Keluarga yang sakinah merupakan idaman dari setiap pasangan yang menikah, buat pasangan yang baru menikah bayangan kebahagiaan begitu indahnya melintas dipikiran. Kemudian kelahiran seorang anak tentu akan semakin melengkapi kebahagian itu. Fase kehidupan baru selanjutnya buat pasangan yang menikah kini didepan mata, menjadi seorang ayah dan ibu. Gelar yang indah, dengan sebuah konsekwensi yang luar biasa menciptakan generasi masa depan bangsa dengan mendidiknya (anak-anaknya).

Kehadiran ibu dan ayah ibarat dua kutub baterai, kutub positif dan kutub negatif. Dengan kedua kutub itulah baterai baru dapat berfungsi dengan baik. Untuk berfungsi dengan baik tentulah syarat pertama dan utamanya adalah keluarga tersebut harus sakinah, mawadah wa rahmah (samara). Keluarga yang sakinah terbentuk dari perkawinan yang sah, perkawinan dalam al Quran disebutkan sebagai mitsaqan ghaliza (ikatan yang kokoh). Ikatan yang kokoh antara suami dan istri. Keluarga yang dipenuhi ketenangan, cinta dan kasih sayang, dengan demikian diharapkan fungsi pengasuhan dan pendidikan anak dapat berjalan dengan baik. Kerjasama antara ayah dan ibu dalam mengasuh dan mendidik anaknya akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak, baik aspek motorik, kognitif, emosional maupun sosial. Dengan demikian diharapkan anak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, Al Baidhawi dan al Ashfahani menyatakan bahwa pendidikan (Tarbiyah) berasal dari kata “Rabba” yang berarti menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan atau menumbuhkan perilaku secara bertahap sehingga mencapai batasan kesempurnaan.

Mengingat pentingnya fungsi dari sebuah keluarga, yang dikatakan unit terkecil namun kunci dari keberlangsungan sebuah negara tentu saja pemerintah kita mesti mengambil andil untuk menjaga keutuhan serta berjalannya fungsi ideal dari sebuah keluarga. Untuk upaya tersebut pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) Nomor 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, kemudian Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 3 Tahun 1999 Tentang Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah. Terdapat juga Inpres Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Penyelenggaraan Pembinaan Kualitas Anak. Tahun 2002 Pemerintah mengeluarkan UU Nomor 23 Tentang Perlindungan Anak yang bertujuan terpenuhinya hak-hak anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang.

Jika berbicara tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dalam sebuah keluarga, maka dapat dipastikan ibulah jawabannya. Sehingga tidak jarang jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada anak tersebut maka pihak ibulah yang pertama kali akan disalahkan. Anak yang merupakan anugerah dari Allah adalah tanggung jawab dari kedua orang tuanya yakni ibu dan ayah. Dalam pengasuhan atau pendidikan anak, bukan hanya kehadiran seorang ibu yang diharapkan anak namun juga ayahnya. Pada saat ini ada pergeseran secara sosial dimana seorang ibu ikut berkerja diluar rumah, baik itu untuk membantu perekonomian keluarga maupun sebagai bentuk aktualisasi diri. Kondisi demikian mesti disikapi dengan baik oleh pasangan suami istri agar anak yang dimiliki tidak menjadi korban dari keegoan masing-masing pihak.

Apa saja peran yang dapat dijalankan oleh seorang ayah ? Menurut penelitian Harmaini, Vivik Shofiah, dan Alma Yulianti (2014) di Riau, menurut pandangan anak seorang ayah dapat memainkan tiga peran : Pertama, peran Afeksi berupa perhatian, rasa aman serta membahagiakan. Kedua peran pengasuhan seperti meluangkan waktu, menjaga maupun menasehati, dan peran selanjutnya yakni dukungan finansial seperti memberi makan, uang jajan maupun pemenuhan kebutuhan lainnya. Dalam memainkan ketiga peran tersebut, cara pandang ayah terhadap anaknya dapat mempengaruhi interaksi antar keduanya. Apakah interaksi tersebut penuh kasih sayang atau sekedar pelepasan kewajiban. Kalau saja anak dipandang sebagai penghambat bagi kebebasan maupun perkembangan karier tentu akan berbeda perlakuannya dengan memandang anak sebagai anugerah serta amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.

*Penulis, Pegawai Kantor Kementerian Agama Kab.Sambas

Penulis Opini: 
Riduan Usmayadi