Dari istilahnya dapat diketahui bahwa arti wajib jika dilihat dari hukum Islam adalah dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan berdosa. Dari pengertian ini, maka manusia wajib dapat diartikan yang jika keberadaannya  mendatangkan kebahagiaan dan bermanfaat sementara jika ia tiada bukan bermakna berdosa tetapi ketiadaannya merupakan sebuah kehilangan.

Sederhananya, manusia wajib adalah yang kedatangannya menggenapkan dan kepergiannya mengganjilkan. Dalam sebuah komunitas yang bagaimanapun besar-kecilnya, sekelompok masyarakat yang bagaimanapun tinggi-rendahnya statusnya, dalam sebuah organisasi yang bagaimanapun ramai-sedikitnya, maka keberadaan orang dengan karakter ini selalu ada. Kehadirannya ditunggu, ide dan gagasannya menjadi perbincangan, rancangan aksinya menjadi pedoman. Namun disadari atau tidak, karakter manusia seperti ini jika tidak didampingi secara cerdas akan cenderung terkultus-individukan apalagi jika sosok tersebut senang dengan sanjungan dan pujian.

Rasulullah SAW adalah contoh manusia dengan karakter manusia wajib, tetapi beliau pandai menempatkan diri pada wilayah mana beliau memiliki otoritas dan mana wilayah yang kemungkinan sahabat beliau lebih tahu sebagaimana ucapan beliau, “antum a’lamu bi umuriddunyakum”, (kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian), demikian juga generasi sesudah beliau sebagai sebaik-baik generasi yakni era kepemimpinan khalifah (Khulafa ar-Rasyidin).

Adanya manusia wajib, bisa ada karena tuntutan keadaan sehingga kondisilah yang memunculkan manusia dengan karakter ini. Orang yang telah ditempa dengan keadaan yang sempit, terdesak akan terlatih untuk bekerja dibawah tekanan. Ia akan menjadi orang yang terbiasa bekerja dalam kondisi yang tidak biasa. Untuk di negeri ini, sosok Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta adalah sedikit contoh orang yang bekerja dalam kondisi tidak biasa baik dalam suasana penjajahan, kondisi perang dan dalam keadaan dirongrong oleh kelompok-kelompok yang tidak ingin Indonesia tetap tegak dan jaya.

Manusia wajib mengisyaratkan mesti ada dalam sebuah komunitas sebagaimana dalam doa yang sering kita baca dan dengar yakni permohonan supaya dijadikan sebagai “pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. Menjadi pemimpin adalah sebuah keharusan untuk terwujudnya sebuah komunitas yang diinginkan, dengan posisi sebagai pemimpin, segala kebijakan dan keputusan dapat ditentukan, memiliki hak veto tersendiri dan sebagai simbol yang memiliki nilai yang tinggi. Artinya, menjadi pemimpin adalah bagian dari proses menjadi manusia wajib. Jika demikian halnya menjadi manusia wajib adalah sebuah keniscayaan dan bahkan ia mempunyai nilai “sakral” pada komunitas tertentu.

Dalam keseharian, manusia menjadi “wajib” ternyata bisa hadir dan lahir karena selain faktor keadaan, juga karena adanya keputusan formal yang dituangkan dalam sebuah Surat Keputusan (SK), bisa juga karena kebutuhan masyarakat yang perlu adanya pemimpin yang sering disebut dengan pemimpin informal. Pemimpin informal bisa bergelar ustadz, kiyai dan sebagainya. Untuk contoh yang terakhir ini bukan semata penguasaan pengetahuannya tapi adanya “nilai plus” yang mengiringinya dan ia bisa kewibawaan, kharismatik dan lainnya.

Satu kata kunci untuk menunjukkan manusia dengan karakter wajib ini adalah bahwa ia bermanfaat bagi siapapun dan dimanapun. Semakin tinggi kebermanfaatan seseorang maka semakin tinggi nilainya dan jika semakin tinggi nilai seseorang dalam sebuah komunitas, itu artinya ia telah masuk dalam kategori manusia wajib. Semoga*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.