Assalamualaikum War. Wab.,

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar 3 x

Kaum Muslimin Jamaah Sholat Idil Adha Rahimakumullah

Mengawali khutbah ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Yakinlah, hanya dengan iman dan takwa ini Allah akan membukakan pintu rahmatnya, menurunkan rezekinya dan menahan dari murkanya Allah SWT.

Allah SWT menyatakan dalam Q.S. Al-A’raf:96 yang berbunyi: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu nabi dan rasul, manusia paling mulia dan junjungan seluruh alam, beliaulah Muhammad Rasulullah SAW dan semoga kita senantiasa dalam doa beliau, dan mendapatkan syafaatnya. Amien ya mujibassailin.

Kaum Muslimin!

Di antara nikmat Allah SWT yang diberikan-Nya kepada kita yang hingga saat ini masih kita rasakan adalah nikmat umur. Coba kita renungkan, berapa banyak saudara-saudara kita, orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang kita hormati telah lebih dulu mendahului kita, telah menghadap Allah SWT, oleh karenanya mari kita doakan semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan menjadikan kuburannya sebagai taman dari taman-taman surga (raudhatun min riyadhil jannah) dan kita yang masih hidup saat ini semoga juga diwafatkan Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah. (WA INNA INSYA ALLAHU BIKUM LAHIQUN)

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Nun di sana, di tanah suci Makkatul Mukarromah, kiblat seluruh umat Islam di dunia ini, sedang menunaikan ibadah haji sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Mampu, menjadi salah satu syarat menunaikan ibadah haji, tapi pengertian mampu harus juga dibarengi dengan upaya sungguh-sungguh, mudah-mudahan kita satu saat akan dapat memenuhi panggilan Allah SWT ini. Amin.

Ibadah haji merupakan syariat yang sudah lama usianya. Ia dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim as sekitar 3.600 tahun yang lalu.   Dalam   Kitab   Jami’li  Ahkami   Quran,  Imam  Al - Qurthubi mengisahkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Ibrahim as selesai membangun Ka’bah, beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT  agar menyeru berhaji kepada manusia. Ibrahim as menjawab , “Bagaimana suaraku didengar  oleh manusia?”  Maka  Allah  SWT  berfirman, “ Serulah mereka, maka Aku yang akan menyampaikannya”.

Lantas Nabi Ibrahim as  pun naik ke Jabal Abi Qubis dan menyeru dengan suara keras, “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu untuk berhaji ke rumah ini (baitullah), niscaya Allah akan memberi pahala surga dan menjauhkan kamu dari api neraka”. Saat itu seluruh manusia menjawab dengan jawaban talbiyah.

Jamaah Sholat Id, Inilah yang dinyatakan Allah dalam Q.S. Al-Hajj: 27 yang berbunyi:  “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa ibadah haji pertama kali diserukan oleh Nabi Ibrahim as, kemudian diteruskan  oleh nabi-nabi sesudahnya hingga kepada Rasulullah Muhammad SAW. Perintah haji ini lalu dijadikan sebagai rukun Islam yang kelima.

Sebagai rukun Islam yang terakhir, Ibadah haji adalah salah satu  dari perjalanan jasmani dan rohani, ibadah fisik dan psikis yang diperlukan kesiapan. Haji adalah  ibadah  harta karena calon jamaah haji telah menginfakkan  hartanya di jalan Allah. Dalam ibadah haji juga ada shaum (puasa) karena calon haji diharuskan menjauhkan diri dari syahwat jasmani selama berihram.

Pahala yang diperoleh dari beribadah haji adalah diampuninya segala dosa. Ini dikarenakan ibadah haji merupakan kewajiban yang paling berat bebannya bagi seorang mukmin. Dalam bahasa agama, inilah yang disebut haji mabrur, haji yang diterima Allah SWT.

