Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang yang alim dan zuhud, melewati sebuah pasar dan karena dikenal sebagai orang yang berilmu maka tidak lama kemudian banyak orang yang ingin minta nasihat padanya. Diantara mereka ada yang bertanya, “Wahai Tuan Guru, Bukankah Allah telah berjanji akan mengabulkan permintaan kami, tapi hingga saat ini kami telah berdoa ternyata doa kami juga tidak dikabulkan? Ibrahim bin Adham kemudian menjelaskan tentang sebab-sebab doa kita tidak dijawab Allah, satu diantaranya adalah kalian sangat menginginkan surga  tapi kalian tidak pernah melakukan amalan ahli surga. Singkat dan padat jawaban Ibrahim bin Adham yang pada dasarnya juga menjadi pelajaran penting untuk kita di era saat ini.

Setiap kita tentu mendambakan surga yang penuh dengan kenikmatan, dan gambaran kenikmatan itu telah dinyatakan dalam al-Quran yang mulia diantaranya dalam QS. 76: 21: “Mereka memakai pakaian sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Disebutkan juga dalam QS. 56: 22-23: “Dan di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik”. Bahkan disebutkan saat penghuni surga sedang asyik merasakan kenikmatan yang mereka dapatkan, tba-tiba muncul cahaya, mereka mengangkat muka-muka mereka, ternyata Allah SWT menampakkan wajah-Nya dengan rahmatnya dari arah atas mereka. Kemudian Allah berfirman: “Salam atas kamu wahai penghuni surga”. Inilah makna ayat sebagaimana ditemukan dalam QS. 36: 58.

Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan tidak bisa dibayangkan begitu nikmat dan indahnya. Keadaannya jauh dari yang diperkirakan. Setiap orang pasti menginginkannya. Hanya manusia adalah makhluk yang sombong (QS. 31: 18), sombong dengan memandang rendah orang lain, sombong dengan meremehkan orang lain. Penyebabnya bisa merasa tingginya status dan jabatan, merasa paling pintar dan intelek, merasa paling kaya dan sebagainya. Kondisi ini menjadi pintu masuk iblis untuk sombong dan sombong adalah penghalang untuk memasuki surganya Allah SWT. Ingin surga tapi sombong, mungkinkah?

Menginginkan surga tapi senang mengadu domba, inilah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Abbas ra dengan istilah al-qattat. Ketika ditanyakan kepada beliau tentang makna istilah ini, Rasulullah saw menjawab al-Qattat adalah orang yang suka mengadu domba. Mengadu domba adalah sikap buruk yang bermuka dua untuk mengambil keuntungan, disampaikannya berita tidak baik yang tidak sebenarnya kepada orang lain dan demikian juga sebaliknya, akibatnya yang awalnya rukun jadi cerai berai, yang tadinya harmonis jadi  broken, yang sebelumnya damai menjadi rusuh dan kisruh. Disinilah Islam memberikan aturan jika kita mendapatkan satu berita maka hendaknya berita itu di check dan diklarifikasi dulu apalagi jika kita tahu yang membawa berita adalah orang yang terbiasa gosip dan menyebarkan berita kebohongan.

Kita mendambakan surga tapi hubungan kekerabatan kita putuskan. Shilaturrahmi yang menjadi bagian dari ajaran Islam dipinggirkan dan tidak dipandangnya sebagai aturan hidup. Ada saja orang yang hanya karena persoalan sepele, putus shilaturrahmi, hanya karena pertengkaran kecil sesama anak-anak lantas orang tua serius menyikapinya untuk tidak menegur selamanya. Orang yang memutuskan tali kekerabatan baik karena diikat oleh tali persudaraan dan senasab atau karena hubungan kedekatan tempat tinggal jelas diharamkan oleh Allah SWT untuk memasuki surganya. Disebutkan, "Dan sesungguhnya tali kasih sayang ini adalah bagian Ar-Rahman, maka siapa yang memutusnya Allah haramkan baginya surga." (HR Ahmad).

Masuk surganya Allah, tapi meyakini adanya tuhan lain selain DIA, dan ini adalah kezaliman yang sangat besar. Allah SWT menyebutnya dengan zhulmun ‘azhim. Sikap inilah yang dinamakan dengan syirik (menyekutukan Allah, meyakini adanya kekuatan lain selain kekuatan Allah, menyembah tuhan selain Allah) dan orang yang bersikap demikian dinamakan dengan musyrik. Allah SWT memvonis orang semacam ini dengan kalimat-Nya, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. 5: 72).

Jika ingin surga, haruslah amalan ahli surga yang dilakukan dan menjadi kebiasaan. Jika tidak, bagai pungguk merindukan bulan. **

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.