Hari-hari ini kita menyaksikan berita tentang tindak pidana korupsi dan perilaku koruptif di mana-mana. Ter­jadi di hampir semua daerah di Tanah Air, di semua level, dan di semua segi kehidupan dengan beragam jenis, modus, dan kompleksitas. Perilaku koruptif telah merasuki semua elemen bangsa. Padahal kita semua tahu bah­wa korupsi adalah perilaku yang tidak bermoral. Muara dari persoalan korupsi adalah hilangnya nilai-nilai antikorupsi. Nilai-nilai antikorupsi itu adalah  jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung­jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil, yang kini hampir hilang dari dalam diri setiap individu di negeri ini.

Sementara di sisi lain, dunia pendidi­kan yang diharapkan menjadi penguat budaya antikorupsi makin dirasakan tidak konsisten dalam menjalankan fungsinya. Proses pendidikan sepertinya hanya mementingkan penguasaan pengeta­huan semata ketimbang membiasa­kan perilaku baik. Sekalipun sekolah mengimplementasikan berbagai kegiatan sejenis, akan tetapi hal terse­but dilaksanakan seolah terpisah dari proses pembelajaran yang utuh. Sekolah pun tidak luput dari perilaku koruptif pada segala lini. Padahal, se­kolah diharapkan menjadi “lokomotif” dalam penguatan budaya antikorupsi. Sudah cukup banyak catatan ten­tang persoalan yang kita hadapi sebagai bangsa, yang kesemuanya bermuara pada lemahnya perilaku. Berbagai alasan juga sudah dikemuka­kan.

Semua itu men­jangkiti semua sendi kehidupan kita hari-hari ini, juga dunia pendidikan, yang semestinya menjadi lokomotif pembangunan budaya. Alih-alih menguatkan sekolah sebagai pusat pendidikan yang utama dalam penguatan budaya antikorupsi, kita semua lebih sibuk melakukan upaya penanganan jangka pendek. Oleh karena itu, inilah saatnya untuk mengembalikan sekolah sebagai loko­motif penguatan budaya antikorupsi untuk jangka panjang. Diawali  dengan Pendidikan Antikorupsi yang dimotori oleh satuan pendidikan dengan guru-guru yang berintegritas. Integritas guru adalah pilar utama penyelenggaraan pendidikan di setiap jenjang. Hal tersebut disebabkan karena guru berintegritas sangat menentukan suksesnya suatu pendidikan. Guru diibaratkan sebagai nakhoda dalam sebuah pelayaran, pilot dalam sebuah penerbangan, dan supir dalam sebuah perjalanan. Oleh karena itu suksesnya sebuah pendidikan tergantung pada seberapa tinggi integritas guru gurunya. Membangun guru berintegritas bukanlah perkara mudah. Perlu kesinambungan yang berkelanjutan untuk menghasilkan guru yang berintegritas. Integritas guru tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi harus dibentuk dan dibangun dengan kesadaran yang tinggi pula. Guru yang berintegritas adalah guru yang memiliki komitmen yang muncul pada dirinya untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan benar dan penuh rasa tanggungjawab.

Melihat peran strategis dari guru tersebut dalam hal pencegahan sejak dini perilaku korupsi  , maka KPK mendorong adanya gerakan yang diberi nama Pendidikan Antikorupsi. Hal ini sejalan dengan UU yang diamanahkan kepada lembaga anti rasuah ini yaitu UU No. 30/2002 tentang KPK Pasal 13 c, d, dan e: yang berbunyi ““Dalam melaksanakan fungsi pencegahan, KPK mempunyai wewenang untuk melaksanakan Pendidikan Antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan; merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi TPK; dan melakukan kampanye antikorupsi kepada masyarakat umum” lebih lanjut dikatakan bahwa Salah satu tugas dan fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 30/2002 tentang KPK pasal 6 huruf (d) adalah melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan pasal 13 huruf (c) bahwa KPK harus melakukan pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan secara terarah, terencana, terukur, dan berkesinambungan.

Salah satu ajang kegiatan yang diadakan adalah Anti-Corruption Teacher Supercamp merupakan salah satu program yang dijalankan oleh KPK untuk meningkatkan daya dukung terhadap implementasi pendidikan antikorupsi dengan melakukan pemberdayaan kreativitas guru selaku tenaga pendidik dalam menciptakan dan mengembangkan berbagai model implementasi pendidikan antikorupsi di sekolah. Pada tahun 2017 ini, KPK kembali menyelenggarakan “Anti-Corruption Teacher Supercamp” dengan dengan sasaran guru madrasah tingkat RA, MI, MTs, dan  MA seluruh Indonesia.  Penulis berkesempatan mengikuti kegiatan ini dengan terlebih dahulu mendaftarkan dan mengirim karya inovasi pembelajaran yang berbasis anti korupsi. Kegiatan ini kerjasama KPK dengan Kementerian Agama Republik Indonesia. 100 peserta terpilih dari seluruh jenjang pendidikan madrasah seluruh Indonesia berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Penulis dinyatakan lolos seleksi dan mendapatkan pelatihan selama 5 hari, dimulai tanggal 13-18 November 2017 yang  berpusat di Cisarua Bogor, Jawa Barat. Bagian penting dalam kegiatan ini adalah melibatkan para guru madrasah dan pondok pesantren dari seluruh Indonesia yang memiliki minat, bakat, atau pengalaman dalam membuat inovasi pembelajaran antikorupsi. Tujuan dari kegiatan ini untuk membantu meningkatkan kapasitas para guru dalam menyusun materi pendidikan anti korupsi untuk memperkaya konten atau literatur pendidikan antikorupsi yang dimanfaatkan dan diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Selain itu mendorong kreativitas para guru dalam menciptakan model pembelajaran yang efektif dalam pendidikan antikorupsi di sekolah.

Sejumlah praktisi dan pemateri berpengalaman di bidangnya membantu dan terlibat dalam kegiatan tersebut seperti Bambang Widjojanto mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Najeela Shihab pegiat pendidikan pendiri Sekolah Cikal, Ganjar Laksmana Bonaprapta pakar hukum, ahli hukum pidana dan dosen hukum Universitas Indonesia. Baskoro Adi seorang penulis Skenario Film, Iman Soleh seorang Budayawan, Eva Y. Nukman penulis buku anak, Eko Nugroho (Game Designer), Zulkifli Anas (Pakar Kurikulum), Munif Chatib (Pakar Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran) dan banyak lagi pemateri yang ahli di bidangnya. Banyak ilmu yang penulis dapatkan dari kegiatan selama enam hari tersebut dan yang terpenting dari itu semua adalah adanya komitmen dari diri penulis untuk mengimplementasikan budaya antikorupsi yang dimulai dari diri penulis. Diharapkan guru sebagai garda terdepan dalam mengedukasi dan menularkan virus-virus anti korupsi di dunia pendidikan dan terus berkomitmen dalam pencegahan dengan mengintegrasikan materi anti korupsi dalam setiap materi pelajaran di sekolah, sehingga diharapkan lambat laun peserta didik menjadi generasi penerus bangsa yang memahami arti penting sikap anti koruspi. Semoga dengan kegiatan ini para guru menjadi pioner dan penggerak integritas di semua lini kehidupan untuk meraih cita-cita besar bangsa yaitu menghasilkan generasi emas sesuai dengan cita cita negeri yang kita cintai ini.

Penulis adalah alumni Teacher Supercamp KPK 2017

Seorang guru MIN Teladan Sanggau

Penulis Opini: 
Anwar Musadad