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Banyak nilai yang terkandung dalam ibadah haji dalam rangka membangun mental dan kepribadian seseorang. Prof. Quraisy Shihab menyebutkan ada beberapa hal yang dapat mengantarkan seseorang  menemukan nilai-nilai mabrur dalam ibadah haji.

  1. Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Ini menunjukkan bahwa ibadah haji menuntut seseorang untuk tidak membesar-besarkan perbedaan, semua harus memakai pakaian yang sama, ucapan dan zikir yang sama, kiblat yang sama dan menyembah Allah Tuhan yang sama.
  2. Dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diperhatikan oleh pelaku ibadah haji, dilarang menyakiti binatang, dilarang membunuh dan menumpahkan darah. Mengapa? Karena manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Allah dan memberi kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya.
  3. Ka’bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Misalnya ada HIJR ISMAIL yang arti harfiahnya “pangkuan Ismail”, di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangun Ka’bah ini pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita budak belian. Namun demikian, budak wanita tersebut ditempatkan Allah SWT pada tempat terhormat dan ini memberi pelajaran bahwa Allah SWT memberi kedudukan seseorang, bahwa Allah akan memuliakan sesorang bukan karena keturunan atau status sosial, bukan karena banyaknya gelar, pangkat dan jabatan tapi karena kedekatannya kepada Allah SWT

Jamaah Sholat Idul Adha yang saya muliakan

Nilai ke empat yang dapat diambil dari pelaksanaan ibadah haji adalah di Arafah, padang yang luas dan gersang, seluruh jamaah haji berhenti (wuquf) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah  mereka seharusnya menemukan ma’rifah pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya dan di sana pula seharusnya ia menyadari betapa besar dan agungnya Allah Qadhi Rabbul Jalil, Al-Malikul Mulk, yang kesemuanya diperagakan secara miniatur di padang Arafah tersebut.

Kita doakan semoga jamaah haji Indonesia kembali dari Tanah Suci Makkatul Mukarromah dan Madinatul Munawwarah  akan membawa nilai-nilai sebagaimana yang telah disebutkan di atas dan memperoleh predikat haji mabrur. Amien ya Robbal Alamin.

Setiap kita, khususnya jamaah haji mengharapkan predikat haji mabrur karena tidak ada balasan untuk haji yang mabrur selain surga. Haji mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan nilai-nilai hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyah (Ketuhanan). Mabrurnya haji seseorang akan dapat dilihat pada saat sebelum dan sesudah ibadah haji itu dilaksanakan.

Apa diantara tanda-tanda haji mabrur. 1) Niat dan tujuan ibadah hajinya hanya untuk tazkiyatun nafs, yakni ingin menyucikan jiwa dan nafsunya. 2) Segala biaya yang dikeluarkannya dari sumber yang halal. 3) Selama mengerjakan ibadah haji, segala yang rukun dan wajib dilaksanakan dengan baik. 4) Segala yang dilarang dijauhinya seperti ucapan yang tidak baik dan mubazir, menyakiti orang lain dan perbatan jahat lainnya. 5) Sesudah pulang dari tanah suci Makkah, imannya, ibadahnya dan akhlaknya semakin meningkat dan baik.

Dalam perilaku kesehariannya, haji mabrur memperlihatkan sikap dan kehidupan yang Islami, baik, benar dan berguna. Ibadahnya semakin kuat, kasih sayang kepada sesamanya,  semakin meningkat menjadi suriteladan masyarakat.

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang mabrur, yang diterima Allah,  baik ibadah kita, sholat kita, haji kita, hidup dan mati kita sehingga kita termasuk golongan shiddiqin, syuhada washsholihin.

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Jamaah Sholat Idul Adha yang saya muliakan

Dalam kesempatan yang mulia ini, khatib juga menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin semoga Allah menjadikan sisa umur kita untuk semakin taat kepada Allah, semakin baik dengan sesama manusia sehingga hidup dan mati kita senantiasa dalam ridha Allah SWT.

Demikian khutbah yang dapat khatib sampaikan, semoga ada manfaatnya.

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z., M. Pd. I