWT. Begitu dekatnya ia dengan Sang Khaliq seakan tiada jarak antar keduanya.

Manusia jagung sebagai simbolisasi dari seorang yang berilmu sejalan dengan manusia padi, semakin berisi semakin merunduk. Seseorang yang faham dengan hakikat ilmu maka ia semakin menyadari bahwa begitu mendapatkan ilmu iapun berujar, betapa lemahnya diriku, “baru ini ku ketahui”, demikian kira-kira ujaran seorang yang tawadhu. Inilah ucapan Imam Ghazali yang menyatakan semakin bertambah ilmuku semakin ku menyadari betapa bodohnya aku. Manusia dengan kualitas yang diakui hingga saat ini, dengan berbagai karya yang monumental dan dengan pengikut yang setia mengkaji pemikirannya masih saja berujar demikian, bagaimana dengan kita yang jauh dari kualitas keilmuannya?

Sikap ketawadhuan di atas mengajarkan kepada kita untuk muhasabah bahwa di atas langit masih ada langit lagi, di atas ilmu yang kita miliki masih banyak lagi orang yang berilmu. Pakaian kebesaran dengan gamisnya yang berjuntai, dengan sorbannya yang memanjang hingga ke tanah, dengan janggutnya yang lebat bak lebah menggantung bukanlah satu ukuran mutlak keberilmuan seseorang, bahkan bukan jaminan keberimanan seseorang, toh, Abu Lahab dan Abu Jahal dulunya adalah orang-orang yang dengan cara berpakaian demikian tetapi mereka jauh dari hidayah Allah SWT.

Allah SWT menginginkan kala kita dititipi ilmu, bermanfaatnya ilmu itu apakah hanya untuk diri sendiri atau juga untuk orang lain. Ketika kita berilmu, apakah dengan ilmu itu umat menjadi tercerahkan atau justru tersesatkan. Dengan ilmu kita pula, apakah menambah dekat kepada Sang Pemilik Ilmu atau justru sebaliknya dengan perkataan, “semua karena aku, aku dan aku”.

Manusia jagung adalah mereka yang melapisi dirinya dengan sikap kerendahhatian dan ketawadhuan. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.