Dikelilingi anak-anak yang cerdas, patuh dengan orang tua, taat dengan agama adalah keinginan seluruh orang tua tanpa terkecuali. Kerja keras, doa dan harapan selalu dilantunkan agar kebahagiaan orang tua dapat tercapai. Bahagia adalah suasana batin yang tidak dapat dinilai dengan harta kekayaan, karenanya kebahagiaan sangat subyektif, apalagi ia merupakan persoalan batiniah maka ukurannya sekali lagi adalah bukan pada cukupnya materi, bukan pada lengkapnya fasilitas dan bukan pada berlimpahnya harta. Bagi orang tua, kebahagiaan adalah seperti yang diutarakan di awal tulisan ini.

Pertanyaan berikutnya adalah, ibarat ingin mendapatkan hasil yang baik dan sesuai harapan maka berbagai persiapan dan rencana matang menjadi sebuah keharusan. Demikian juga halnya ingin mendapatkan keturunan yang baik, anak-anak yang membanggakan keluarga maka persiapan dan rencana kerjasama harus disiapkan pula. Mengapa ada rencana kerjasama (ayah-ibu atau suami-isteri) dalam membangun kepribadian anak?  karena dari keduanya ada sebagai pengikat emosional keluarga, karena ayah-ibu difase awal memerankan posisi sebagai guru atau pendidik utama. Menyampingkan salah satu peran adalah sikap tidak bijaksana demikian juga tidak memerankan sebagai seharusnya bukanlah sikap yang arif. Membangun kepribadian anak memerlukan kerjasama keluarga. Keluarga adalah peletak fondasi utama dan pertama namun akan ada lingkungan lainnya yang ikut berperan mewarnai sikap keseharian anak, lingkungan itu jika diperluas adalah tempatnya menerima ilmu (sekolah), tempatnya bermain (sekitar rumah dan teman bermain) dan dukungan spiritual dari orang tuanya yakni doa.

Meskipun tidak bisa digeneralisir dan memang tidak seharusnya tempat anak menuntut ilmu (sekolah) menjadi lingkungan yang tidak kondusif, namun beberapa kasus menunjukkan bahwa sekolah menjadi tempat perlakuan kekerasan. Untuk menyebut kasus tersebut, kasus kekerasan di dalam lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing, Jakarta Utara, kasus pengeroyokan dan pemukulan kepada sejumlah adik kelas saat jam pelajaran di SMK Negeri 3 Kota Tegal (http://regional.liputan6.com/read), kasus siswa ditusuk temannya sampai meninggal (Bantul, Yogyakarta), orang secara brutal menyerang delapan murid SD kelas V dan kelas VI SD (Nusa Tenggara Timur), guru menganiaya mata siswa dengan pulpen (Gowa, Sulsel), orangtua murid menganiaya guru hingga bercucuran darah (Makassar, Sulsel), tawuran siswa SD yang melibatkan 3 sekolah (Semarang) (http://health.liputan6.com/read/2679371/jppi).

Melihat deretan kasus di atas yang penulis yakin masih banyak kasus lain, ternyata sekolah menjadi salah satu tempat terjadinya kekerasan dan ini bertolak belakang dengan visi dan misi satuan pendidikan dan bertentangan dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang cerdas dan sehat jasmani dan rohaninya.

Penelitian oleh Plan International dan International Center for Research on Women yang dirilis tahun 2015. Menunjukkan bahwa terdapat 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yakni 70 persen. Bahkan, berdasarkan perhitungan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sedikitnya ada 1800 anak korban kekerasan tiap tahunnya di Indonesia. Bahkan secara rinci disebutkan angka kasus kekerasan di sekolah di Indonesia ini lebih tinggi dari Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen). (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/02/22).

Dari sisi ini, memilih dan mengenal sekolah sebagai langkah preventif bagi orang tua adalah hal yang penting dan harus menjadi perhatian, karena setidaknya 7-8 jam, pola fikir dan sikap anak yang dalam rentang waktu demikian, anak-anak kita berada dalam lingkungan sekolah.

Demikian juga tempat bermain memberikan warna tersendiri bagi proses tumbuh-kembang anak. Scope ini lebih luas dari sebelumnya dan dalam rentang waktu yang cukup lama. Kesalahan memilih teman bermain akan berdampak pada pola sikap yang akan dibawa ke lingkungan rumah tangga. Bukankah manusia adalah makhluk peniru yang paling baik? Bahkan dalam pandangan Islam, kesalahan memilih teman akan berpengaruh pada kehidupan sesudah kematian (alam akhirat). Hal ini disinggung untuk mereka yang keliru dan menjadikan orang yang tidak baik sebagai teman, disebutkan “Kecelakaan besar bagiku, kiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)” (QS. al-Furqan/25: 28).

Kekhawatiran orang tua (keluarga) dewasa ini adalah kekhawatiran akan anak-anak dalam memilih dengan siapa mereka berteman. Menjadikan keluarga sebagai tempat aduan, tempat berbagi cerita dan informasi harus selalu ditumbuhkan pada anak-anak dan orang tua harus sedia dan setia untuk meresponnya, keluarga dalam hal ini orang tua harus mampu memerankan diri sebagai sosok teladan yang dapat dijadikan figur dan kebanggaan keluarga. Jika ini tidak diperhatikan dan dianggap sepele, kekhawatiran mereka akan memilih teman yang keliru, menemukan idola yang tidak mendidik yang berdampak pada sikap yang keliru akan menjadi kenyataan.

Faktor lainnya yang penting untuk membangun kepribadian anak adalah dengan memaksimalkan doa dan pengharapan. Kekuatan doa (Power of Prayer) adalah kekuatan dahsyat yang mampu membolak-balikkan keadaan, hal ini menunjukkan bahwa sebagai negara yang beragama, sebagai umat yang agamis mempercayai adanya kekuatan Sang Pencipta adalah satu keharusan. Permohonan doa agar terwujudnya anak-anak yang membanggakan kedua orang tua, penyejuk hati dan bermanfaat bagi siapapun selalu diajarkan dalam kehidupan beragama.

Membangun kepribadian anak adalah sebuah proses, lingkungan keluarga, sekolah dan teman bermain adalah variabel yang ikut membentuk dan mewarnai tumbuh-kembang anak dan pengharapan (doa) mengandung kekuatan dari seorang yang lemah kepada Yang Maha Kuasa. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.