Mazhab Medsos? Ya, mazhab medsos. Istilah mazhab medsos ini, penulis ketahui digunakan oleh Komaruddin Hidayat, Guru Besar  Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Dalam hal referensi dan pencerahan wawasan keislaman dan keindonesiaan penulis, Prof. Komaruddin Hidayat adalah salah satu rujukan dalam mengembangkan wacana dan pengayaan pengetahuan.

Istilah mazhab medsos digunakan oleh Prof. Komar untuk menjelaskan bahwa saat ini, di tengah arus modernisasi, era serba teknologi, maka untuk mendapatkan jawaban atas seluruh persoalan hidup hingga merambah wilayah spiritual  dapat ditemukan dengan mudah lewat jaringan komunikasi semacam facebook, WhatsApp, atau klik saja google dan tanyakan apa saja dari persoalan “dunia hingga akhirat.”

Masih menurut Prof. Komar, secara etimologi mazhab adalah jalan yang mengantarkan pada tujuan. Maksud yang lebih jauh adalah bahwa adanya mazhab untuk membantu mendekatkan persepsi agar mendapatkan pemahaman yang benar tentang suatu hal.

Keterlibatan secara langsung dalam dunia maya akibat kecanggihan teknologi saat ini merupakan sebuah keniscayaan, sesuatu yang dulunya asing, aneh dan impossible sekarang menjadi hal yang biasa, bahkan untuk mendapatkan informasi saat ini sudah sangat mudahnya. Adanya mbah google sebagai mesin penjawab terhadap persoalan yang ada, ingin mencari apapun bertanyalah padanya. Uniknya, tidak pernah bertemu langsung namun guru yang satu ini (baca: google) memiliki murid dan pengikut yang jutaan dan ada di setiap pelosok bumi ini.

Dilihat dari ramainya murid google, maka dapat dipahami jika di era milenium ini, dunia maya dengan berbagai jaringannya yang dikenal dengan media sosial telah berubah menjadi mazhab baru. Mazhab sebagai jalan yang mengantarkan tujuan itu tadi.

Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan mazhab yang satu ini.

Pertama, tidak berwujudnya “guru” yang satu ini dapat menyebabkan tidak adanya ikatan emosional antara guru dan murid sebagaimana selayaknya sebuah interaksi. Kita sering mendengar adanya komunikasi yang selalu terjalin bahkan hingga kuatnya ikatan emosional antara guru dan murid, antara peserta didik dan almamaternya dan ini jelas akan mengaburkan makna perlunya sikap hormat dan tunduk pada sang guru. Jika gurunya adalah google bagaimana ia akan bersikap tawadhu’ dan hormat? Wajarlah bilamana ditemui adanya orang yang memiliki ilmu tapi sikap rendah hatinya tidak mencerminkan sebagai orang yang berilmu padi.

Berikutnya adalah bahwa mazhab ini tidak mampu menjelaskan hal-hal secara rinci dan memuaskan, karena dialog atau pembahasannya kadang parsial dan terpisah-pisah sementara sebagai seorang guru ia harus memberikan pemahaman secara utuh dan jelas agar tidak terjadi kesalahanpahaman dalam aplikasinya. Tetapi mazhab ini memang sungguh meyakinkan, setidaknya dapat dilihat banyaknya bermunculkan da’i-da’i dadakan atau penceramah instan yang salah satunya karena adanya mazhab ini mampu membekali peserta menjadi manusia yang serba bisa dan serba paham.

Ketiga, karena tidak adanya interaksi langsung dan terbatasnya pembahasan  akan  menimbulkan salah tafsir dan kesalahan pemaknaan. Tidak menutup kemungkinan adanya kekerasan yang melandaskan apapun adalah berasal dari distorsi tentang satu hal yang pembahasannya dijelaskan secara parsial.

Mazhab ini akan menemukan tempatnya saat menjelang pemilihan umum atau pilkada. Siapapun akan dapat berkomentar baik yang mempunyai ikatan langsung atau sekedar memuat status untuk menunjukkan keberpihakannya. Pesannya adalah hati-hatilah berdekatan dengan sahabat yang satu ini, setidaknya jadikanlah ia sebagai media menebarkan kedamaian dan persahabatan lintas sektoral hingga ke alam berikutnya. Bukankah semua yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya?*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.