Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama RI tahun 2018 telah usai digelar. Ada yang menarik dari  muatan dan pesan yang tersirat Rakernas kali ini yakni tema yang diambil yang bertajuk : Melayani dengan Ikhlas. Slogan ini bukan barang baru, akan tetapi merupakan semboyan yang tertulis “Ikhlas Beramal“ pada lambang Kementerian Agama RI. Oleh karena itu, ada baiknya penulis mentresing kembali makna dari Ikhlas Beramal.

Kata Ikhlas, secara terminologis berarti tulus, bersih-suci tak membekas. Beramal asal kata amal yang bermakna berbuat, bekerja.  Makna filosofisnya berarti bekerja dengan tulus. Etos kerja manusia yang setiap perbuatannya diniatkan dengan lurus, tanpa ada tendensius. Dalam konsep Islam : Beribadah kepada Allah dengan penuh ikhlas dalam bergama yang lurus (QS.Al-Baiyinah 98, ayat 5).

Pertanyaan yang muncul dibenak kita, apa yang dimaksud Etos kerja manusia yang tulus-ikhlas tersebut ? Banyak pendapat para Ulama Sufi dalam kajian ilmu keihsanan (tasawuf) mengatakan bahwa letak keikhlasan itu ada pada tiga unsur fitrah manusia, yaitu akal-fikir, hati-nurani, nafsu-jiwa. Ketiga unsur ini senyawa simbiosis mutualisme (saling ketergantungan). Hakekat jati diri manusia tak terlepas dari pengaruh akal, hati dan nafsu.

Ketika akal-fikir manusia ikhlas (Ikhlasulfikri) dalam bekerja, maka memancarkan ide-gagasan cerdas-cemerlang, menciptakan ilmu pengetahuan teknologi yang canggih, selalu berfikir positif. Begitupun hati-nurani yang tulus ikhlas (Ikhlasulqalbi) menjadikan manusia—Akhlaqulkarimah—yang menawan dan sempurna. Terhindar dari penyakit hati yakni sombong, dengki dan dendam (Imam Al-Ghazali). Kemudian pula, nafsu-jiwa tulus (Ikhlasunnafsi), maka melahirkan jiwa-jiwa yang tenang-stabil (Muthmainnah). Karakter tempramen manusia yang istiqamah dalam segala hal dan kondisional.

Menghadapi tahun 2018, bagi Aparatur Kementerian Agama adalah tugas berat sama dipikul namun juga bisa dibilang ringan jika itu sama dijinjing.  Kerja gotong royong merupakan falsafah bangsa dalam membangun negeri yang tercinta ini. Tentunya agenda besar Kementerian Agama yang hendak dicapai tersimpul dalam 4 (empat) pilar yakni (1) Kerukunan Umat Beragama; (2) Mencerdaskan SDM umat beragama; (3) Mensejahterakan Kehidupan Umat Beragama; dan (4) Menanamkan ketaatan umat dalam beragama.

Disamping 4 (Empat) pilar pembangunan Umat beragama, Kode Etik Pegawai Kementerian Agama merupakan nilai normatif bagi aparat Kemenag RI yang berbunyi : “ Kami Pegawai Kementerian Agama yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa “  (1) Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan; (2) Mengutamakan pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat; (3) Bekerja dengan jujur, adil dan amanah; (4) Melaksanakan tugas dengan disiplin, Profesional dan inovatif ; serta (5) Setia kawan dan Bertanggungjawab atas kesejahteraan Korps.

Tema Rakernas 2018 yang bertajuk : Melayani dengan Ikhlas, akan terwujud apabila disenergikan dengan 5 (lima) Budaya Kerja Kementerian Agama : (1) Integritas; (2) Profesionalitas; (3) Inovasi; (4) Tanggungjawab; dan (5) Keteladanan. Kelima Budaya Kerja ini diimplementasikan dalam 4 (empat) pilar agenda besar dan dapat diamalkan dalam kerja sehari-hari, maka kita sesungguhnya adalah insan pembangunan bangsa ini yang musti kembali kepada fitrahnya yakni dengan  kata kunci manusia Indonesia yang Ikhlas beramal. ***  (ARI/TU, 07/2/18)

Penulis Opini: 
H. Azhari, S.Ag, M.Si