Sudah beberapa hari ini umat Islam memasuki bulan suci ramadhan. Bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan bagi  kaum Muslimin. Bulan ramadhan melatih umat muslim untuk memberi perhatian kepada waktu, ketika ada banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya. Ramadhan melatih umat muslim untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat, yang mungkin di luar Ramadhan, sering mengabaikan waktu-waktu shalat. Adzan berkumandang di samping kanan kiri telinga, namun kita tetap dengan segala kesibukan, tak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu. Kita biarkan suara muadzin itu memantul di tembok rumah atau kantor, lalu pergi bersama angin lalu. Sedangkan pada bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu suara adzan, minimal adzan maghrib, kita tempel di rumah jadwal imsyakiah,  bahkan kita hapal jadwal imsakiyyah.

Ramadhan melatih umat muslim untuk mempunyai rasa kepedulian dengan sesama manusia.  Dengan rasa lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga. Itulah yang mereka rasakan setiap hari, kadang mereka tidak bisa makan seharian dari siang sampai malam hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Ramadhan juga akan melatih kita untuk menjaga lisan, hati, mata, telinga dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Selama ramadhan kita dilatih untuk menjaga lisan dari kata-kata yang kotor, dari perbuatan membicarakan aib orang lain, dan dari perilaku yang menyakiti hati orang lain. Kita tahan semua perilaku tersebut supaya puasa kita dapat mencapai kesempurnaan, yang tidak hanya menahan lapar dan haus saja. Alangkah ruginya jika selama di bulan Ramadhan perilaku kita sama saja. Mata tidak bisa kita jaga dari melihat hal yang maksiat, lisan kita masih suka membicarakan dan mengunjingkan orang lain. Perilaku kita masih suka menyakiti perasaan orang lain. Tiada gunanya berpuasa kalau kita berbuat zalim/menyakiti hamba-hamba Allah.

Celakalah orang yang berpuasa dengan kezaliman, lawan dari kasih sayang. Mereka bahkan tidak mendapat apa pun untuk dirinya. “Betapa banyaknya yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga,” sabda Nabi Muhammad SAW.  Pada bulan ramadhan Nabi yang mulia memergoki seorang perempuan yang memaki budaknya. Ia memanggil perempuan itu dan menyuruhnya berbuka. Perempuan itu berkata: “Inni shaimah. Aku berpuasa.” “Bagaimana mungkin kamu berpuasa tetapi kamu maki-maki budakmu.” Nabi mengingatkan perempuan itu bahwa bulan ramadhan adalah bulan  kasih sayang, bukan makian. Dilaporkan kepada Nabi tentang seseorang yang selalu berpuasa di waktu siang dan bangun malam untuk shalat tetapi sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Ia menjawab singkat: Dia di neraka!

Selama Ramadhan ini mari  kita kuatkan semangat untuk mengisinya dengan mendalami dan mengamalkan Islam, juga semangat mendekatkan diri kepada Allah, semangat menjalin hubungan baik dengan sesama, dan amal saleh lainnya. Kita bina kasih sayang diantara sesama, saling memaafkan, saling mendoakan, saling berbagi suka dan kebahagiaan, dengan orangtua, keluarga, tetangga, sesama kaum muslimin.

Semoga predikat taqwa sebagai manusia yang suci benar-benar kita raih di akhir ramadhan nanti,  sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Ibarat orang berburu harta karun, semoga di penghujung bulan ramadhan nanti akhirnya kita temukan harta karun berupa berkah, rahmah, dan ampunan ilahi. Dan marilah kita jadikan ramadhan kali ini sebagai ramadhan yang terakhir, agar kita terus termotivasi dalam melakukan amal ibadah di dalamnya.   

Wallahu’alam.  (Penulis Pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang)

Penulis Opini: 
Miftahul Khair.