Kemarin, sekitar jam 11.20 menitan, saya ke pasar membeli bumbu masakan. Saya melewati sebuah rumah makan muslim yang tetap berjualan makanan karena memang di sekitar rumah makan tersebut ada beberapa perkantoran yang karyawannya biasa makan di sana.  Dan tentunya karyawan tersebut bukan semua muslim.

Biasanya, bukanlah pemandangan yang aneh ketika setiap melewati rumah makan tersebut, banyak orang yang sedang mengantri makanan atau membeli nasi bungkus atau terkadang hanya membeli lauk saja. Namun siang ini ada yang terasa aneh ketika yang mengantri beli nasi dan makan di tempat adalah lelaki berkain sarung, lelaki berpeci atau berkopiah, atau perempuan berjilbab.

Mereka mungkin memiliki uzur sehingga tidak berpuasa, namun ada yang hilang di sebalik cerita ini. Anak ku pun bertanya,”Ummi, kok mereka tidak berpuasa ?”. Ya, ini tugas saya untuk menjelaskan kepada anak tentang siapa saja yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Namun ada baiknya jika siang di bulan Ramadhan begini, mereka yang berhalangan atau memang tidak puasa untuk tidak makan di tempat umum yang dapat menggoda anak-anak yang sedang berpuasa. Meski yang nampak cuma kaki sampai lutut saja, namun anak-anak cukup mengerti bahwa mereka sedang makan di siang hari di bulan Ramadhan.

Yang lebih miris lagi, anak-anak muda bersama beberapa orang tua laki-laki, kumpul di warung-warung atau di kursi-kursi pinggir jalan, merokok sambil minum sebungkus teh es manis. Astaghfirullah, mereka anak-anak muslim kita, bapak-bapak ibu-ibu.

Entah apa yang hilang dalam rumah tangga kita. Remaja-remaja tersebut harusnya sudah mengerti tentang kewajiban berpuasa. Jika zaman dahulu, nenek atau ibu kita selalu bersembunyi dari anak-anaknya ketika makan sesuatu di siang hari bulan Ramadhan, padahal mereka sedang haid atau berhalangan untuk berpuasa, tapi sekarang sudah mulai terlihat banyak orang yang tidak segan-segan untuk makan di tempat umum di siang Ramadhan. Padahal dahulu, ketahuan tidak berpuasa itu rasanya begitu malu.

Tidakkah mereka tahu bahwa tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadhan tanpa udzur, jelas itu perbuatan maksiat. Bahkan dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diperlihatkan siksaan untuk orang semacam ini,“Dia digantung dengan mata kakinya (terjungkir), pipinya sobek, dan mengalirkan darah.” (HR. Ibnu Hibban, 7491; dishahihkan Al-A’dzami)

Selain itu, Allah juga memerintahkan kita untuk mengagungkan semua syiar islam. Allah berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. al-Hajj: 32)

Bulan ramadhan, termasuk syiar islam. Di saat itulah, kaum muslimin sedunia, serempak melakukan puasa. Karena itu, menjalankan puasa bagian dari mengagungkan ramadhan. Hingga orang yang tidak berpuasa, dia tidak boleh secara terang-terangan makan-minum di depan umum, disaksikan oleh masyarakat lainnya. Tindakan semacam ini, dianggap tidak mengagungkan kehormatan ramadhan.

Dulu para sahabat, mengajak anak-anak mereka yang masih kecil, untuk turut berpuasa. Sehingga mereka tidak makan minum di saat semua orang puasa.

Sahabat Rubayi’ bintu Mu’awidz menceritakan bahwa pada pagi hari Asyura, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabat ke berbagai kampung di sekitar Madinah, memerintahkan mereka untuk puasa.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua, termasuk kepada “manusia tanpa kepala” di siang bolong bulan Ramadhan agar bisa melakukan amal kebaikan di bulan Ramdhan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Aamiin

*Penulis adalah penyuluh fungsional Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin