Seorang muslim yang baik adalah yang orang-orang disekitarnya merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya. Gangguan lisan diartikan sebagai kemampuannya menahan dan mencegah lisannya dari berbicara yang tidak benar. Dalam menggunakan lisan, sebagaimana dinyatakan Nabi Muhammad SAW adalah untuk bicara tentang kebaikan dan jika tidak mampu maka lebih baik diam (falyaqul khairon aw liyashmut). Penggunaan lisan hanya digunakan untuk itu. Tidak untuk yang lain. Meskipun hanya itu, tetapi banyak orang yang tergelincir karena lisannya, banyak yang menjadi murka orang lain karena lisannya, banyaknya kegaduhan dan kericuhan hanya dikarenakan alat kecil yang tidak bertulang ini.

Muslim yang baik adalah yang juga mampu mengendalikan tangannya dari berbuat kerusakan  baik kerusakan untuk dirinya maupun untuk orang lain. Tangan adalah simbol dari kekuatan dan kekuasaan. Karenanya, orang yang memiliki “tangan” akan lebih banyak berbuat. Kemampuan menjaga lisan dan tangannya yang menyebabkan aman dari gangguannya menyebabkan ia masuk dalam kategori muslim yang baik.

Tetapi ternyata, keseharian menunjukkan adanya manusia yang justru kehadirannya menjadi sumber masalah, ia bukan menjadi bagian dari solusi tapi bagian dari problem. Karakter yang ada padanya adalah karakter manusia kompor, bukan manusia lem. Kompor mencerminkan sesuatu yang berapi-api, menggelora dan kemana-mana. Sementara karakter lem adalah sesuatu yang mencerminkan jiwa persaudaraan, perekat dan menyatu.

Manusia konflik adalah cerminan dari seseorang yang keberadaannya menjadi sumber atau setidaknya bagian dari masalah. Meminjam istilah Emha Ainun Nadjib, manusia konflik disebut juga dengan manusia haram. Haram dalam arti keberadaannya tidak diharapkan dan ketiadaannya tidak berarti kehilangan. Hanya saja harus dicermati bahwa manusia konflik dimaksud adalah manusia yang senang dengan kericuhan dan ketidakstabilan. Ia bagai manusia yang senang memancing di air keruh.

Kestabilan baginya adalah bahaya, ketenangan baginya adalah musuh dan kerukunan baginya adalah lawan. Dengan pola pikir seperti ini maka dapat dipastikan dimanapun ia berada akan membawa kehancuran, dan akan menjadi sangat berbahaya kemudian menjelma menjadi sesuatu yang membahayakan secara kolektif, dari sisi ini ia telah sesat dan menyesatkan. Bagi pemimpin yang berwawasan jauh ke depan, ibarat lima jari yang salah satunya berpenyakit menular, maka mengamputasi satu jari untuk menyelamatkan empat jari lainnya adalah tindakan yang dapat difahami. Demikian juga mengamankan manusia konflik untuk menyelamatkan sebuah organisasi yang lebih besar untuk mencapai tujuan utama adalah keputusan yang bijak dan cerdas.

Hidup adalah pilihan, menjadi orang yang dikenal sebagai orang yang bermanfaat dan bijakkah atau diberikan label sebagai manusia sumber masalah dan lebih baik tiada daripada ada, sepenuhnya ada pada kita. Tuhan Sang Pencipta telah menyediakan segala sesuatunya untuk merintis jalan kebenaran, jika Ia telah siapkan segala sesuatunya lantas kemudian kita salah memilih maka wajar dan pantaskah kemudian kita menyalahkan Ia. Dijanjikannya syurga bagi kebaikan dan neraka bagi keburukan.  Tidak terhitung lagi nikmat yang diberikan-Nya kepada makhluknya. (QS. 16: 18) namun pada kenyataannya tidak sedikit makhluknya yang membangkang perintah-Nya, menganjurkan larangan-Nya. Seakan-akan dipundaknya mampu mengemban tiga, empat hingga banyak amanah. Kondisi manusia semacam ini dikecam Allah SWT dengan bahasa zhaluman jahula (zalim dan bodoh).

Manusia konflik bisa muncul dengan latar pendidikan yang terbatas, bisa lahir karena merasa selalu menang dan benar sendiri, bisa mencuat karena sedikitnya literatur dan pergaulan kesehariannya dan akibatnya adalah mudah memvonis orang lain.**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.