Pada peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) yang digelar bersamaan dengan Lounching Hari Kerukunan Nasional (HKN) tahun 2016, mengusung tema HAB tahun ini : Mengukuhkan Revolusi Mental untuk Kementerian Agama yang Bersih dan Melayani, Tagline : Kementerian Agama Berintegritas. Hal yang baru dan menarik dari tema ini adalah kata : Bersih dan Melayani. Pada kesempatan ini ada baiknya kita mengupas tentang konsep melayani.

Konsep melayani menurut Agni S.Mayangsari dalam bukunya Hearty Service atau Melayani dengan Sepenuh Hati, Service dalam dunia birokrasi yakni melayani yang berarti menghargai, menghormati dan bahkan memulyakan orang lain. Dalam satu kutipan Agni menguak konsep pelayanan yang baik adalah kemudahan. Jika bisa dilayani dengan mudah dan cepat, kenapa harus ribet dan bertele-tele. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini penulis mencoba membuat gagasan tentang konsep melayani dengan metode 3 aS. Yaitu : Melayani dengan Cerdas, Ikhlas dan Puas.

Pakar Psikolog mengatakan bahwa manusia pada hakekatnya dibekali dengan adanya tiga unsur fitrah atau jatidiri, yaitu akal-fikir, hati-nurani, nafsu-jiwa. Ketiga unsur ini senyawa simbiosis mutualisme (saling ketergantungan). Hakekat jati diri manusia tak terlepas dari pengaruh akal, hati dan jiwa. Begitupun pula cara melayani yang baik dalam suatu pekerjaan atau tugas, baik di biraokrasi maupun organiasi lainnya, tak terlepas dari pengaruh akal yang cerdas, hati yang ikhlas dan jiwa yang puas.

Melayani dengan CerdaS

Melayani dengan cerdas berarti mengoptimal akal-fikir manusia untuk melayani dalam bekerja, maka memancarkan ide-gagasan cerdas-cemerlang, menciptakan ilmu pengetahuan teknologi yang canggih, dan selalu berfikir positif. Menghindari dari fikiran yang kotor dan merusak integritas kepribadian. Selalu husnuzhon (prasangka yang baik) kepada setiap orang sehingga yang dilayani merasa dihargai.

Melayani dengan IkhlaS

Begitupun melayani dengan ikhlas berarti bekerja dengan memancarkan hati-nurani yang tulus sehingga dapat menjadikan manusiaAkhlaqulkarimah berbudi pekerti yang menawan dan sempurna. Terhindar dari penyakit hati yakni sombong, dengki dan dendam (Imam Al-Ghazali). Dari hati yang ikhlas akan menjadikan pelayanan yang tulus atau melayani dengan sepenuh hati, rasa dan karsa sehingga yang dilayani merasa dimuliakan.

Melayani dengan PuaS

Kemudian melayani dengan puas berarti bekerja dengan pengendalian nafsu-jiwa, maka melahirkan jiwa-jiwa yang tenang-stabil (Muthmainnah). Karakter tempramental manusia yang istiqamah (lurus) dalam segala hal dan kondisional sehingga yang dilayani merasa puas dan dihormati serta menghasilkan pekerjaan menjadi tuntas.

Demikian sekelumit ide-gagasan yang insya Allah penulis dapat mengamalkannya. Jika ini baik dapatlah kiranya sebagai sebuah zikir kita kepada Sang Kholiq yang menciptakan manusia dari unsur fikir, qalbu dan nafsu. Semoga bermanfaat adanya. Amiin.***

(Penulis, H.Azhari,S.Ag,M.Si Ka.Subbag TU Kemenag Kota Singkawang)

Penulis Opini: 
Azhari